Camera Canon , situs pemberi info dan tips serta "guidance" seputar Camera Canon , Camera Canon Selalu menyenangkan!
Rabu, 28 Agustus 2019
Kamis, 08 Agustus 2019
Minggu, 07 Juli 2019
JUSTIN MOTT UP CLOSE & PERSONAL
#CANON 5D MARK III
Cameracanon.blogspot.com – The
Jakarta Post February 18, 2015 by Hans David Tampubolon|Jakarta – AWARD-WINNING photographer Justin Mott
remembers fondly the day he feel in love with photography and deiced to shift
his passion from writing to taking high quality, intimate photos.
“My family all chipped in and bought
me a digital camera. So for my birthday, they all paid a little bit of money
back then,” he told The Jakarta Post recently when he came to town.
“It must have been 2002 or 2001. I
got my first digital camera and I used my free time on Saturdays and Sundays
walking around San Francisco doing street photography.”
Now, more than a decade later, Mott,
who was born in 1978 in Rhode Island, US, has become one of the world’s most
well-known photographers, both for his photo journalism and commercial work.
Most said great photographers spent
lots of time with their subjects to really capture them. Once, he spent six
years documenting the life of an agent orange victim, a project of which he is
truly proud.
His weapon of choice for photography
mirrors his philosophy – he isn’t a fan of taking photographs using zoom
lenses. Instead, he’d rather be as close as possible to this subject.
CANON 5D MARK III
I use a Canon 5D Mark III and I use
all prime lenses, so it depends on the shoot. I shoot videos with it too. If
I’m going on an editorial assignment, I might just take a fix 14.14.
If I’m on a wedding shoot, I’ll take
more lenses because I have more time. I use prime lenses from the 17 tilt shift
to the 24. My favorite lens is the Canon 35 1.4. I spent an entire year just
shooting with that lens. It’s the prime lens for me, it makes me move.
Zoom lenses can make you be a lazy
photographer so when I go out, this lens makes me move around and really
captures the objects. The quality is amazing.
APPS
I use Lightroom. Lightroom is so
powerful now. A couple of years ago, it wasn’t but [now] I can do everything I
need with my photography with it.
Around 90 percent of editing I do
with Lightroom. I use it for commercial jobs, wehre we have to move things or
add things. A lot of my photography is natural so there is not a lot of post
production. Sometimes I use Photoshop.
DESCRIPTION: award winning
photographer Justin Mott remembers fondly the day he feel in love with
photography and deiced to shift his passion from writing to taking high
quality, intimate photos.
KEYWORDS: premium,camera,gadget,photography,digital,
photographers, journalism,lightroom.
TAGS : canon 5d mark III,digital
camera.
Kamis, 06 Juni 2019
Memahami Fotografi dengan FPS Tinggi
SAAT perusahaan
Olympus mengeluarkan kamera EM1 Mark 2 tipe mirrorless
(tanpa cermin) pada awal November lalu, banyak orang bertanya-tanya untuk apa
kemampuan rekam dengan kecepatan bingkai yang begitu tinggi. Seperti
diberitakan, kamera itu mampu merekam dengan kecepatan bingkai sampai 60
bingkai per detik alias 60 FPS (frames
per seconds).
Saat ini, kamera DSLR (digital
single lens reflex) hanya mampu merekam gambar sampai 14 FPS. Adanya cermin
yang berayun pada DSLR menyulitkan kamera tipe ini untuk bisa merekam dengan
FPS lebih tinggi lagi. Sementara itu, rata-rata kamera mirrorless sudah bisa
merekam foto dengan kecepatan sampai sekitar 2-fps. Tetapi, sampai 60 fps, sungguh
orang lalu bertanya: untuk apa?
Merekam proses
Sesungguhnya, kebutuhan akan merekam
dengan fps sangat tinggi sudah dibutuhkan orang sejak dahulu. Kebutuhan ini
umumnya menyangkut proses penelitian akan sesuatu yang bergerak. Dalam bidang
olahraga, analisis dengan proses stroboskopik, yaitu pemotretran dengan
pencahayaan khusus, sering dilakukan untuk mengamati kesalahan-kesalahan gerak
atlet.
Di halaman ini terpasang sebuah foto
stroboskopik tentang gerakan seorang pemain golf dalam memukul bolanya. Foto
jenis inilah yang disebut foto stroboskopik yang merekam aneka gerakan dalam
atu bingkai melalui pencahayaan yang berkali-kali dalam waktu singkat.
Sesungguhnya, kemampuan rekam
Olympus EM1 Mark 2 itu sangat berguna untuk mengamati gerak seperti yang saya
coba saat memotret kejuaraan berkuda ekuisterian cinta Indonesia Terbuka di
kompleks berkuda Adria Pratama Mulya, Cikupa, Banten, akhir pekan lalu.
Gerakan kuda melompat dari mulai
meninggalkan tanah sampai menjejak tanah lagi terekam dalam 80 bingkai foto.
Dari rangkaian foto-foto itu terlihat bagian kaki kuda mana yang menyentuh
palang lompatnya.
Dulu orang memakai video untuk
merekam gerak, tetapi video yang dibekukan umumnya merupaka nfoto yang tidak
bermutu tinggi. Dalam kasus pemotretan fps tinggi ini, tiap bingkai fotonya
merupakan foto resolusi tinggi alias berukuran 5.184 x 3.888 piksel alias
sekitar 20 megapiksel.
Keunggulan pemotretan dengan fps
tinggi seperti ini adalah tiap gerakannya ada dalam bingkai tersendiri, tidak
menumpuk seperti pada foto stroboskopik. Selain itu, pemotretan fps tinggi juga
tidak memerlukan pencahayaan khusus, bahkan bisa berlangsung di tempat terbuka
dan terang.
[*/CCblogspot.com dari Sumber : Kompas, Selasa, 15 November 2016
]
DESCRIPTION:
Fotografi memang selalu membuka peluang visual. Kemampuan seorang fotografer
untuk “mengolah” apa yang dilihatnya sebelum memotret akan sangat memengaruhi
hasil pemotretannya
KEYWORDS: FPS,frame
per second.
Excerpt : Fotografi
buat saya bukan melulu mengenai merekam gambar yang mengharuskan tercapainya
focus agar mendapatkan gambar yang tajam. Fotografi adalah sebuah perjalanan
yang tak akan selesai, jika kaidahnya hanya diukur dari pencapaian teknis, maka
berarti kita telah mematikan jalan panjang fotografi.
TAGS : Olympus
EM1 Mark 2,foto stroboskopik,
# Sebanyak 80 foto
berurutan sejak kuda mulai melompat sampai mendarat lagi di tanah, termasuk
jatuhnya palang halangan, terekam dalam foto-foto yang masing-masing 20 MP.
#Foto terakhir dari rangkaian pemotretan kuda melompat berukuran 20 Mp.
Minggu, 05 Mei 2019
Mudik, Momen Fotografi Berulang
Ada yang mengatakan bahwa foto
suasana mudik selalu begitu-begitu saja. Mengapa selalu dipotret lagi? Harian
”Kompas” selalu memuat foto mudik ataupun suasana arus balik dari tahun ke
tahun dan memang fotonya hampir mirip dari tahun ke tahun itu.
Mudik Lebaran mulai awal tahun
2000-an marak menggunakan sepeda motor. Kiri atas 2003, kanan atas 2016.
Betul. Suasana mudik memang selalu
begitu saja, tetapi sesungguhnya adegan itu adalah penanda zaman. Sebenarnya
selalu ada perubahan signifikan dari waktu ke waktu, termasuk bagaimana cara
memotretnya. Sampai akhir tahun 1990-an, foto mudik di Kompas biasanya orang
berebut masuk bus atau kereta. Walau selalu itu-itu lagi, orang tetap tertawa
melihat adegannya. Mulai awal 2000-an, saat sepeda motor makin mudah
didapatkan, orang mulai mudik menggunakan sepeda motor. Kompas pertama kali
memotret mudik dengan sepeda motor pada 2003 dan sampai tahun lalu, 2016, masih
dilakukan dengan berbagai varian. Suasana mudik lain adalah kemacetan parah di
jalan yang dilalui pemudik, yaitu jalur pantai utara dan jalur tengah lewat
Nagreg, Jawa Barat. Memotret kemacetan tentu membutuhkan sudut pemotretan
tinggi. Sebelum Kompas memakai drone, hal itu harus dicapai dengan naik pohon
atau naik ke bukit. Kemacetan di Nagreg tahun 2009 dipotret dengan naik bukit,
sementara mulai 2015 Kompas sudah memakai drone. Walau memakai drone, foto 2015
dan 2016 ada bedanya. Beda ini sungguh penanda zaman yang menantang kita untuk
berpikir tahun 2017 ini. Pada 2015, jalan tol pantura belum mencapai Jawa
Tengah sehingga fokus pemotretan masih sekitar Cikampek. Tahun 2016, jalan tol
pantura sudah mencapai Brebes, Jawa Tengah, maka pemotretan dilakukan di sana.
Pada tahun ini, jalan tol pantura sudah makin ke timur. Pemotretan pasti tidak
akan dilakukan di Brebes lagi bukan? Dalam dunia jurnalistik, kejadian yang
selalu berulang justru akan selalu diliput karena itu merupakan catatan
perubahan. Selalu ada perbedaan dari waktu ke waktu pada adegan-adegan yang
dilakukan manusia, apa pun itu. [Sumber : Kompas, Selasa, 20 Juni 2017 | Tips & Catatan |Arbain Rambey]
#Mudik lebaran mulai awal tahun 2000-an untuk menggunakan sepeda motor.,
Kamis, 04 April 2019
Memahami Estetika Foto Jurnalistik
PEKAN lalu,
rubrik KLIK telah membahas soal etika dalam foto jurnalistik. Kali ini yang
akan kita bahas adalah estetika, atau masalah keindahan visual sebuah foto.
Almarhum Kartono Ryadi, redaktur fotografi harian Kompas 1980-1996 dan
2000-2003, mengatakan bahwa foto jurnalistik berhak dan wajib tampil indah.
Kartono Ryadi yang biasa disapa KR
ini menegaskan bahwa foto yang biasa-biasa saja tidaklah menarik orang untuk
menyerap informasinya. “Koran tidak cuma jualan informasi. Kalau penampilan
sebuah koran tidak menarik, orang tidak akan tertarik membaca atau membelinya”
kata KR kalau memberikan pembekalan kepada fotografer baru Kompas.
Lebih jauh, KR pernah mengatakan
ini, “Kalau memotret usahakan menjauhi kamerawan televisi. Jangan sampai fotomu
cuma versi diam dari adegan yang sudah disaksikan orang di televisi.”
Berpikir Beda
Pedoman yang diberikan almarhum KR
sebenarnya masalah estetika. Seorang jurnalis foto harus selalu berpikir untuk
menghasilkan foto menarik, berbeda dengan karya fotografer lain yang memotret
acara yang sama. Bayangkan kalau semua koran memasang foto yang mirip. Sangat
membosankan.
Foto Candi Borobudur yang dipotret
dari Punthuk Setumbu bisa dikatakan dipopulerkan harian Kompas setelah dimuat
sebagai headline pada 2 Januari 2004. Sebelumnya, Candi Borobudur umumnya hanya
dipotret dari tempat terdekat. Setelah pemuatan itu, sangat banyak telepon
datang ke redaksi menanyakan tempat pemotretan yang kini makin populer setelah
muncul di film Ada Apa dengan Cinta 2.
Demikian pula suasana bongkar muat
di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 2003 pasca penyerangan Amerika
Serikat ke Timur Tengah pada Perang Teluk 2. Pemotretan dengan sudut rendah
dengan latar belakang matahari, menghasilkan foto yang tidak sekadar tampak itu
suasana bongkar muat.
Akan halnya foto pertandingan voli
yang dipotret dari atas Istora, Senayan, Jakarta, sesungguhnya tidak selalu
bisa dilakukan karena tergantung adanya tangga yang tersedia. Tangga hanya
tersedia biasanya setelah terjadi proses perawatan, dan hanya fotografer yang
jeli yang memanfaatkannya. Almarhum Julian Sihombing telah memakai tangga itu
sejak awal 1990-an, terutama untuk memotret pertandingan bulu tangkis.
Tak bisa dilupakan suasana demo mahasiswa
pada peristiwa Mei 1998 karya Eddy Hasby yang memakai teknik backlight. Demo
yang biasanya tampil “menyeramkan”, justru tampil indah. Foto ini juga menjadi
sampul sebuah buku tentang peristiwa 1998 itu. [Sumber : Kompas, Selasa, 25
April 2017 | Tips & Catatan |Arbain
Rambey]
#Halaman Pertama harian Kompas edisi 2 januari 2004 dengan foto
borobuder kaya Eddy Hasby
#Bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Maret 2003
#Pertandingan voli proliga di istra senayan, Jakarta , april 1016
#Demo mahasiswa tahun 1998
DESCRIPTION: perkembangan teknologi yang
makin baik membuat makin mudahnya sebuah berita, baik tulis maupun foto,
diakses siapa pun. Foto-foto yang menakjubkan dalam waktu singkat sudah menjadi
santapan mata dan batin siapa pun yang punya akses atasnya. Di sastu sisi,
kemapuan membuat foto bagus mudah “menular” di antara sesame fotografer. Tapi,
di sisi lain, muncul pula foto-foto yang menjadi klise karena idenya menjadi
terlalu umum. Memagn tak ada penjiplakan secara langsung di sini. Yang ada
adalah endapan ide di benak hasil melihat foto lain, lalu ide itu menjadi
pemicu saat membuat sebuah foto dalam situasi yang mirip.
Minggu, 03 Maret 2019
FOTO-foto yang Jadi Klise dalam Lingkup Jurnalistika
SEBAGAI contoh
pertama adalah foto antrean. Memotret sekadar orang yang berderet menuju suatu
titik sungguh membutuhkan pendekatan yang baik agar fotonya tidak tampil
membosankan.
Hal pertama yang dicari seorang
fotografer saat akan memotret antrean adalah mencari sebuah titik perhatian
yang akan menjadi point of interest
(POI) fotonya.
Pada keempat foto antrean yang ada
di halaman ini terlihat bahwa POI keempat foto adalah “anak kecil yang
terjepit”. Apakah keempat fotografer pada keempat foto itu saling meniru?
Tidaklah begitu.
Foto “tertua” pada keempat foto itu
adalah karya Agus Susanto dari Kompas, yaitu foto yang di kiri bawah. Diambil
tahun 2005, foto tersebut menggambarkan antrean minyak tanah. Adapun foto kanan
atas adalah foto yang dibuat tahun 2007 pada kelaparan di Pakistan. Foto kiri
atas dibuat tahun 2010, juga di Pakistan, saat terjadi banjir besar di negara
itu.
Tak ada satu pun dari keempat
fotografer antrean yang sempat melihat karya lainnya. Keempat fotografer
mendapat ide yang sama dari berbagai sumber, mungkin dari internet atau juga
media cetak mana pun.
Sebenarnya, foto antrean dengan
menonjolkan anak kecil terjepit di bawah sadar telah menjadi “template” umum di
kalangan jurnalis foto. Dan karena sekarang sudah menjadi klise, pendekatan
“anak kecil terjepit” sebaiknya memang tidak dipakai lagi.
Pendekatan boneka
Kemudian perhatikan tujuh foto di
kelompok bawah halaman ini. Apa yang menonjol?
Boneka! Benar…boneka selalu ada di
pojok bawah ketujuh foto itu. Enam foto di sebelah kiri adalah foto-foto dari
Timur Tengah. Pada beberapa pengeboman, tentu ada anak keicl yang jadi korban.
Dan biasanya “jejak” akan adanya korban anak keicl adalah dari ditemukannya
boneka di tempat kejadian.
Seorang fotografer biasanya akan
membuat POI pada boneka yang ditemukan itu. Dengan demikian, pas sudah fotonya
menceritakan kekejaman perang yang tak kenal usia.
Namun, kalau foto boneka muncul
begitu banyak, timbulah pertanyaan: apakah boneka itu benar-benar ada di lapangan? Apakah tidak mungkin
fotografernya membawa boneka sendiri?
Pada foto kanan bawah, pada
peristiwa banjir lahar dingin Merapi pun, akhirnya “foto boneka” muncul!
Saat ini dunia teknologi sudah
begitu maju. Satu foto yang bagus kan dilihat miliaran manusia. Foto yang
idenya mirip dengan foto hebat sebelumnya pelan tapi pasti tidak akan dianggap
sebagai foto yang baik. Menghindari foto klise saat ini sudah menjadi kewajiban
jurnalis foto mana pun yang ingin maju.
Klise-klise lain
Selain kedua contoh di atas, foto
klise lain dalam dunia jurnalistik, misalnay foto jam di tengah bencana. Kita
tentu ingat benar saat tsunami Aceh 2004 lalu ada foto jam yang ditemukan di
lumpur. Jam itu sudah mati, dan posisi saat dia mati tepat ketika tsunami
terjadi. Foto jam ini juga muncul saat gempa Yogya tahun 2006.
Perwarta foto Kompas, Lucky
Pransiska, menceritakan bahwa saat dai meliput bencana di Mentawai akhr tahun
lalu, beberapa fotografer sudah siap akan “mengatur” sebuah jam yang ditemukan
di lapangan.
Dalam kancah foto politik, foto-foto
klise antara lain pemukulan gong, pengguntingan pita, atau seorang pemimpin
berpidato dengna posisi tangan menunjuk ke atas.
Memang tida ada yang salah dengan
foto yang klise sejauh fotonya bisam
enyampaikan pesan dengan baik dan benar. Namun, dalam dunia yagn seharusnya
memang makin baik, jurnalis foto di mana pun dituntut untu selalu berpikir,
berpikir, dan berpikir saat membuat foto.
Foto adal hberita juga, maka foto
yang baik adalah santapan mata dan batin yang sangat baik. [Sumber : Kompas,
Selasa, 10 Mei 2011 | Tips & Catatan |Arbain Rambey]
#Dengan kedua kaki palsu, Agus
Murtado tetap hidup normal dan berbagai perjalanannya.
#Kedua kaki Agus Murtado adalah kaki
palsu
#Melayani Pelanggan
#Dengan ruang kerja sempit dan
segala keterbatasan fisik, Agus Murtado bekerja keras mencari nafkah.
#Hanya dengan tangan kanan yang
berfungsi normal, Agus Murtado memanfaatkan mulut sebagai pengganti tangan
kirinya.
DESCRIPTION: perkembangan teknologi yang
makin baik membuat makin mudahnya sebuah berita, baik tulis maupun foto,
diakses siapa pun. Foto-foto yang menakjubkan dalam waktu singkat sudah menjadi
santapan mata dan batin siapa pun yang punya akses atasnya. Di sastu sisi,
kemapuan membuat foto bagus mudah “menular” di antara sesame fotografer. Tapi,
di sisi lain, muncul pula foto-foto yang menjadi klise karena idenya menjadi
terlalu umum. Memagn tak ada penjiplakan secara langsung di sini. Yang ada
adalah endapan ide di benak hasil melihat foto lain, lalu ide itu menjadi
pemicu saat membuat sebuah foto dalam situasi yang mirip.
KEYWORDS: antrean,point of
interest,poi,jadi klise,lingkup jurnalistik,foto-foto.
TAGS : Agus Murtado.
Langganan:
Postingan (Atom)







