Rabu, 25 Oktober 2017

MEMAHAMI DEFINISI FOTO BAGUS

Klinik Fotografi


SETIAP penjurian sebuah lombo foto usai, pertanyaan yang selalu muncul adalah apa alasan foti ini memang?
Kalau dianalogikan ke hal lain, begini kira-kira persamaanya; Anda diminta menilai lima piring nasi goreng untuk emnentukan mana yang palign enak. Setelah Anda bisa memilih mana yang paling enak, Anda tentu tidak bisa mengatakan alasan pemilihannya bukan? Enak adalah kata kuncinya, tak ada pertimbangan lain yang bisa dijadikan alasan.
Akan  tetapi, khalayak umum  tentu tidak bisa menerima alasan yang mengatakan foto ini menang karena paling bagus. Pertanyaan selanjutnay yang muncul adalah bagus itu apa definisinya? Secara umum, manusia sengan pada definsi walaupun kadang ida sendiri sering menilai tanpa tahu definisinya.
Sebagai contoh adalah definsi canti kdan definsi nyaman. Orang mudahmengatakan “wah, orang itu cantik” dan “wah, ruangan ini nyaman sekali”, padahal definsi apa itu cantik dan apa itu nyaman rasanya belum pernah ada yang baku.

Bagus, indah, menarik, dan berbicara
Sesungguhnya, untuk memberi definsi apakah sebuah foto itu bagus atau tidak, ada banyak pemikiran. Kili kali ni akan membahasa empat definsi “foto bagus”. Definisi pertama adalah kata “bagus” itu sendiri.

Foto bagus adala hfoto yang sesuai denga ntujuan untuk apa foto itu dibuat. Foto menu yang baik adalah foto makanan yang membuat orang yang melihatnya ingin memakan makanan itu. Foto interior yang bagus adala hfoto ruangan yang membuat orang ingin berada di ruangan itu. Foto perjalanan yang bagus aalah foto yang membuat orang ingin datang ke tempat yang difoto itu.

Foto Candi Borobudur yang menyertai tulisan ini adala hfoto yang indah, artinya foto yang menyenangkan untuk dilihat. Apakah foto Candi Borobudur ini bagus? Tergantung pemikirannya.
Foto Candi Borobudur itu tidak bagus kalau kotesknya adalah untuk lomba foto karena foto dengna sudut pemotretan seperti itu sudah sangat klise. Di Punthuk Setumbu, tempat pemotretannya, tiap pagi puluhan orang memotret dengan hasi lyang kira-kira sama. Ini sudah berlangsung lebih dari 20 tahun di tmepat itu. Foto Candi Borobudur yang dipotret dari Punthuk Setumbu saat matahari terbit adalah foto yang tidak bagus kalau konteksnya untuk lomba meskipun hasil fotonya indah.

Foto yang bagus saat pelantikan Presiden Joko Widodo pada 20 Okotober 2014 adalah foto yang bisa menggambarkan kemeriahan acaranya. Namun, foto itu akan menajdi tidak menarik kalau banyak orang memotret dengan hasil yang hampir sama.

Perhatikan aneka foto berita utama surat kabar di Indonesia pada 21 Oktober 2014. Foto-foto itu semua bagus, tetapi foto di harian Kompas adalah yang menarik. Foto menarik adalah foto yang
lebih menonjol dibandingkan foto lain yang sejenis.

Adapun foto yang berbicara adala hfoto yang mudah dimengerti. Akan tetapi, harus digaris bawahi bahwa mudah dimengerti ini buknalah dalam kadar yagn biasa-biasa saja. Foto yagn berbicara adalah foto yagn mudah dimengerti walau informasinya lebih dari biasa. Sebaga icontoh adalah foto dari Pemilu 2009 yang menampilkan seorang pemilih tidak bertangan sedang memasukkan surat suaranay di Surabaya. Sekilas orang sudah tahu itu foto tentang apa dan apa keistimewaan adegan itu.
[Sumber : Kompas, Selasa, 26 Juli 2016 | Tips & Catatan |Arbain Rambey]


#Foto menarik adalah foto yang “menonjol” dibandingkan foto lainnya. In iadalah aneka foto berita utama surat kabar Indonesia tentang pelantikan Presiden Jokowi pada 21 oktober 2014.
#Foto berbicara adalah foto yagn mudah dimengerti, terutam tentang informasinya yang lebih dari biasa. Ini adalah foto dari Pemilu 2009.



#Foto Indah adalah foto yang menyenangkan untuk dilihat. Ini adalah foto Candi Borobudur diliaht dari tempat yang bernama Punthuk Setumbu.



DESCRIPTION: DALAM dunia foto jurnalistik dikenal adanya esai foto, termasuk untuk memprofilkan seseorang.
KEYWORDS: jurnalistik,dunia foto,esai foto,foto bagus,foto indah,foto menarik,foto berbicara.

TAGS :  definisi foto bagus,memahami.

Perjalanan Menuju Pulau Nusa Kode


Selasa, 10 Oktober 2017

Memahami Estetika Foto Jurnalistik

Pekan lalu, rubrik KLIK telah membahas soal etika dalam foto jurnalistik. Kali ini yang akan kita bahas adalah estetika, atau masalah keindahan visual sebuah foto. Almarhum Kartono Ryadi, redaktur fotografi harian Kompas 1980-1996 dan 2000-2003, mengatakan bahwa foto jurnalistik berhak dan wajib tampil indah.
Kartono Ryadi yang biasa disapa KR ini menegaskan bahwa foto yang biasa-biasa saja tidaklah menarik orang untuk menyerap informasinya. “Koran tidak cuma jualan informasi. Kalau penampilan sebuah koran tidak menarik, orang tidak akan tertarik membaca atau membelinya” kata KR kalau memberikan pembekalan kepada fotografer baru Kompas.
Lebih jauh, KR pernah mengatakan ini, “Kalau memotret usahakan menjauhi kamerawan televisi. Jangan sampai fotomu cuma versi diam dari adegan yang sudah disaksikan orang di televisi.”
Berpikir Beda
Pedoman yang diberikan almarhum KR sebenarnya masalah estetika. Seorang jurnalis foto harus selalu berpikir untuk menghasilkan foto menarik, berbeda dengan karya fotografer lain yang memotret acara yang sama. Bayangkan kalau semua koran memasang foto yang mirip. Sangat membosankan.
Foto Candi Borobudur yang dipotret dari Punthuk Setumbu bisa dikatakan dipopulerkan harian Kompas setelah dimuat sebagai headline pada 2 Januari 2004. Sebelumnya, Candi Borobudur umumnya hanya dipotret dari tempat terdekat. Setelah pemuatan itu, sangat banyak telepon datang ke redaksi menanyakan tempat pemotretan yang kini makin populer setelah muncul di film Ada Apa dengan Cinta 2.
Demikian pula suasana bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 2003 pasca penyerangan Amerika Serikat ke Timur Tengah pada Perang Teluk 2. Pemotretan dengan sudut rendah dengan latar belakang matahari, menghasilkan foto yang tidak sekadar tampak itu suasana bongkar muat.
Akan halnya foto pertandingan voli yang dipotret dari atas Istora, Senayan, Jakarta, sesungguhnya tidak selalu bisa dilakukan karena tergantung adanya tangga yang tersedia. Tangga hanya tersedia biasanya setelah terjadi proses perawatan, dan hanya fotografer yang jeli yang memanfaatkannya. Almarhum Julian Sihombing telah memakai tangga itu sejak awal 1990-an, terutama untuk memotret pertandingan bulu tangkis.

Tak bisa dilupakan suasana demo mahasiswa pada peristiwa Mei 1998 karya Eddy Hasby yang memakai teknik backlight. Demo yang biasanya tampil “menyeramkan”, justru tampil indah. Foto ini juga menjadi sampul sebuah buku tentang peristiwa 1998 itu.

Sabtu, 09 September 2017

Memotret dan Memandang Foto: Tiga Lapisan Visual

# Tampak subyektif Subyek-yangmemandang Subyekyang-memotret
Dalam buku Kisah Mata, Fotografi antara Dua Subjek: Perbincangan tentang Ada (2005), berdasarkan pengakuan para juru foto dalam Photography Speaks (Brooks, 1989) maupun analisis para pengamat fotografi (Barthes, Berger, Messaris, Soerjoatmodjo, Sontag, Strassler), saya telah mempertegas padan-paralel keber-Ada-an (1) juru foto dengan obyek fotonya di satu pihak; (2) pengamat foto dengan foto yang menjadi obyek pengamatannya di pihak lain; dan dalam peleburan abstraksinya masih mendapatkan kebergandaan Ada. Dalam Kisah Mata Edisi 2 (2016), saya menepis perlunya peleburan abstraksi atas paralelitas padan Juru Foto–Obyek Foto dan padan Pemandang Foto–Karya Foto untuk menemukan Ada. Namun, saya menambahkannya dengan perbincangan tentang lapisan-lapisan visual yang berkemungkinan ditembus seorang juru foto, dalam proses menuju momentum klik! Baru saya sadari kemudian, saya belum memperbincangkan padanannya: Apa yang berlangsung pada pemandang foto ketika memandang foto? Di sini catatan itu saya teruskan, sekaligus mengujikannya kepada diri sendiri, dengan menjadikan foto-foto Senjakala Kalijodo karya RA Vadin sebagai obyek pengamatan. Betapapun, saya hanya mungkin sampai kepada perbincangan itu jika mengulanginya dengan lebih tertata, seperti berikut.
Tampak Dunia bagi Juru Foto
Terdapat tiga lapisan konseptual di depan mata manusia yang menentukan makna ketertampakan di hadapannya. Lapisan pertama adalah Tampak Optis bagi mata tak buta Pada Tampak Optis, hanya terdapat makna obyektif—jika masih bisa disebut makna—bahwa apa pun yang terjangkau oleh daya tangkap mata akan terlihat. Disebut obyektif, karena ketertampakan hadir oleh fungsi mata sebagai instrumen, yakni alat untuk melihat. Dalam hal ini, manusia non-subyek, karena pikirannya tidak bekerja sebagai subyek, tetap dapat melihat karena matanya memang berfungsi, tetapi yang dilihatnya tak dapat hadir sebagai makna. Ibarat kata mobil datang ke arahnya, tak akan disadari sebagai bahaya, meski dapat dilihatnya—karena ketertampakan hadir sebatas Tampak Optis. Lapisan kedua adalah Tampak Kultural Pada Tampak Kultural, pencerapan menghadirkan ketertampakan ke dalam dua kategori, yakni (a) Tampak Visual Dikenal, jika ketertampakannya bermakna, seperti daun yang dikenalinya sebagai daun, dan daun ini akan bermakna baginya sejauh pengenalannya atas eksistensi daun; dan (b) Tampak Visual Tak Dikenal, jika ketertampakannya tidak menjadi makna, seperti pemulung melihat buku-buku sebagai tumpukan kertas yang bisa dijual kiloan, dan bukan karena isinya. Buku bermakna terutama karena isinya, tetapi bagi pemulung makna buku tergantung seberapa berat kertasnya. Suatu obyek dikenal atau tak dikenal tertentukan oleh konstruksi budaya Subyek-yang-Memandang, yang jika kemudian memotret akan disebut Subyek-yang-Memotret, karena akan sampai pada lapisan selanjutnya. Lapisan ketiga adalah Tampak Fotografis Pada Tampak Fotografis, ketertampakan menjadi khusus, yakni hadir dalam seleksi keinginan dan kebutuhan seorang juru visual, dalam hal ini juru foto, apakah ia seorang pewarta, dokumentalis, peneliti, pengiklan, atau seniman foto. Faktor keinginan akan mencerap (a) Tampak Personal, dan faktor kebutuhan akan mencerap (b) Tampak Fungsional. Dalam kategorisasi makna seperti ini, ketertampakan visual dapat dipilih dari yang dipilah, tapi dapat pula terleburkan, jika suatu obyek memenuhi keinginan dan kebutuhan sekaligus—sehingga Tampak Personal sekaligus hadir sebagai Tampak Fungsional. Seorang pewarta foto yang tidak berselera memotret pipa-pipa baja akan tetap memotretnya jika tugas menuntutnya, dan dengan suka hati memotret aktris favoritnya, ada maupun tidak ada penugasan untuk itu; sama seperti seorang ilmuwan dengan lensa mikro memotret, misalnya, unsur-unsur pembentuk spesies cacing pita baru.
Tampak Foto bagi Pemandang
Kesahihan Subyek-yang-Memandang berlangsung dalam proses yang sepintas lalu merupakan kebalikannya, yakni mulai dari fotonya, tetapi bukan untuk menjejaki proses yang sudah dilalui juru foto, melainkan untuk membongkarnya dalam pembermaknaan Subyek-yang-Memandang. Saya kira proses menuju foto pun melalui lapisan visual pertama, yakni Tampak Optis, tempat saya sebagai pemandang foto proyek Senjakala Kalijodo karya RA Vadin, menyelusuri setiap bingkai foto dalam ketertampakannya yang hitam-putih, dengan hanya satu foto berwarna sebagai foto yang terakhir. Memasuki lapisan kedua, saya kenali puing-puing penggusuran, yang memperlihatkan sejumlah penanda seperti botol-botol minuman keras, poster perempuan seksi, bekas bar, gambar perempuan yang diperlihatkan payudaranya, konstruksi ”tempat tidur” semen bertuliskan FOR SEX yang semestinya terdapat kasur di atasnya—foto-foto ini saya kira berhasil menunjukkan bahwa tempat yang digusur itu adalah wilayah kehidupan malam, bahkan lebih spesifik lagi daerah hitam atau lampu merah. Meskipun begitu, saya kenali pula penanda-penanda yang terdudukkan untuk bermakna sebaliknya, bahwa terdapat ”orang-orang biasa” yang sebagaimana warga khalayak mana pun berangkat kerja pada pagi hari, anak-anak mereka bersekolah dan mendapat ijazah, beribadah, tetapi ikut tergusur—foto-foto ini bagaikan artefak masa lalu bagi lokasi Kalijodo masa kini, yang telah menjadi pusat rekreasi serba positif dan modern, seperti ditunjukkan foto terakhir yang berwarna, bagaikan antitesa peradaban tubuh nan naluriah dalam istilah ”profesi tertua”. Secara keseluruhan foto-foto ini meruapkan kondisi kumuh, yang tampak ironis dalam kecemerlangan digitalnya. Keterpukauan atas pencapaian teknologi itu tak tersingkirkan oleh fakta muram yang merupakan informasi foto-fotonya, karena secara visual memang tak dapat diingkari. Foto-fotonya terlalu bersih untuk tempat kumuh. Hitam-putihnya masih dramatik, seperti karakter spesifik hitam-putih, tetapi hitam-putih metalik. Itulah Tampak Visual Dikenal bagi saya, selebihnya bukan tak terlihat, melainkan masuk kategori Tampak Visual Tak Dikenal, yang sangat mungkin merupakan gejala kekebalan, alias ”sudah immune”, akibat terlalu seringnya melihat foto penggusuran. Memasuki lapisan ketiga, Tampak Fotografis bagi Subyek-yang-Memotret, saya kira dapat menjadi Tampak Subyektif bagi Subyek-yang-Memandang, karena kategori Tampak Personal maupun Tampak Fungsional tergantung dan tertentukan oleh kedudukan atau sudut pandang Subyek-yang-Memandang itu. Dalam hal saya, Tampak Personal maupun Tampak Fungsional terleburkan dan mengarah kepada hanya satu foto. Dalam seluruh ruang bingkai foto itu hanya terdapat satu lukisan.
”Jaka Tarub”: Lukisan, Repro, Foto

Adapun lukisan itu sendiri cukup terkenal, jika tidak sangat dikenal, dan sangat saya kenali, sehingga tentunya dengan seketika berada di lapisan kedua, bahkan satu-satunya yang masih tampak pada Tampak Subyektif sebagai lapisan ketiga. Lukisan itu berjudul ”Jaka Tarub” (cat minyak di atas kanvas, 170 cm x 255 cm), karya Basuki Abdullah, yang paling sering mengalami reproduksi, baik dalam cetakan maupun dilukis ulang, sampai menjadi klise atas tema tersebut. Dalam foto Vadin, gambar itu mengalami cropping, dan tersematkan pada dinding berlapis tegel. Bagaimana gambar ini mendapatkan maknanya dalam konteks penggusuran daerah lampu merah Kalijodo? (Lukisan ”Jaka Tarub” dan foto atas reproduksinya di Kalijodo sebelum digusur dapat dilihat di https://duniasukab.com/?p=1100 atau http://wp.me/p44nD-hK). Pertama, jika legenda lahirnya nama Kalijodo memang tentang jodoh, atau pencarian jodoh, maka Jaka Tarub yang mengintip tujuh bidadari mandi itu mendapatkan jodoh bidadari dengan mencuri busana salah satunya, karena membuat bidadari bernama Nawangwulan itu tak bisa terbang pulang. Kedua, terhadap para pekerja seks komersial, yang menjadi obyek pemerasan sindikat prostitusi, identifikasi diri sebagai bidadari yang kehilangan busana itu mungkin. Keterbukaan tubuh-tubuh bidadari itu juga sangat mungkin membuat reproduksi lukisan Jaka Tarub terpasang di sana. Betapapun, cerita dari lukisan itu terbandingkan dengan kondisi mereka. Ketiga, bahwa Nawangwulan menemukan busana di lumbung yang kosong padi, sehingga bisa terbang pulang ke asalnya, menjadi impian yang bisa diharapkan terjadi kepada mereka, sehingga lukisan itu mendapatkan maknanya. Keterhubungan antara kisah bidadari dalam lukisan itu, dan nasib perempuan pekerja seks komersial, sahih sebagai produk bongkar-pasang berbagai pertimbangan dalam wacana penggusuran di Kalijodo, obyek foto-foto RA Vadin. Dalam wacana seperti itulah, foto yang satu ini hadir sebagai Tampak Subyektif, bagi saya sebagai Subyek-yang-Memandang. Bagi saya, inilah jalan bagi Subyek-yang-Memandang, untuk memberlangsungkan pembermaknaannya sendiri, tanpa harus mengacu—apa lagi tergantung sepenuhnya—kepada Subyek-yang-Memotret sebagai sumber makna, yang memang tidak perlu dianggap tersahih. Jadi bukan hanya pengarang yang mati ketika tulisannya dibaca, tetapi juga juru foto ketika hasil pemotretannya dipandang, yang juga berarti dihidupkan.[Kompas15 Jul 2017SENO GUMIRA AJIDARMA Wartawan]

Selasa, 08 Agustus 2017

Assalammualaikum, Salar

AVONTUR | FOTO PEKAN INI
SALAR merupakan salah satu etnis minoritas yang beragam Islam di Tiongkok. Etnis Salar mendiami wilayah Kabupaten otonomi Etnis Salar Xunhua yangterletak di timur laut Xining, ibu kota Provinsi Qinghai. Dibutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan menggunakan bus menuju Salar dengna melintasi jalan berkelok menyusuri tebing, berpadu dengan keindahan alam berupa gugusan pegunungan. Nama Salar diyakini berasal dari nama suku Turkmenistan yang dipanggil dengan “Salor”.
Sebagian besar warga yang bermukim di pinggiran Sungai Kuning ini bermatapencaharian sebagai petani dan pedagang.
Masjid Gaizi merupakan masjid bear yang menyimpan sejarah panjang etnis Salar. Di dalam museum di kompleks masjid itu tersimpan Al Quran bertulis tanagn yang jadi identitas mereka.
Unta putih menjadi lambang dari etnis Salar. Patung unta putih di Camel Spring diyakini sebagai awal mula etnis Salar di wilayah itu. Banyak versi cerita tentang sejarah etnis Salar. Namun, menurut cerita masyarakat setempat, adalah dua saudara laki-laki yang berkelana mencari daerah baru dengan seekor unta putih yangmembawa sebuah tas berisi tanah, sebotol air, dan kita suci Al Quran dari tanah air mereka. Hingga suatu malam unta putih itu menghilang dan ditemukan telah menjadi patung. Namun, tas berisi tanah, air, dan Al Quran itu tetap utuh di punuknya. Air dan tanah yang dibawa sama dengan air dan tanah di lokasi tesebut sehingga mereka memutuskan untuk menetap di wilayah itu.[*/CANONKAMERABLOGSPOT.COM -  Sumber : Kompas, Minggu, 9 Oktober 2016 | Teks dan Foto Oleh : Raditya Priyombodo]
KEYWORDS:   memori kelam,terus terulang.
TAGS: keputusasaan,ketakuan,cerita memilukan,Kamp 21,Museum Tuol Sleng.
DESCRIPTION :  
Excerpt : Alat-alat penyiksaan, bercak darah, dan coretan tembok yangmengisahkan ketakutan dan keputusasaan menjadi cerita memilukan saat pengunjung melangkah menyusuri sudut museum Tuol Sleng.

# Refleksi menara Masjid Gaizi di sumber air Camel Spring
#Sejarah Etnis Salar di tembok pagar Camel Spring
#Remaja muslim Salar
#Muslim Salar menuju masjid untuk menunaikan shalat Ashar berjemaah.
#Wanita Salar menikmati keindahan di pinggiran Sungai Kuning.



Jumat, 07 Juli 2017

Memori Kelam yang Terus Terulang

AVONTUR | FOTO PEKAN INI
PADA masanya, bangunan bertingkat yang bercat putih kusam itu adalah sebuah sekolah menengah pertam Tyol Svay Prey di kota Phnom Penh, Kamboja. Hingga pada April 1975 ata perintah Pol Pot yang memimpin rezim Khmer Merah, sekolah dibuah menjadi sebuah penjara manusia.
Penjara yang dinamai S21 (security office) Tuol Sleng menjadi ruang-ruang penyekapan dan penyiksaan bagi ribuan orang. Mereka terdiri dari politikus, dokter, akademisi, pengacara, biksu hingga pelajar. Alat-alat penyiksaan, bercak darah, dan coretan tembok yang mengisahkan ketakutan dan keputusasaan menjadi cerita memilukan saat pengunjung melangkah menyusuri sudut museum Tuol Sleng.
Pengunjung yang masuk akan dibekali sebuah alat bantu untuk mendengarkan narasi bagaimana para tahanan diperlakukan seara tidak manusiawi oleh tentara Khmer Merah di dalam kamp penyiksaan. Pembantaian kelas menengah yang dilakukan oleh rezim Pol Pot kala itu di kamp S21 untuk menghapus pengaru hdari pengikut rezim Lon Nol.
Anna (37), turis dari Inggris, yang duduk di tengah ruangan denga peanti dengarnya menatap tajam foot puluhan wajah perempuan dan anak yang turut menjadi korban. Menurut dia korban kekejaman pembunuhan yang jauh dari nilai kemanusiaan akiabat dari perbedaan pandangan politik , agama, dan suku masih berlangsung di sejumlah belahan dunia sampai detik ini.
Seperti tujuan museum Tuol Sleng ini diepertahankan utnuk mengingatkan dan mengisahkan bagaimana nilai-nilai kemanusiaan tidak ada saat itu. “Bentuk kekejaman yang tidak manusiawi seolah tidak bisa berhenti sampai sekarang hanya berubah wujud, cara, dan berpindah-pindah tempat. “ katanya. [*/CANONKAMERABLOGSPOT.COM -  Sumber : Kompas, Minggu, 21 Agustus 2016 | Teks dan Foto Oleh : Raditya Mahendra Yasa]

KEYWORDS:   memori kelam,terus terulang.
TAGS: keputusasaan,ketakuan,cerita memilukan,Kamp 21,Museum Tuol Sleng.
Excerpt : Alat-alat penyiksaan, bercak darah, dan coretan tembok yangmengisahkan ketakutan dan keputusasaan menjadi cerita memilukan saat pengunjung melangkah menyusuri sudut museum Tuol Sleng.

# Wajah-wajah beku korban
#Memori kelam kamboja
#Bayangan Kekejaman
#Ruang-ruang penjara
#Lorong Kematian



Selasa, 06 Juni 2017

Senandung Sunyi Kematian Pabrik Mori

AVONTUR |FOTO PEKAN INI
#Terbunuh

#Terkunci
#Terdiamkan
# Tertutupi
#Terbisu
Cameracanon.blogspot.com BANGUNAN  megah itu berdiri gagah menghadap utara. Ornament semi-art deco berbaur dengan gaya arsitektur era 1970-an menghias di sana-sini. Namun, kegagahan dan keelokan gaya bangunan itu hanya menjadi sisa sedikit yagn tampak. Kini, aura bangunan itu jauh lebih buruk dari yang seharusnya tergambarkan. Lusuh dan tak terawat.
Itulah gambaran kondisi bangunan pabrik kain cambric (kain mori) PC Rukun Batik, Ciamis, Jawa Barat, yang mati dan sempat berganti menjadi pabrik busa hingga tahun 1997. Kain mori menjadi salah satu bahan baku batik Ciamis.  Di saat yang sama, kondisi batik itu pun terseok di antara geliat liat usaha batik di Priangan, sperti Tasikmalaya dan Garut. Ilalang hampri memenuhi setiap sudut lubang jendelanya. Barisan semut yang bersemai di antara rerimbunan, kelepar sayap kelelawar, dan sesekali burugn wallet yang singgah menjadi kegaduhan dari denyut kehidupan yang kini ada.
Tulisan “PC Rukun Batik” di atas bangunan masih menancap, namun berkarat. Mesin-mesin besar tak lagi bergerak berirama memproduksi ribuan meter kain. Kaca-kaca pecah di sana-sini.

Matinya pabrik mori itu turut menjadi penanda era surutnya kehidupan perbatikan di Ciamis. Gempurang kain printing motif batik dari China yang gelombangnya mulai besar masuk ke Indonesia sejak 1980-an membuat batik Ciamis nyaris tinggal cerita. Meski masi hmenyisakan segelintir tenaga yang berusaha menyelamatkan warisan keeokan motif batik mereka, tetapi kini tak sesemarak lampau. Pabrik kain mori yang mati itu menjadi penandanya. [Kompas, Minggu 7 Agustus  2016 |Teks dan Foto Rony Ariyanto Nugroho ]