Sabtu, 07 Juli 2018

Antara “Shift” Optik dan “Shift” Digital

KLINIK FOTOGRAFI
Tips & Catatan |ARBAIN RAMBEY
KALAU kita bediri di tanah lalu memotret sebuah bangunan tinggi, bangunan itu tentu terekam mengecil di bagian atasnya. Dalam kondisi biasa, foto itu tentu tidak menimbulkan masalah apa-apa.
Meski demikian, manakala foto bangunan itu diperlukan untuk mengiklankan sang banunan, bentuk mengerucut sepeti itu tentu tidak menarik. Harus ada upaya agar sang bangunan terekam tegak seperti layaknya sebuah gambar terknik karya seorang arsitek.
Kadang, upaya agar mendapatkan foto bangunan yang betul-betul tegak bisa dilakukan dengan cara memotret di sebuah tempat yang tingginya kira-kira setengah sanga banunan yang akan dipotret. Namun, kondisi seperti itu belum bisa didapat, seperti di Jakarta yang tidak mudah memilih lokasi pemotretan.
Upaya agar sebuah bangunan bisa terpotret tegak ada dua cara. Cara pertama dalah memakai lensa khusus yang disebut lensa perspective correction (PC) yang digungsikan pada mode “shift” (geser). Dengan mode ini, bangunan yang dipotret akan tetap tegak walau pemotretan dari arah bawah.
Cara kedua untuk membuat bangunan tampak tegak adalah koreksi dengan perangkat lunak, seperti Photoshop. Cara kedua ini jauh lebih murah daripa cara pertama kalau perangkat lunaknya memang sudah dimiliki. Sebuah lensa PC harganya beberapa kali lipat lensa biasa.
Meski demikian, cara dengan perangkat lunak punya kelemahan, yaitu bagian foto yang “direnggangkan” dalam kenyataannya memang betul-betul jadi renggang dalam kerapatan pikselnya. Dalam cetakan besar, kerenggangan itu kadang tampak.
Namun, secara umum pemakaian fungsi “shift” dengan cara digital jauh lebih praktis, murah, dan terkontrol. [*/CCblogspot.com  dari Sumber : Kompas, Selasa, 13 Desember 2016 ]

DESCRIPTION: Lensa perspective correction atau lensa PC adalah lensa yang kedudukan lensa-lensanya bisa digeser untuk mendapatkan efek perspektif tertentu.
KEYWORDS: shift optic,shift digital.
Excerpt : Pemotretan memakai lensa biasa pada sebuah bangunan tinggi dengan posisi fotografer rendah akan menghasilkan gedugn yang mengecil ke atas. Kondisi ini bisa dikoreksi dengan pemakaian lensa khusus.
TAGS : perspective correction lens.

# Pemotretan memakai lensa dengan korektor perspektif (lensa perspective correction/PC).
#Foto koreksi dari pemotretan normal memakai perangkat lunak.


Rabu, 06 Juni 2018

MEMAHAMI ERGONOMIKA KAMERA

KLINIK FOTOGRAFI
Tips & Catatan |ARBAIN RAMBEY
WAJAH mengalami evolusi berkali-kali, dari benda berbentuk kotak besar sampai menjadi seukuran korek api dalam wujud kamera aksi (action cam). Semua bentuk dan ukuran kamera punya fugsi masing-masing, tetapi kalau kita berbicara tentang kamera yang harus  dibawa dan dipegang saat dipakai, mau tidak mau kita harus berbicara tentang ergonomikanya.
Ergonomika adalah ilmu atentang pemahaman akan interaksi manusia dengna benda yang dipakainya, menyangkut kenyamanan dan kemudahan pemakaiannya.
Dalam hal kamera, bentuk yag akhirnya mengerucut pada kamera yang dibawa-bawa adalah sebuah kotak dengan tombol di kanan dan sebuah tonjolan di atasya untuk mengintip. Adanya tombol di kanan ini yang selalu menjadi bahan pertanyaan: apakah tidak ada kamera denga tombol di kiri untuk orang kidal?
Mobil mengenal kemudi kiri dan kanan, sementara banyak benda memikirkan pula untuk dipakai khuus orag kidal. Namun, ergonomika kamera “memutuska” untuk hanya membaut kamera utnuk dipakai tangan kanan. Mobil kemudi kiri tentu menylitkan bahkan membahayakan kalau dipakai di negara yang lalu lintasya  di lajur kanan, tetapi orang kidal dan tidak kidal tentu sama-sama tidak akan terlalu mengalami kesulitan untuk memakai kamera dengan tombol kanan saja. Kalalu kamera harus dibuat dengna dua macam pemikiran tombol (tombol kiri dan kanan), harga kamera tentu jadi lebih mahal lagi.
Evolusi kamera besar terjadi saat system berpidah dari system analog menjadi digital. Pada awalnya kamera tidak berubah ukuran dan bentuk, semata hanay mengubah system saja. Lensa-lensa dari sitem lama tetap dipakai di system digital. Kamera dari SLR (single lense reflex) hanya berpindah menjadi DSLR dengna menambahkan huruf D (digital) saja.
Di zaman film, kamera tidak bisa mengecil lagi karena ukuran film sudah standar. Namun, di zaman digital akhirnya disadari bahwa cermin reflex pada kamera SLR bisa dibuang. Dan, pembuangan cermin reflex yang menghasilkan kamera nircermin (mirorless) ini akhirnya juga merevolusi ukuran kamera, seperti yang dilakukan Olympus dan Lumix pada tahun 2009. Satu per satu produsen kamera membuat kamera mirrorless yang mungil, seperti Nikon dan Pentax (yang ekstrem mungil).
Dalam evolusi ukura ini, muncul eveolusi lagi, yaiut kmaera foto mulai mampu merekam video sekaligus. Namun, di sinilah masalah ergonomika besar mucul. Merekam gambar diam (foto) tentu membutuhkan ergonomika berbeda dengna merekam gambar bergerak (video). Bentuk maera mulai diutak-atik lagi oleh para produser.
Perusahaan Canon dan Sony, misalnya, jelas memisahkan bentuk kamera foto yang bisa membuat video tetap berbentuk kamera foto, dan kamera video yang bisa memfoto dengn bentuk untuk disandang atau digenggam (bentuk lebih memanjang).
Evolusi ukuran juga melahirkan kamera aksi yang bisa sangat mungil yang tentu sangat tidak nyaman untuk dipakai apa adanya.
Saat ini evolusi bentuk dan ukuran kamera mulai menemukan titik endap. Kamera mulai mengerucut menjadi mirrorless yang bisa membuat video, dan ukurannya mulai agak membesar. Ukuran kamera mirrorless lam terbukti terlalu mungil sehingga tidak nyaman untuk dipakai. Saat ini kamera yang umum adalah kamera mirrorless dengan ukuran antara DSLR dan mirrorless awal, seeprti pada Olympus seri EM1, pada Fuji generasi baru, dan juga pada Sony tipe A7 beserta turunannya.
Untuk dipakai memvideo, kamera mirrorless ini akna disertai peralatan bantu yang juga sudah mulai mudah didapatkan di mana-mana. Sedangkan kamera aksi juga mulai mendapat alat bantu untuk dipakai seperti memegang pistol.
Ergonomika kamera mungkin belum akan berhenti pada bentuk yang ada sekarang. Kemajuan teknologi selalu terjadi, dan itu selalu menambahkan kemampuan baru pada sebuah benda. Di masa depan, mungkin kamera juga bisa dipakai untuk mmindai tubuh bagi tes kesehatan. Dan, dengan kemampuan demikian, bentk kamera mungkin berubha juga walau sedikit. [*/CCblogspot.com  dari Sumber : Kompas, Selasa, 25 Oktober 2016 ]

DESCRIPTION: untuk bisa memahami tulisan ini, mohon jangan membaca teks foto-foto yang ada sebelum membaca tulisannya.
KEYWORDS: ergonomika kamera,mirrorless camera.
Excerpt : Definisi foto yang berbicara adalah foto yang mudah dipahami, tetapi informasinya lebih dari biasa. Kalau sekadar mudah dipahami, misalnya foto sebuah balpen tergeletak di meja, itu tentu bukanlah foto yang berbicara!.
TAGS :  mirrorless kamera,Olympus EM1,Sony A7,fuji.

#Evolusi ukuran kamera digital, kamera digital ukuran seperti zaman film, kamera digital mirorless awal dan kamera digital mirorless generasi terbaru.
#Bentuk  awal kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR) yang merupaka nadapatsi persis dari kamera film generasi sebelumnya
#Kamera aksi (action cam) yang terlalu mungil akhirnya diberi pegangan yang membuat pemakainya seakan memakai pistol
#Sampai menjelang tahun 2010, kamera digital belum bisa untuk merekam video sehingga harus memakai kamera khusus video utnuk merekam gambar bergerak.
#Kamera rusia yang dirancang untuk dipakai sperti senapan. Ada orang-orang tertentu yang terbiasa dengan cara membidik demikan misalnya tentara.


Sabtu, 05 Mei 2018

“Harga” Wajah pada Foto Jurnalistik

KLINIK FOTOGRAFI
Tips & Catatan |ARBAIN RAMBEY
WAJAH Kanselir Jerman Angela Markel yang terpotong pada harian Kompas edisi 21 September lalu, juga wajah beberaap kepala negara di kompas edisi 23 September lalu, memancing beberapa pertanyaan. Mengapa wajah mereka tidak ditampilkan utuh? Mengapa dipotong seperti itu?
Juga, mengapa wajah Angela Merkel ditampilkan dalam format landscape (mendatar), bukan format portrait selayaknya format wajah manusia normal? Dalam fotografi umum, format foto ada dua, yaitu landscape alias mendatar yang umumnya untuk foto-foto pemandangan serta format portrait alias vertical yang umunya untuk foto wajah manusia (potret).
“Human interest”, potret, dan “headshot”.
Dalam foto jurnalistik, ada beberapa macam foto tentang manusia. Yang paling populer adalah kategori human interest alias foto tentang manusia dan kegiatannya. Selain human interest, ada pula kategori potret (portrait), yaitu profil seorang/sekelompok manusia. Beda human interest dan potret adalah pada kegiatannya. Pada human interest, sang terportret berinteraksi dengan orang lain atau sesuatu yang sedang dilakukannya. sedangkan pada potret, interaksi sang terpotret hanya pada pemotret.
Kategori potret punya subkategori, yaitu headshot alias foto semata wajah. Headshot umumnya dipasang jsutru untuk orang yang wajahnya yang sudah dikenal, sebagai penegasan sebuah berita, atau untuk memberikan penekanan bahwa berita yang disertai sebuah headshot adalah berita penting.
Dengan kondisi demikian, sebuah headshot kadang bisa berukuran sangat kecil. Bisa dibayangkan kalau foto headshot yang berukuran sangat kecil masih harus menampilkan kepala manusia utuh sampai ke rambut-rambutnya. Wajah yang tersisa menjadi sangat sedikti bukan?
Dalam dunia foto jurnalistik, wajah seorang manusia diwakili area dari sedikit di atas alis (batas atas) sampai sedikit di bawah bibir (batas bawah).
Di luar area ini, biasanya bisa dibuang, seperti headshot Krisdayanti dan Maia di halaman ini yang memotong dengna tujuan artistic semata. [*/CCblogspot.com  dari Sumber : Kompas, Selasa, 27September 2016 ]

DESCRIPTION: untuk bisa memahami tulisan ini, mohon jangan membaca teks foto-foto yang ada sebelum membaca tulisannya.
KEYWORDS: format portrait,format landscape,potret,headshot,foto jurnalistik.
Excerpt : Definisi foto yang berbicara adalah foto yang mudah dipahami, tetapi informasinya leibh dari biasa. Kalau sekadar mudah dipahami, misalnya foto sebuah pena tergeletak di meja, itu tentu bukanlah foto yang berbicara!.
TAGS :  foto headshot,foto jurnalistik.

#Petani membuang susu hasil peternakannya di Ciney, Belgia, rabu (19/9/2009). Total susu yang dibuang 3 juta liter sebagai protes atas harga jual susu yang dipatok pemerintahnya.
#Ester Yustita(22)  tetap bersemangat menggunakan hak pilihnya dalam pemilu legislative meskipun harus menggunakan kakinya untuk mencontreng dan memasukkan surat suara di TPS 83 Kelurahan Pakis, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/4/2009).
#Pembonceng  nekat duduk di atas kardus yang diikat ke sadel sepeda motor di Jalan Cipondoh, Tangerang, Selasa (29/12/2009)
#Fotografer menyiapkan kameranya untuk pemotretan pas foto di sebuah tempat di Kabul, Afganisstan, Minggu (21/9/2003). Pemerintahan setempat mewajibkan wanita memakai burka.


Rabu, 04 April 2018

Memahami Makro lensa Lebar

Klinik Fotografi
Tips & Catatan |Arbain Rambey
SELAMA ini fotografi makro selalu identik dengna pemakaian lensa tele, atau lensa yang panjang fokalnya lebih dari 50mm. lensa makro terpendek yang ada adalah lensa 55mm, sementara yang terpnajnga ada yang sampai sekitar 150 mm. Dan, guyonan yang sering mengemuka pada dunia fotofrafi makro adalah, “Makro pakai lensa lebar, itu baru gagoan..”.
Kini guyonan itu tampaknya harus berakhir. Saya menemukan sebuah lensa buatan RRT yagn panjagn fokalnya 15mm (fixed lens), tetapi menyandang predikat sebagai lensa makro.
Dengan merek yang sama sekali baru tedengar di jagat fotografi, Laowa, lensa 15 milimeter makro ini menimbulkan tanda Tanya. “Mengapa baru sekarang ada? Apakah secara optic dulu belum memungkinkan? Apakah makro lensa lebar ini memagn bisa ada atau hanay taktik dagang semata?”
Satu hal yang pasti adalah, lensa yang saya coba in iadalah untuk format “full frame”, luas untuk sensor berukurang 36 mm x 24 mm. walau bisa dipakai untuk sensor APSC, percobaan yang saya lakukan adalah pada kamera D4S yang full frame.
Benda yang saya potret secara makro adalah sebuah patung manineko setinggai sekita 2 cm, dan sebagai pembanding saya juga memotret memakai lensa makro 135 mm ditambah sebuah makro extender.
Percobaan saya membuktikan bahwa lensa lebar (bahkan sangat lebar) sangat mungkin menjadi lensa makro, bahkan dengan keunggulan “depth of field” (DOF)-nya cukup dalam. Memotret makro dengnal ensa lebar jauh lebih mudah daripada memotret makro memakai lensa tele yang DOF-nya tipis. Perhatikan perbandingan dua pemotretan yang saya lakukan.
Pertanyaan mendasar lain yang cukup penting adalah, “Bagaimana distorsinya?””
Lensa super lebar makro yang saya pakai terbukti tidak memiliki distorsi berarti say saya pakai utnuk memotret makro 1:1. Huruf Koran yagn saya potret reltif tetap lurus. Namun, pada pemotretan benda tiga dimensi, distorsi tentu terjadi akbiat sudut pandang yang terjadi. Makro memakai tele tentu berjarak terhadap subyeknya, Sementara makro dengna lensa lear tentu mendekati subyeknya dengan sangat dekat, bahkan dalam kasus saya di atas sampai sekitar 1 cm saja.
[*/Tukang-Jalan.com from ARB]

 [Sumber : Kompas, Selasa, 13 September 2016 ]

DESCRIPTION:.
KEYWORDS: fotografi makro,lensa lebar,full frame,macro extender,depth of field,fixed lens.
TAGS : full frame D4S,Laowa 15mm makro,
#Lensa lebar makro pertama di dunia, Laowa 15mm, terpasang pada kamera full frame D4S
#Pemotretan Makro 1:1 dengan Laowa 15 mm pada kamera full frame menunjukkan distorsi yang minim walau lensanya adalah lensa sangat lebar.
#Pemotretan Makro memakai lensa 105 mm dilengkapi macro extender pada kamera full frame menampilkan depth of field yang sangat dangkal.
#Pemotretan Makro memakai Laowa 15mm makro memakai kamera full frame D4S. latar belakang masih memiliki detai lsedikita karena lensa lebar memagn memililkiki depth of filed yang dalam.


Sabtu, 03 Maret 2018

Bahasa Visual dan Muatan Cerita Sebuah Foto

KLINIK FOTOGRAFI
Tips & Catatan |ARBAIN RAMBEY
DALAM dunia foto jurnalistik, sering terlontar frase “foto yang berbicara”. Orang mudah mengatakan frase ini, tetapi sesungguhnya pemahaman akan foto yang berbicara bukanlah hal yang mudah karena sesungguhnya sebuah foto berbicara dengan bahasa visual, alias informasinya masuk ke benak terutama lewat mata.
Definisi foto yang berbicara adalah foto yang mudah dipahami, tetapi informasinya leibh dari biasa. Kalau sekadar mudah dipahami, misalnya foto sebuah pena tergeletak di meja, itu tentu bukanlah foto yang berbicara.
Sebagai contoh adalah foto seroagn wanita sedang memasukkan suara ke dalam kotak suara dalam Pemilu 2009 lalu.
Foto ini berbicara karena orang langusng tahu bahwa itu adalah foto pemilu dengna segal atrib utnya. Informasi menjadi kuat karena sang pelaku adalah wanita berkebutuhan khusus. Foto ini menjadi “sangat berbicara” karena pelakunya, suasananya, dan gesture pelakunya (yaitu sedang memasukkan surat suara). Kalau pemotretan dilakukan saat pelaku sedang diam tersenyum, “rasa” foto tentu menjadi hambar.
Misalkan yang memasukkan suara adalah manusaia biasa, walau pemotretan juga dilakukan dilakukan saat dia memasukkan surat suara ke kotak, foto itu tetap mudah dimengerti, tetapi informasinya menjadi tidak istimewa. Akibatnya, fotonya dianggap tidak “berbicara”.
Dalam kasus foto pemilu tadi, foto menjadi makin kuat setelah orang membaca teksnya. Informasinya kemudian menjadi lengkap karena nama orang, lokasi, dan kondisi lain tidak mungki nditampilkan secara visual.
Demikian pula foto orang naik sepeda motor di atas kardus. Anda tentu langsung paham bukan? Dan, setelah membaca teksnya, anda makin tahun tentang foto tersebut.
Latar belakang pengetahuan
Untuk memahami sebuah foto, dibutuhkan pemahaman dasar terlebih dahulu. Foto Pemilu di atas tentu tidak akan dipahmi orang yang berlum pernah tahu apa itu pemilu. Foot orang naik sepeda motor tentu tidak akan dipahami kalau foto itu dilihat penduduk pedalaman yang sama sekali belum pernah melihat sepeda motor.
Perhatikan foto wanita berburka dan tukang foto. Foto tesebut dibuat oleh fotografer yang merasa bahwa membuat pasfoto tetapi tetap mengenakan burka adalah hal yang aneh. Foto itu tentu tidak aneh bagi penduduk tempat foto itu dibuat bukan?
Foto hanya akan berbicara bagi orang tertentu yang punya pemahaman cukup untuk foto tersebut. Dengan kata lain, foto tidak mungkin berbicara bagi semua orang. Dalam kasus foto wanita berburka tadi, foto tidak mungkin dipahami orang yang belrum pernah membuat pasfoto bukan?
Seorang jurnalis foto sebaiknya paham untuk level mana fotonya dibuat: untuk SMA ke atas, utnuk sarjana ke atas, atau anak SD pun sebaiknya bisa paham.
Dan, kasus terakhir adalah foto garis-garis putih di padang rumput. Silakan anda berpikir itu foto apa, kemudian bacalah teksnya.
Anda tentu berpikir: wah foto itu tidak berbicara sama sekali. Tetapi, ocba anda berpikir sebaliknya. Anda diminta memotret petani yang protes dan membuang susunya. Foto seperti apa yang akan anda ambil agar orang paham pada foto Anda?[*/Tukang-Jalan.com  dari Sumber : Kompas, Selasa, 20 September 2016 ]

DESCRIPTION: untuk bisa memahami tulisan ini, mohon jangan membaca teks foto-foto yang ada sebelum membaca tulisannya.
KEYWORDS: bahasa visual,muatan cerita,sebuah foto.
Excerpt : Definisi foto yang berbicara adalah foto yang mudah dipahami, tetapi informasinya leibh dari biasa. Kalau sekadar mudah dipahami, misalnya foto sebuah pena tergeletak di meja, itu tentu bukanlah foto yang berbicara!.

#Petani membuang susu hasil peternakannya di Ciney, Belgia, rabu (19/9/2009). Total susu yang dibuang 3 juta liter sebagai protes atas harga jual susu yang dipatok pemerintahnya.
#Ester Yustita(22)  tetap bersemangat menggunakan hak pilihnya dalam pemilu legislative meskipun harus menggunakan kakinya untuk mencontreng dan memasukkan surat suara di TPS 83 Kelurahan Pakis, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (9/4/2009).
#Pembonceng  nekat duduk di atas kardus yang diikat ke sadel sepeda motor di Jalan Cipondoh, Tangerang, Selasa (29/12/2009)
#Fotografer menyiapkan kameranya untuk pemotretan pas foto di sebuah tempat di Kabul, Afganisstan, Minggu (21/9/2003). Pemerintahan setempat mewajibkan wanita memakai burka.


Jumat, 02 Februari 2018

FOTOGRAFI BAWAH AIR bersama dua oma

Klinik Fotografi
Tips & Catatan |Arbain Rambey
PEKAN lalu di perairan Larantuka, NTT, berlangsung semacam jamboree fotografi bawah air. Pada sebuah kapal kayu yang bernama Benetta itu, ada beberapa fotografer bawah air terkemuka Indonesia, seperti Mulyadi Pinneng yang sudah menghasilkan beberapa buku fotografi bawah air, Gemala Hanafiah yang juga terkenal sebagai “surfer” Andy Chandrawinata, Arif Yudo Wibowo, Noldi Rumengan (yang namanya diabadikan pada sebuah spesies bawah air Kyone michthys Rumengan), Edward Suhadi, dan Dewi Wilaisono. Dari mancanegara ada Yuriko Chikuyama dari Jepang serta Suzan Meldonian dari AS.
Yang menarik untuk disoroti adalah kehadiran Dewi Wilaisono dan Suzan Meldonian ini karena keduanya adalah wanita yang secara usia sudah lanjut. Suzan yang namanya mudah dicarai di mesin pencari apa pun, juga karyanya bisa dilihat di tautan http://vyx.me/xRLvp, berusia 61 tahun. Sedangkan Dewi yang dipanggil “Mama” oleh para penyelam lain, berusia 58 tahun dan nenek dari tiga cucu. Dalam tim juga ada Andy Chandrawinata (ayah Puteri Indonesia 2005, Nadine Chandrawinata) yang berusia 65 tahun, tetapi tulisan ini akan terfokus pada Suzan dan Dewi.
Yang lebih menarik adalah, Suzan lebih suka menyelam pada malam hari. Dia terkenal sebagai spesialis “Black Water Photography”. Karya-karya fotografi bawah airnya memang didominasi pemotretan malam.
“Malam hari, perilaku hewan bawah air sangat berbea dengan siang hari. Menurut saya itu sangat menarik,” kata Suzan yang di Larantuka  gagal memotret malam hari akibat munculnya beberapa ular laut di sekitar kapal.
Sedangkan Dewi yang karyanya bisa dilihat di akun instagram, @dwilaisono, mengaku baru akftif menyelam dan memotret bawah air sejak delapan tahun lalu. “Anak-anak saya sudah mandiri, maka saya dan suami lalu mencari hobi baru yang menantang,” katanya.
Baik Suzan maupun Dewi bukanlah memotret asal-asalan di bawah air. Peralatan mereka adalah DSLR dengan “underwatercase” professional, disertai peralatan pencahayaan yang juga kelas atas.
“Fotografi bawah air sungguh kelas lain dari fotografi. Tantangannya banyak sekali, termasuk menguji kesabaran diri,” kata Dewi  [Sumber : Kompas, Selasa, 6 September 2016 ]


KEYWORDS: fotografi bawah air.
TAGS : bersama dua oma,zusan meldonian,dewi wilaisono.

Shrimp on Spanish dancer


Seorang Penyelam di perairan Larantuka, Kamis (25/8).



 MeSuzanldonian memotret di perairan larantuka, kamis (25/8)

Senin, 01 Januari 2018

MELIHAT 71 TAHUN Indonesia dari Buku Harian seorang Wajib Militer Belanda

Klinik Fotografi | Tips & Catatan |Arbain Rambey
FOTOFRAFI terbukti selalu bisa merekam dengan kedalaman berdimensi luas, apalagi kalau dilakuak noleh pihak yang sungguh ingin merekam sesuatu. Anda tentu bsia membayangkan betapa menariknya meliaht foto-foto tentang Indonesia dari alam sekitar kemerdekaan, dari sudut “orang luar”.
Dalam rangka peringatan 71 tahun Kemerdekaan Indonesia ini, sejak akhri pekan lalu samapi awal bulan depan di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru, Jakarta, dipamerkan foto-foto dalam tajuk “71 tahun Bingkisan Revolusi”. Salah satu materi yagn dipamerkan adalah foto-foto dari buku harian seoarang wajib militer Belanda bernama Charles van der Heijden.
Oscara Motuloh, curator pameran ini, yang membawa aneka koleksi foto dari Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda, menuturkan bahwa menarik sekali mengangkat buku harian Charles ini.
“Charles ini bukan tentara murni. Dia adalah wajib militer, dan lebih tertarik dengan dunia jurnalistik. Dai cukup teliti mencatat, memotret, meminta foto dari rekannya. Buku hariannya sungguh dokumentasi sangat berharga tentang Indonesia pada akhir tahun ’40-an itu,” papar Oscar.
Seperti anda liaht menyertai tulisan ini, sebagian foto-foto yang ada di buku harian Charles menampilkan ralitas Jawa Timur pada tahun 1947-1950 semasa Charles berada di sana. Dalam sebuah foto, terpapar remaja pribumi yang demikian kurus, sementara di foto lain tampak pual bagaimana Gunung Bromo sudah mengepulkan asap secara permanen sejak dulu.
Selembar buku hariannya pun dengan menarik menampilkan foto Masjid Sunan Ampel pada sekitar tahun 1948 yang masih belum tertutup aneka bangunan seperti saat sekarang. Cara Charles mengatur foto-foto diantara tulisan di buku hariannya seakan dai sudha memahami apa itu photo book seperti yang dilakukan remaja sekarang.
Museum Bronbeek semakin membuka diri terhadap koleksinya dari Perang Dunia Kedua, terutama dengan arsip-arsipnya dari tentara Belanda yang pernah bertugas di Indoensia.
“Masih banyak koleksi Bronbeek yang akan dibawa ke Indonesia untuk dipamerkan. Banyak sekali, dan itu koleksi yang luar biasa berharga,” kata Oscar. [Sumber : Kompas, Selasa, 23 Agustus 2016 ]

Salah satu halaman buku harian Charles van der Heijden yang menunjukkan beberapa foto di Jawa Timur, salah satunya foto Masjid Sunan Ampel.
Orang-orang China di Malnag mengungsi karena perang.
Seorang Pribumi yang kurus kering
Gunung Bromo sekitar tahun 1947

Tentara Belanda berpatroli di sebuah tempat di Jawa Timur