Minggu, 07 Juli 2019

JUSTIN MOTT UP CLOSE & PERSONAL


#CANON 5D MARK III
Cameracanon.blogspot.com – The Jakarta Post February 18, 2015 by Hans David Tampubolon|Jakarta – AWARD-WINNING photographer Justin Mott remembers fondly the day he feel in love with photography and deiced to shift his passion from writing to taking high quality, intimate photos.
“My family all chipped in and bought me a digital camera. So for my birthday, they all paid a little bit of money back then,” he told The Jakarta Post recently when he came to town.
“It must have been 2002 or 2001. I got my first digital camera and I used my free time on Saturdays and Sundays walking around San Francisco doing street photography.”
Now, more than a decade later, Mott, who was born in 1978 in Rhode Island, US, has become one of the world’s most well-known photographers, both for his photo journalism and commercial work.
Most said great photographers spent lots of time with their subjects to really capture them. Once, he spent six years documenting the life of an agent orange victim, a project of which he is truly proud.
His weapon of choice for photography mirrors his philosophy – he isn’t a fan of taking photographs using zoom lenses. Instead, he’d rather be as close as possible to this subject.
CANON 5D MARK III
I use a Canon 5D Mark III and I use all prime lenses, so it depends on the shoot. I shoot videos with it too. If I’m going on an editorial assignment, I might just take a fix 14.14.
If I’m on a wedding shoot, I’ll take more lenses because I have more time. I use prime lenses from the 17 tilt shift to the 24. My favorite lens is the Canon 35 1.4. I spent an entire year just shooting with that lens. It’s the prime lens for me, it makes me move.
Zoom lenses can make you be a lazy photographer so when I go out, this lens makes me move around and really captures the objects. The quality is amazing.
APPS
I use Lightroom. Lightroom is so powerful now. A couple of years ago, it wasn’t but [now] I can do everything I need with my photography with it.
Around 90 percent of editing I do with Lightroom. I use it for commercial jobs, wehre we have to move things or add things. A lot of my photography is natural so there is not a lot of post production. Sometimes I use Photoshop.


DESCRIPTION: award winning photographer Justin Mott remembers fondly the day he feel in love with photography and deiced to shift his passion from writing to taking high quality, intimate photos.
KEYWORDS: premium,camera,gadget,photography,digital, photographers, journalism,lightroom.
TAGS : canon 5d mark III,digital camera.

Kamis, 06 Juni 2019

Memahami Fotografi dengan FPS Tinggi


SAAT perusahaan Olympus mengeluarkan kamera EM1 Mark 2 tipe mirrorless (tanpa cermin) pada awal November lalu, banyak orang bertanya-tanya untuk apa kemampuan rekam dengan kecepatan bingkai yang begitu tinggi. Seperti diberitakan, kamera itu mampu merekam dengan kecepatan bingkai sampai 60 bingkai per detik alias 60 FPS (frames per seconds).
Saat ini, kamera DSLR (digital single lens reflex) hanya mampu merekam gambar sampai 14 FPS. Adanya cermin yang berayun pada DSLR menyulitkan kamera tipe ini untuk bisa merekam dengan FPS lebih tinggi lagi. Sementara itu, rata-rata kamera mirrorless sudah bisa merekam foto dengan kecepatan sampai sekitar 2-fps. Tetapi, sampai 60 fps, sungguh orang lalu bertanya: untuk apa?
Merekam proses
Sesungguhnya, kebutuhan akan merekam dengan fps sangat tinggi sudah dibutuhkan orang sejak dahulu. Kebutuhan ini umumnya menyangkut proses penelitian akan sesuatu yang bergerak. Dalam bidang olahraga, analisis dengan proses stroboskopik, yaitu pemotretran dengan pencahayaan khusus, sering dilakukan untuk mengamati kesalahan-kesalahan gerak atlet.
Di halaman ini terpasang sebuah foto stroboskopik tentang gerakan seorang pemain golf dalam memukul bolanya. Foto jenis inilah yang disebut foto stroboskopik yang merekam aneka gerakan dalam atu bingkai melalui pencahayaan yang berkali-kali dalam waktu singkat.
Sesungguhnya, kemampuan rekam Olympus EM1 Mark 2 itu sangat berguna untuk mengamati gerak seperti yang saya coba saat memotret kejuaraan berkuda ekuisterian cinta Indonesia Terbuka di kompleks berkuda Adria Pratama Mulya, Cikupa, Banten, akhir pekan lalu.
Gerakan kuda melompat dari mulai meninggalkan tanah sampai menjejak tanah lagi terekam dalam 80 bingkai foto. Dari rangkaian foto-foto itu terlihat bagian kaki kuda mana yang menyentuh palang lompatnya.
Dulu orang memakai video untuk merekam gerak, tetapi video yang dibekukan umumnya merupaka nfoto yang tidak bermutu tinggi. Dalam kasus pemotretan fps tinggi ini, tiap bingkai fotonya merupakan foto resolusi tinggi alias berukuran 5.184 x 3.888 piksel alias sekitar 20 megapiksel.
Keunggulan pemotretan dengan fps tinggi seperti ini adalah tiap gerakannya ada dalam bingkai tersendiri, tidak menumpuk seperti pada foto stroboskopik. Selain itu, pemotretan fps tinggi juga tidak memerlukan pencahayaan khusus, bahkan bisa berlangsung di tempat terbuka dan terang.
[*/CCblogspot.com  dari Sumber : Kompas, Selasa, 15 November 2016 ]


DESCRIPTION: Fotografi memang selalu membuka peluang visual. Kemampuan seorang fotografer untuk “mengolah” apa yang dilihatnya sebelum memotret akan sangat memengaruhi hasil pemotretannya
KEYWORDS: FPS,frame per second.
Excerpt : Fotografi buat saya bukan melulu mengenai merekam gambar yang mengharuskan tercapainya focus agar mendapatkan gambar yang tajam. Fotografi adalah sebuah perjalanan yang tak akan selesai, jika kaidahnya hanya diukur dari pencapaian teknis, maka berarti kita telah mematikan jalan panjang fotografi.
TAGS : Olympus EM1 Mark 2,foto stroboskopik,

# Sebanyak 80 foto berurutan sejak kuda mulai melompat sampai mendarat lagi di tanah, termasuk jatuhnya palang halangan, terekam dalam foto-foto yang masing-masing 20 MP.
#Foto terakhir dari rangkaian pemotretan kuda melompat berukuran 20 Mp.

Minggu, 05 Mei 2019

Mudik, Momen Fotografi Berulang


Ada yang mengatakan bahwa foto suasana mudik selalu begitu-begitu saja. Mengapa selalu dipotret lagi? Harian ”Kompas” selalu memuat foto mudik ataupun suasana arus balik dari tahun ke tahun dan memang fotonya hampir mirip dari tahun ke tahun itu.
Mudik Lebaran mulai awal tahun 2000-an marak menggunakan sepeda motor. Kiri atas 2003, kanan atas 2016.
Betul. Suasana mudik memang selalu begitu saja, tetapi sesungguhnya adegan itu adalah penanda zaman. Sebenarnya selalu ada perubahan signifikan dari waktu ke waktu, termasuk bagaimana cara memotretnya. Sampai akhir tahun 1990-an, foto mudik di Kompas biasanya orang berebut masuk bus atau kereta. Walau selalu itu-itu lagi, orang tetap tertawa melihat adegannya. Mulai awal 2000-an, saat sepeda motor makin mudah didapatkan, orang mulai mudik menggunakan sepeda motor. Kompas pertama kali memotret mudik dengan sepeda motor pada 2003 dan sampai tahun lalu, 2016, masih dilakukan dengan berbagai varian. Suasana mudik lain adalah kemacetan parah di jalan yang dilalui pemudik, yaitu jalur pantai utara dan jalur tengah lewat Nagreg, Jawa Barat. Memotret kemacetan tentu membutuhkan sudut pemotretan tinggi. Sebelum Kompas memakai drone, hal itu harus dicapai dengan naik pohon atau naik ke bukit. Kemacetan di Nagreg tahun 2009 dipotret dengan naik bukit, sementara mulai 2015 Kompas sudah memakai drone. Walau memakai drone, foto 2015 dan 2016 ada bedanya. Beda ini sungguh penanda zaman yang menantang kita untuk berpikir tahun 2017 ini. Pada 2015, jalan tol pantura belum mencapai Jawa Tengah sehingga fokus pemotretan masih sekitar Cikampek. Tahun 2016, jalan tol pantura sudah mencapai Brebes, Jawa Tengah, maka pemotretan dilakukan di sana. Pada tahun ini, jalan tol pantura sudah makin ke timur. Pemotretan pasti tidak akan dilakukan di Brebes lagi bukan? Dalam dunia jurnalistik, kejadian yang selalu berulang justru akan selalu diliput karena itu merupakan catatan perubahan. Selalu ada perbedaan dari waktu ke waktu pada adegan-adegan yang dilakukan manusia, apa pun itu. [Sumber : Kompas, Selasa, 20 Juni  2017 | Tips & Catatan |Arbain Rambey]
#Mudik lebaran mulai awal tahun 2000-an untuk menggunakan sepeda motor.,

Kamis, 04 April 2019

Memahami Estetika Foto Jurnalistik


PEKAN lalu, rubrik KLIK telah membahas soal etika dalam foto jurnalistik. Kali ini yang akan kita bahas adalah estetika, atau masalah keindahan visual sebuah foto. Almarhum Kartono Ryadi, redaktur fotografi harian Kompas 1980-1996 dan 2000-2003, mengatakan bahwa foto jurnalistik berhak dan wajib tampil indah.
Kartono Ryadi yang biasa disapa KR ini menegaskan bahwa foto yang biasa-biasa saja tidaklah menarik orang untuk menyerap informasinya. “Koran tidak cuma jualan informasi. Kalau penampilan sebuah koran tidak menarik, orang tidak akan tertarik membaca atau membelinya” kata KR kalau memberikan pembekalan kepada fotografer baru Kompas.
Lebih jauh, KR pernah mengatakan ini, “Kalau memotret usahakan menjauhi kamerawan televisi. Jangan sampai fotomu cuma versi diam dari adegan yang sudah disaksikan orang di televisi.”
Berpikir Beda
Pedoman yang diberikan almarhum KR sebenarnya masalah estetika. Seorang jurnalis foto harus selalu berpikir untuk menghasilkan foto menarik, berbeda dengan karya fotografer lain yang memotret acara yang sama. Bayangkan kalau semua koran memasang foto yang mirip. Sangat membosankan.
Foto Candi Borobudur yang dipotret dari Punthuk Setumbu bisa dikatakan dipopulerkan harian Kompas setelah dimuat sebagai headline pada 2 Januari 2004. Sebelumnya, Candi Borobudur umumnya hanya dipotret dari tempat terdekat. Setelah pemuatan itu, sangat banyak telepon datang ke redaksi menanyakan tempat pemotretan yang kini makin populer setelah muncul di film Ada Apa dengan Cinta 2.
Demikian pula suasana bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 2003 pasca penyerangan Amerika Serikat ke Timur Tengah pada Perang Teluk 2. Pemotretan dengan sudut rendah dengan latar belakang matahari, menghasilkan foto yang tidak sekadar tampak itu suasana bongkar muat.
Akan halnya foto pertandingan voli yang dipotret dari atas Istora, Senayan, Jakarta, sesungguhnya tidak selalu bisa dilakukan karena tergantung adanya tangga yang tersedia. Tangga hanya tersedia biasanya setelah terjadi proses perawatan, dan hanya fotografer yang jeli yang memanfaatkannya. Almarhum Julian Sihombing telah memakai tangga itu sejak awal 1990-an, terutama untuk memotret pertandingan bulu tangkis.
Tak bisa dilupakan suasana demo mahasiswa pada peristiwa Mei 1998 karya Eddy Hasby yang memakai teknik backlight. Demo yang biasanya tampil “menyeramkan”, justru tampil indah. Foto ini juga menjadi sampul sebuah buku tentang peristiwa 1998 itu. [Sumber : Kompas, Selasa, 25 April  2017 | Tips & Catatan |Arbain Rambey]
#Halaman Pertama harian Kompas edisi 2 januari 2004 dengan foto borobuder kaya Eddy Hasby
#Bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Maret 2003
#Pertandingan voli proliga di istra senayan, Jakarta , april 1016

#Demo mahasiswa tahun 1998

DESCRIPTION: perkembangan teknologi yang makin baik membuat makin mudahnya sebuah berita, baik tulis maupun foto, diakses siapa pun. Foto-foto yang menakjubkan dalam waktu singkat sudah menjadi santapan mata dan batin siapa pun yang punya akses atasnya. Di sastu sisi, kemapuan membuat foto bagus mudah “menular” di antara sesame fotografer. Tapi, di sisi lain, muncul pula foto-foto yang menjadi klise karena idenya menjadi terlalu umum. Memagn tak ada penjiplakan secara langsung di sini. Yang ada adalah endapan ide di benak hasil melihat foto lain, lalu ide itu menjadi pemicu saat membuat sebuah foto dalam situasi yang mirip.

Minggu, 03 Maret 2019

FOTO-foto yang Jadi Klise dalam Lingkup Jurnalistika


SEBAGAI contoh pertama adalah foto antrean. Memotret sekadar orang yang berderet menuju suatu titik sungguh membutuhkan pendekatan yang baik agar fotonya tidak tampil membosankan.
Hal pertama yang dicari seorang fotografer saat akan memotret antrean adalah mencari sebuah titik perhatian yang akan menjadi point of interest (POI) fotonya.
Pada keempat foto antrean yang ada di halaman ini terlihat bahwa POI keempat foto adalah “anak kecil yang terjepit”. Apakah keempat fotografer pada keempat foto itu saling meniru? Tidaklah begitu.
Foto “tertua” pada keempat foto itu adalah karya Agus Susanto dari Kompas, yaitu foto yang di kiri bawah. Diambil tahun 2005, foto tersebut menggambarkan antrean minyak tanah. Adapun foto kanan atas adalah foto yang dibuat tahun 2007 pada kelaparan di Pakistan. Foto kiri atas dibuat tahun 2010, juga di Pakistan, saat terjadi banjir besar di negara itu.
Tak ada satu pun dari keempat fotografer antrean yang sempat melihat karya lainnya. Keempat fotografer mendapat ide yang sama dari berbagai sumber, mungkin dari internet atau juga media cetak mana pun.
Sebenarnya, foto antrean dengan menonjolkan anak kecil terjepit di bawah sadar telah menjadi “template” umum di kalangan jurnalis foto. Dan karena sekarang sudah menjadi klise, pendekatan “anak kecil terjepit” sebaiknya memang tidak dipakai lagi.
Pendekatan boneka
Kemudian perhatikan tujuh foto di kelompok bawah halaman ini. Apa yang menonjol?
Boneka! Benar…boneka selalu ada di pojok bawah ketujuh foto itu. Enam foto di sebelah kiri adalah foto-foto dari Timur Tengah. Pada beberapa pengeboman, tentu ada anak keicl yang jadi korban. Dan biasanya “jejak” akan adanya korban anak keicl adalah dari ditemukannya boneka di tempat kejadian.
Seorang fotografer biasanya akan membuat POI pada boneka yang ditemukan itu. Dengan demikian, pas sudah fotonya menceritakan kekejaman perang yang tak kenal usia.
Namun, kalau foto boneka muncul begitu banyak, timbulah pertanyaan: apakah boneka itu benar-benar  ada di lapangan? Apakah tidak mungkin fotografernya membawa boneka sendiri?
Pada foto kanan bawah, pada peristiwa banjir lahar dingin Merapi pun, akhirnya “foto boneka” muncul!
Saat ini dunia teknologi sudah begitu maju. Satu foto yang bagus kan dilihat miliaran manusia. Foto yang idenya mirip dengan foto hebat sebelumnya pelan tapi pasti tidak akan dianggap sebagai foto yang baik. Menghindari foto klise saat ini sudah menjadi kewajiban jurnalis foto mana pun yang ingin maju.
Klise-klise lain
Selain kedua contoh di atas, foto klise lain dalam dunia jurnalistik, misalnay foto jam di tengah bencana. Kita tentu ingat benar saat tsunami Aceh 2004 lalu ada foto jam yang ditemukan di lumpur. Jam itu sudah mati, dan posisi saat dia mati tepat ketika tsunami terjadi. Foto jam ini juga muncul saat gempa Yogya tahun 2006.
Perwarta foto Kompas, Lucky Pransiska, menceritakan bahwa saat dai meliput bencana di Mentawai akhr tahun lalu, beberapa fotografer sudah siap akan “mengatur” sebuah jam yang ditemukan di lapangan.
Dalam kancah foto politik, foto-foto klise antara lain pemukulan gong, pengguntingan pita, atau seorang pemimpin berpidato dengna posisi tangan menunjuk ke atas.
Memang tida ada yang salah dengan foto yang  klise sejauh fotonya bisam enyampaikan pesan dengan baik dan benar. Namun, dalam dunia yagn seharusnya memang makin baik, jurnalis foto di mana pun dituntut untu selalu berpikir, berpikir, dan berpikir saat membuat foto.
Foto adal hberita juga, maka foto yang baik adalah santapan mata dan batin yang sangat baik. [Sumber : Kompas, Selasa, 10 Mei 2011 | Tips & Catatan |Arbain Rambey]

#Dengan kedua kaki palsu, Agus Murtado tetap hidup normal dan berbagai perjalanannya.

#Kedua kaki Agus Murtado adalah kaki palsu

#Melayani Pelanggan

#Dengan ruang kerja sempit dan segala keterbatasan fisik, Agus Murtado bekerja keras mencari nafkah.

#Hanya dengan tangan kanan yang berfungsi normal, Agus Murtado memanfaatkan mulut sebagai pengganti tangan kirinya.

DESCRIPTION: perkembangan teknologi yang makin baik membuat makin mudahnya sebuah berita, baik tulis maupun foto, diakses siapa pun. Foto-foto yang menakjubkan dalam waktu singkat sudah menjadi santapan mata dan batin siapa pun yang punya akses atasnya. Di sastu sisi, kemapuan membuat foto bagus mudah “menular” di antara sesame fotografer. Tapi, di sisi lain, muncul pula foto-foto yang menjadi klise karena idenya menjadi terlalu umum. Memagn tak ada penjiplakan secara langsung di sini. Yang ada adalah endapan ide di benak hasil melihat foto lain, lalu ide itu menjadi pemicu saat membuat sebuah foto dalam situasi yang mirip.
KEYWORDS: antrean,point of interest,poi,jadi klise,lingkup jurnalistik,foto-foto.
TAGS :  Agus Murtado.