Sabtu, 05 Mei 2018

“Harga” Wajah pada Foto Jurnalistik

KLINIK FOTOGRAFI
Tips & Catatan |ARBAIN RAMBEY
WAJAH Kanselir Jerman Angela Markel yang terpotong pada harian Kompas edisi 21 September lalu, juga wajah beberaap kepala negara di kompas edisi 23 September lalu, memancing beberapa pertanyaan. Mengapa wajah mereka tidak ditampilkan utuh? Mengapa dipotong seperti itu?
Juga, mengapa wajah Angela Merkel ditampilkan dalam format landscape (mendatar), bukan format portrait selayaknya format wajah manusia normal? Dalam fotografi umum, format foto ada dua, yaitu landscape alias mendatar yang umumnya untuk foto-foto pemandangan serta format portrait alias vertical yang umunya untuk foto wajah manusia (potret).
“Human interest”, potret, dan “headshot”.
Dalam foto jurnalistik, ada beberapa macam foto tentang manusia. Yang paling populer adalah kategori human interest alias foto tentang manusia dan kegiatannya. Selain human interest, ada pula kategori potret (portrait), yaitu profil seorang/sekelompok manusia. Beda human interest dan potret adalah pada kegiatannya. Pada human interest, sang terportret berinteraksi dengan orang lain atau sesuatu yang sedang dilakukannya. sedangkan pada potret, interaksi sang terpotret hanya pada pemotret.
Kategori potret punya subkategori, yaitu headshot alias foto semata wajah. Headshot umumnya dipasang jsutru untuk orang yang wajahnya yang sudah dikenal, sebagai penegasan sebuah berita, atau untuk memberikan penekanan bahwa berita yang disertai sebuah headshot adalah berita penting.
Dengan kondisi demikian, sebuah headshot kadang bisa berukuran sangat kecil. Bisa dibayangkan kalau foto headshot yang berukuran sangat kecil masih harus menampilkan kepala manusia utuh sampai ke rambut-rambutnya. Wajah yang tersisa menjadi sangat sedikti bukan?
Dalam dunia foto jurnalistik, wajah seorang manusia diwakili area dari sedikit di atas alis (batas atas) sampai sedikit di bawah bibir (batas bawah).
Di luar area ini, biasanya bisa dibuang, seperti headshot Krisdayanti dan Maia di halaman ini yang memotong dengna tujuan artistic semata. [*/CCblogspot.com  dari Sumber : Kompas, Selasa, 27September 2016 ]

DESCRIPTION: untuk bisa memahami tulisan ini, mohon jangan membaca teks foto-foto yang ada sebelum membaca tulisannya.
KEYWORDS: format portrait,format landscape,potret,headshot,foto jurnalistik.
Excerpt : Definisi foto yang berbicara adalah foto yang mudah dipahami, tetapi informasinya leibh dari biasa. Kalau sekadar mudah dipahami, misalnya foto sebuah pena tergeletak di meja, itu tentu bukanlah foto yang berbicara!.
TAGS :  foto headshot,foto jurnalistik.

#Petani membuang susu hasil peternakannya di Ciney, Belgia, rabu (19/9/2009). Total susu yang dibuang 3 juta liter sebagai protes atas harga jual susu yang dipatok pemerintahnya.
#Ester Yustita(22)  tetap bersemangat menggunakan hak pilihnya dalam pemilu legislative meskipun harus menggunakan kakinya untuk mencontreng dan memasukkan surat suara di TPS 83 Kelurahan Pakis, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/4/2009).
#Pembonceng  nekat duduk di atas kardus yang diikat ke sadel sepeda motor di Jalan Cipondoh, Tangerang, Selasa (29/12/2009)
#Fotografer menyiapkan kameranya untuk pemotretan pas foto di sebuah tempat di Kabul, Afganisstan, Minggu (21/9/2003). Pemerintahan setempat mewajibkan wanita memakai burka.


Rabu, 04 April 2018

Memahami Makro lensa Lebar

Klinik Fotografi
Tips & Catatan |Arbain Rambey
SELAMA ini fotografi makro selalu identik dengna pemakaian lensa tele, atau lensa yang panjang fokalnya lebih dari 50mm. lensa makro terpendek yang ada adalah lensa 55mm, sementara yang terpnajnga ada yang sampai sekitar 150 mm. Dan, guyonan yang sering mengemuka pada dunia fotofrafi makro adalah, “Makro pakai lensa lebar, itu baru gagoan..”.
Kini guyonan itu tampaknya harus berakhir. Saya menemukan sebuah lensa buatan RRT yagn panjagn fokalnya 15mm (fixed lens), tetapi menyandang predikat sebagai lensa makro.
Dengan merek yang sama sekali baru tedengar di jagat fotografi, Laowa, lensa 15 milimeter makro ini menimbulkan tanda Tanya. “Mengapa baru sekarang ada? Apakah secara optic dulu belum memungkinkan? Apakah makro lensa lebar ini memagn bisa ada atau hanay taktik dagang semata?”
Satu hal yang pasti adalah, lensa yang saya coba in iadalah untuk format “full frame”, luas untuk sensor berukurang 36 mm x 24 mm. walau bisa dipakai untuk sensor APSC, percobaan yang saya lakukan adalah pada kamera D4S yang full frame.
Benda yang saya potret secara makro adalah sebuah patung manineko setinggai sekita 2 cm, dan sebagai pembanding saya juga memotret memakai lensa makro 135 mm ditambah sebuah makro extender.
Percobaan saya membuktikan bahwa lensa lebar (bahkan sangat lebar) sangat mungkin menjadi lensa makro, bahkan dengan keunggulan “depth of field” (DOF)-nya cukup dalam. Memotret makro dengnal ensa lebar jauh lebih mudah daripada memotret makro memakai lensa tele yang DOF-nya tipis. Perhatikan perbandingan dua pemotretan yang saya lakukan.
Pertanyaan mendasar lain yang cukup penting adalah, “Bagaimana distorsinya?””
Lensa super lebar makro yang saya pakai terbukti tidak memiliki distorsi berarti say saya pakai utnuk memotret makro 1:1. Huruf Koran yagn saya potret reltif tetap lurus. Namun, pada pemotretan benda tiga dimensi, distorsi tentu terjadi akbiat sudut pandang yang terjadi. Makro memakai tele tentu berjarak terhadap subyeknya, Sementara makro dengna lensa lear tentu mendekati subyeknya dengan sangat dekat, bahkan dalam kasus saya di atas sampai sekitar 1 cm saja.
[*/Tukang-Jalan.com from ARB]

 [Sumber : Kompas, Selasa, 13 September 2016 ]

DESCRIPTION:.
KEYWORDS: fotografi makro,lensa lebar,full frame,macro extender,depth of field,fixed lens.
TAGS : full frame D4S,Laowa 15mm makro,
#Lensa lebar makro pertama di dunia, Laowa 15mm, terpasang pada kamera full frame D4S
#Pemotretan Makro 1:1 dengan Laowa 15 mm pada kamera full frame menunjukkan distorsi yang minim walau lensanya adalah lensa sangat lebar.
#Pemotretan Makro memakai lensa 105 mm dilengkapi macro extender pada kamera full frame menampilkan depth of field yang sangat dangkal.
#Pemotretan Makro memakai Laowa 15mm makro memakai kamera full frame D4S. latar belakang masih memiliki detai lsedikita karena lensa lebar memagn memililkiki depth of filed yang dalam.


Sabtu, 03 Maret 2018

Bahasa Visual dan Muatan Cerita Sebuah Foto

KLINIK FOTOGRAFI
Tips & Catatan |ARBAIN RAMBEY
DALAM dunia foto jurnalistik, sering terlontar frase “foto yang berbicara”. Orang mudah mengatakan frase ini, tetapi sesungguhnya pemahaman akan foto yang berbicara bukanlah hal yang mudah karena sesungguhnya sebuah foto berbicara dengan bahasa visual, alias informasinya masuk ke benak terutama lewat mata.
Definisi foto yang berbicara adalah foto yang mudah dipahami, tetapi informasinya leibh dari biasa. Kalau sekadar mudah dipahami, misalnya foto sebuah pena tergeletak di meja, itu tentu bukanlah foto yang berbicara.
Sebagai contoh adalah foto seroagn wanita sedang memasukkan suara ke dalam kotak suara dalam Pemilu 2009 lalu.
Foto ini berbicara karena orang langusng tahu bahwa itu adalah foto pemilu dengna segal atrib utnya. Informasi menjadi kuat karena sang pelaku adalah wanita berkebutuhan khusus. Foto ini menjadi “sangat berbicara” karena pelakunya, suasananya, dan gesture pelakunya (yaitu sedang memasukkan surat suara). Kalau pemotretan dilakukan saat pelaku sedang diam tersenyum, “rasa” foto tentu menjadi hambar.
Misalkan yang memasukkan suara adalah manusaia biasa, walau pemotretan juga dilakukan dilakukan saat dia memasukkan surat suara ke kotak, foto itu tetap mudah dimengerti, tetapi informasinya menjadi tidak istimewa. Akibatnya, fotonya dianggap tidak “berbicara”.
Dalam kasus foto pemilu tadi, foto menjadi makin kuat setelah orang membaca teksnya. Informasinya kemudian menjadi lengkap karena nama orang, lokasi, dan kondisi lain tidak mungki nditampilkan secara visual.
Demikian pula foto orang naik sepeda motor di atas kardus. Anda tentu langsung paham bukan? Dan, setelah membaca teksnya, anda makin tahun tentang foto tersebut.
Latar belakang pengetahuan
Untuk memahami sebuah foto, dibutuhkan pemahaman dasar terlebih dahulu. Foto Pemilu di atas tentu tidak akan dipahmi orang yang berlum pernah tahu apa itu pemilu. Foot orang naik sepeda motor tentu tidak akan dipahami kalau foto itu dilihat penduduk pedalaman yang sama sekali belum pernah melihat sepeda motor.
Perhatikan foto wanita berburka dan tukang foto. Foto tesebut dibuat oleh fotografer yang merasa bahwa membuat pasfoto tetapi tetap mengenakan burka adalah hal yang aneh. Foto itu tentu tidak aneh bagi penduduk tempat foto itu dibuat bukan?
Foto hanya akan berbicara bagi orang tertentu yang punya pemahaman cukup untuk foto tersebut. Dengan kata lain, foto tidak mungkin berbicara bagi semua orang. Dalam kasus foto wanita berburka tadi, foto tidak mungkin dipahami orang yang belrum pernah membuat pasfoto bukan?
Seorang jurnalis foto sebaiknya paham untuk level mana fotonya dibuat: untuk SMA ke atas, utnuk sarjana ke atas, atau anak SD pun sebaiknya bisa paham.
Dan, kasus terakhir adalah foto garis-garis putih di padang rumput. Silakan anda berpikir itu foto apa, kemudian bacalah teksnya.
Anda tentu berpikir: wah foto itu tidak berbicara sama sekali. Tetapi, ocba anda berpikir sebaliknya. Anda diminta memotret petani yang protes dan membuang susunya. Foto seperti apa yang akan anda ambil agar orang paham pada foto Anda?[*/Tukang-Jalan.com  dari Sumber : Kompas, Selasa, 20 September 2016 ]

DESCRIPTION: untuk bisa memahami tulisan ini, mohon jangan membaca teks foto-foto yang ada sebelum membaca tulisannya.
KEYWORDS: bahasa visual,muatan cerita,sebuah foto.
Excerpt : Definisi foto yang berbicara adalah foto yang mudah dipahami, tetapi informasinya leibh dari biasa. Kalau sekadar mudah dipahami, misalnya foto sebuah pena tergeletak di meja, itu tentu bukanlah foto yang berbicara!.

#Petani membuang susu hasil peternakannya di Ciney, Belgia, rabu (19/9/2009). Total susu yang dibuang 3 juta liter sebagai protes atas harga jual susu yang dipatok pemerintahnya.
#Ester Yustita(22)  tetap bersemangat menggunakan hak pilihnya dalam pemilu legislative meskipun harus menggunakan kakinya untuk mencontreng dan memasukkan surat suara di TPS 83 Kelurahan Pakis, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/4/2009).
#Pembonceng  nekat duduk di atas kardus yang diikat ke sadel sepeda motor di Jalan Cipondoh, Tangerang, Selasa (29/12/2009)
#Fotografer menyiapkan kameranya untuk pemotretan pas foto di sebuah tempat di Kabul, Afganisstan, Minggu (21/9/2003). Pemerintahan setempat mewajibkan wanita memakai burka.


Jumat, 02 Februari 2018

FOTOGRAFI BAWAH AIR bersama dua oma

Klinik Fotografi
Tips & Catatan |Arbain Rambey
PEKAN lalu di perairan Larantuka, NTT, berlangsung semacam jamboree fotografi bawah air. Pada sebuah kapal kayu yang bernama Benetta itu, ada beberapa fotografer bawah air terkemuka Indonesia, seperti Mulyadi Pinneng yang sudah menghasilkan beberapa buku fotografi bawah air, Gemala Hanafiah yang juga terkenal sebagai “surfer” Andy Chandrawinata, Arif Yudo Wibowo, Noldi Rumengan (yang namanya diabadikan pada sebuah spesies bawah air Kyone michthys Rumengan), Edward Suhadi, dan Dewi Wilaisono. Dari mancanegara ada Yuriko Chikuyama dari Jepang serta Suzan Meldonian dari AS.
Yang menarik untuk disoroti adalah kehadiran Dewi Wilaisono dan Suzan Meldonian ini karena keduanya adalah wanita yang secara usia sudah lanjut. Suzan yang namanya mudah dicarai di mesin pencari apa pun, juga karyanya bisa dilihat di tautan http://vyx.me/xRLvp, berusia 61 tahun. Sedangkan Dewi yang dipanggil “Mama” oleh para penyelam lain, berusia 58 tahun dan nenek dari tiga cucu. Dalam tim juga ada Andy Chandrawinata (ayah Puteri Indonesia 2005, Nadine Chandrawinata) yang berusia 65 tahun, tetapi tulisan ini akan terfokus pada Suzan dan Dewi.
Yang lebih menarik adalah, Suzan lebih suka menyelam pada malam hari. Dia terkenal sebagai spesialis “Black Water Photography”. Karya-karya fotografi bawah airnya memang didominasi pemotretan malam.
“Malam hari, perilaku hewan bawah air sangat berbea dengan siang hari. Menurut saya itu sangat menarik,” kata Suzan yang di Larantuka  gagal memotret malam hari akibat munculnya beberapa ular laut di sekitar kapal.
Sedangkan Dewi yang karyanya bisa dilihat di akun instagram, @dwilaisono, mengaku baru akftif menyelam dan memotret bawah air sejak delapan tahun lalu. “Anak-anak saya sudah mandiri, maka saya dan suami lalu mencari hobi baru yang menantang,” katanya.
Baik Suzan maupun Dewi bukanlah memotret asal-asalan di bawah air. Peralatan mereka adalah DSLR dengan “underwatercase” professional, disertai peralatan pencahayaan yang juga kelas atas.
“Fotografi bawah air sungguh kelas lain dari fotografi. Tantangannya banyak sekali, termasuk menguji kesabaran diri,” kata Dewi  [Sumber : Kompas, Selasa, 6 September 2016 ]


KEYWORDS: fotografi bawah air.
TAGS : bersama dua oma,zusan meldonian,dewi wilaisono.

Shrimp on Spanish dancer


Seorang Penyelam di perairan Larantuka, Kamis (25/8).



 MeSuzanldonian memotret di perairan larantuka, kamis (25/8)

Senin, 01 Januari 2018

MELIHAT 71 TAHUN Indonesia dari Buku Harian seorang Wajib Militer Belanda

Klinik Fotografi | Tips & Catatan |Arbain Rambey
FOTOFRAFI terbukti selalu bisa merekam dengan kedalaman berdimensi luas, apalagi kalau dilakuak noleh pihak yang sungguh ingin merekam sesuatu. Anda tentu bsia membayangkan betapa menariknya meliaht foto-foto tentang Indonesia dari alam sekitar kemerdekaan, dari sudut “orang luar”.
Dalam rangka peringatan 71 tahun Kemerdekaan Indonesia ini, sejak akhri pekan lalu samapi awal bulan depan di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru, Jakarta, dipamerkan foto-foto dalam tajuk “71 tahun Bingkisan Revolusi”. Salah satu materi yagn dipamerkan adalah foto-foto dari buku harian seoarang wajib militer Belanda bernama Charles van der Heijden.
Oscara Motuloh, curator pameran ini, yang membawa aneka koleksi foto dari Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda, menuturkan bahwa menarik sekali mengangkat buku harian Charles ini.
“Charles ini bukan tentara murni. Dia adalah wajib militer, dan lebih tertarik dengan dunia jurnalistik. Dai cukup teliti mencatat, memotret, meminta foto dari rekannya. Buku hariannya sungguh dokumentasi sangat berharga tentang Indonesia pada akhir tahun ’40-an itu,” papar Oscar.
Seperti anda liaht menyertai tulisan ini, sebagian foto-foto yang ada di buku harian Charles menampilkan ralitas Jawa Timur pada tahun 1947-1950 semasa Charles berada di sana. Dalam sebuah foto, terpapar remaja pribumi yang demikian kurus, sementara di foto lain tampak pual bagaimana Gunung Bromo sudah mengepulkan asap secara permanen sejak dulu.
Selembar buku hariannya pun dengan menarik menampilkan foto Masjid Sunan Ampel pada sekitar tahun 1948 yang masih belum tertutup aneka bangunan seperti saat sekarang. Cara Charles mengatur foto-foto diantara tulisan di buku hariannya seakan dai sudha memahami apa itu photo book seperti yang dilakukan remaja sekarang.
Museum Bronbeek semakin membuka diri terhadap koleksinya dari Perang Dunia Kedua, terutama dengan arsip-arsipnya dari tentara Belanda yang pernah bertugas di Indoensia.
“Masih banyak koleksi Bronbeek yang akan dibawa ke Indonesia untuk dipamerkan. Banyak sekali, dan itu koleksi yang luar biasa berharga,” kata Oscar. [Sumber : Kompas, Selasa, 23 Agustus 2016 ]

Salah satu halaman buku harian Charles van der Heijden yang menunjukkan beberapa foto di Jawa Timur, salah satunya foto Masjid Sunan Ampel.
Orang-orang China di Malnag mengungsi karena perang.
Seorang Pribumi yang kurus kering
Gunung Bromo sekitar tahun 1947

Tentara Belanda berpatroli di sebuah tempat di Jawa Timur

Selasa, 12 Desember 2017

Adu Tangkas dari Balik Lensa

HIBURAN | LAYAR
CAMERACANON.blogspot.comNAMUN tantangan ini tidak menyurutkan antusiasme para fotografer amatir peserta ajang kompetisi fotografi, Photo Face-Off. Acara rellity show tersebut telah memasuki musim ketiga dan mulai menyapa pemirsa di saluran televisi History  mulai 8 September.
Konsep Photo Face-Off ini mengadopsi kompetisi Canon PhtoMarathon yang dimulai 14 tahun lalu di Singapura. Para peserta dari berbaga inegara ditantang utnuk menghasilkan karya fotofrafi terbai ksesuai tema yang ditugaskan selam sehari penuh. Canon PhotoMarathon telah berkembang menjadi lomba foto yagn besar di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Mirip konsep tersebut, Photo Face-Off memberikan tiga jenis tantangan kepada para peserta, yakni kecepatan, tema, dan tantangan face-off. Tantangan kecepatan mengharuskan peserta memotret dalam waktu yang terbatas. Tantangan tema menghadirkan klien yang menginginkan pemotretan tertentu. Selanjutnya, tantangan face-off mengharuskan peserta bertanding satu lawasn satu melawan juri tetap, Justin Mott, seorang fotografer professional, untuk memotret obyek yang sama.
Mott adalah fotografer kelahiran AS dan belajar jurnalistik di San Francisco State University. Tahun 2007, dia pindah ke Vietnam dan bekerja sebagai jurnalis foto. Di menjadi contributor New York Times di Asia Tenggara. Karyanya juga banyak tampil di TIME, The Wall Street Journal, Newsweek, The Guardian, BBC, CNN, dan Forbes.
Semacam olimpiade
Photo Face-Off musim 3 diikuti peserta dari empat negara, yakni Singapura, Thailand, Indonesia, dan Malaysia. Jika pada musim sebelumnya setia pengara diwakili satu peserta, pada musim 3 ini ada tiga peserta dari setiap negara.
Setipa peserta harus bersaing satu sama lain untuk menjadi pemenang dan mewakili negaranya pada grand final di DaNang, Vietnam. Satu peserta tambahan dari Vienam mendapatkan wild card untuk menjadi pemenang Photo Face-Off musim 3.
“Ini semacam olimpiade fotografi di Asia Tenggara.saya terus menekan mereka untuk bisa bekerja secara professional. Mereka sangat bagus dan kompetitif. Saya juga tidak ingin kalah dari mereka,” ujar Mott.
Kontestan asal Indonesia adalah Agus Supriyanto (37), manajer; Christinato Harsadim (25), mahasiswa; dan I Gusti Ngurah Bagus Wirajaya (30), mahasiswa. Mereka beradu ketangkasan memotret di Yogyakarta.
Pada tantanga kecepatan, mereka diuji dengna memotret model yang berpose dengan mobil neon yang bercahaya. Satu peserta akan tereliminasi pada babak ini.
Untuk tantangan tema, mereka diharuskan mengambil gambar kaya seni warna-warni di Kampugn Code untuk dipajang dalam galeri seni di Yogyakarta. Satu lagi peserta akan tereliminasi pada babak ini. Kemudian tantangan face-off, peserta meotret gambar simetris dengan Candi Prambanan harus ada di dalamnya.
Di negara lain, para peserta juga ditantang memotret berbagai macam hal. Di Bangkok, Thailand, misalnya mereka harus memotret bunga secara kreatif untuk tantangan kecepatan, membuat dan menata album utnuk sebuah band untuk tantangan tema, dan mengambil foto hitam puith tim polo air putri nasional ketika sedang bertanding.
Untuk menilai karya para peserta, Mott ditemani klien dan fotografer professional dari masing-masing negara sebagai juri.
Mendadak motret
Ketiga kategori tantang itu dirancang untuk mendorong keterampilan, pengetahuna, dan kreativitas dan membuat foto yang unik. Kami diberi tema secara mendadak, kamera juga diberikan mendadak. Lokasi juga diberitahukan mendadak. Saya harus memanfaatkan waktu persiapan yang sangat singkat untuk menentukan foto. Ini benar-benar membuat saya keluar dari zona nyaman,” ujar Agus, saat jumpa pers di Jakarta, akhir Agustus lalu.
Gusti mengatakan hal senada. Hal pertama yagnharus dimiliki setiap peserta adalah kecintaan pada dunia fotografi. “Kalau kita enggak suka motret, tentu tidak akan dapat foto bagus. Kita juga harus berani berpikir out of the box,” kata Gusti, yang gemar fotografi sejak kecil.
Christianto memiliki tantangan tersendiri karena dia memiliki gangguan pendengaran dan harus berkomunikasi dengan bahasa isyarat. “Di lokasi, saya mencoba berkomuniksi dengan model memakai bahasa isayarat. Dia tidak mengerti sama sekali,” tuutrnya melalui penerjemah.
Kekurangan itu tidak menyurutkan Christianto untuk berkompetisi. Dia ingin memperliahtkan kepada para tunarungu bahwa mereka pun bisa memotret dan membuat foto bagus.
Kepala Penjualan dan Periklanan A+E Networks Charles Less mengatakan, Photo Face-Off tidak sekadar sebuah kompetisi memotret. “Ini adalah cara menuturkan cerita dengan cara yang mengagumkan. Lama-kelamaan bisa tercipta sebua hkultur fotografi,” ujarnya.
Sisi lain dari kompetisi ini adalah, tuurt tersorotnya keelokan panorama dan kehidupan sosial budaya di setiap negara sehingga bisa diperkenalkan kepada maysarakat yang lebih luas. Pemirsa bisa ikut menikmati buurng dalam sangkar terbesar di Kuala Lumpur; beragam jajanan di Street Smith, pujasera ikonik Singaprua; atau keindahan Jembatan Naga, ikon kota Da Nang.
Terelbih, dari tahun ke tahun industry fotografi semaki nberkembang. Banyak pula bermunculan fotofrafer handal. Dari balik lensa, dengan beragam angle, mereka mengabadikan keindahan dan keunikan semesta.[Sumber : Kompas, Minggu, 18 September 2016 | Oleh : Ransisca Romana Ninik]

Keywods : Photo,foto,Photo Face-Off,Canon PhotoMarathon,.
Tags: adu tangkas, dibalik lesa,fotografer.
Description: Memotret dan menghasilkan foto yang bagus bagi orang kebanyakan sudah merupakan tantangan.

Excerpt ; Memotret dan menghasilkan foto yang bagus bagi orang kebanyakan sudah merupakan tantangan. Apalagi, ditambah batasan waktu, tema, dan “lawan” fotografer professional kelas dunia, mengintip dari balik lensa bisa memacu adrenalin!

Sabtu, 11 November 2017

DUlu ditinggalkan, kini jadi incaran

LANGGAM GAYA HIDUP
CAMERACANON.blogspot.comSULIT menampik bahwa saat ini kamera analog sedang naik daun, mengiringi perkembangan media sosial sebagai wadah untuk pamer alat atau kamera serta hasil jepretan. Media sosial juga menghubungkan pengguna kamera analog dari lain kota, lain pulau, hingga lain Negara. Bentuk kamera analog yang unik dan terlihat lawas menjadi daya tarik.
Mengiringi hal tersebut, toko-toko kamera seprti di Harco Pasar Baru, Jakarta Pusat pun diramaikan oleh penggiat fotografi analog. Di sanalah antara lain mereka bisa mencari kamera analog antic dari bermacam merek dan tahun pembuatan.
Di tengah kemajuan teknologi, kamera dan aksesori kamrea analog memang bisa juga didapat melalui situs penjualan daring maupun di media sosial. Namun, kahdiran toko fisik menjadi wahana untuk ngobrol bertukar ilmu dan pengalaman seputar fotografi.
“Fotografi analogmemang dirasakan semakin ramai beberap tahun terakhir. Pehobinya bukan Cuma orang tua. Ada juga anak-anak muda atau mahasiswa yagn ingin mencoba memotet degna nkaerma analog. Mungkin mereka bosan memotret dengan kamera digital. Internet memang memudhakan jual-beli, tapi sebuah toko fisik bagi saya ibarat base tempat orang berkumpul,” kata Eka Raspratama, pemilik toko MainKamera di kawasan tersebut.
Mereka yagn menggeluti fotografi analog, seperti dikatakan Eka, biasanya punya cerita yang unik tentang kemara yang dimiliki. Bisa karean kamera itu adala hwarisan dari kakek ata uorangtua atau bisa juga karena kamera itu didapat setelah berburu selam bertahun-tahun.
“Seperti ini, Leica IIIcK. Saya beli Rp 300 ribu di pasar loak. Setelah saya cek serial number, ternyata itu seri militer Jerman tahun 1945. Terus cek di eBay, harganya berkisar antara Rp 20 juta hingga Rp 200 juta, tergantung kondisi,” kata Eka.
Proses dan pindai
Dibandingkan dengna kamera digital, memotret menggunakan kamera analog memang lebih rumit. Dari proses pemotretan saja, seorang juru foto harus cermat mempertimbangkan sudut pengambilan, komposisi, serta pengaturan rana dan shutter speed kalau tidak mau ada frame yang terbuang. Setelah itu, harus ada proses cuci-cetak atau scan untu kbisa meliaht hasil jepretan.
Penyedia jasa cuci-scan film saat ini cukup langka, tetapi bukan berarti tidak ada. Di Jakarta, ada beberapa temapt yagn menawarkan jas tersebut dengan kualitas dan biaya yang bervariasi. Tak luput di Bandung, ada Hipercatlab yagn berdiri lantaran orang kesulitan mendapatkan jasa cuci-scan film hitam-putih yang mudah dan murah.
“Saat ini, kami menangani jasa proses dan scan. Cetaknya belum. Cetak manual (di kamar gelap) masih memungkinkan untuk dilakukan, tapi secara ekonomis biayanya mahal. Biasanya yang cetak manual adalah pemain pro dan mereka biasanya cetra ksendiri karena sebua hfoto untuk dicetak manual, banyak detail yang harus diperhatikan.” Kata Muhamad Fajar Hidayat, pemilik sekaligus yang menajalankan Hipercatlab.

Dengan banderol harag sekitar Rp 30 ribu untuk film hitam-putih dan Rp 40 ribu utnuk film warna, Hipercatlab pun menggunakan internet dan media sosial untuk “berjualan”. Seperti dikatakan Fajar, 95 persen pelanggannya mengenal Hipercatlab dari media sosial dan internet, selebihnya dari mulut ke mulut.