Senin, 05 Mei 2014

Canon 50D Review

A Great Camera at a Great Price - Perfect For Professional Shots


The new Canon EOS 50D Digital SLR Camera is a perfect camera if you are looking for a decent professional camera at an affordable price. Whether you are just going pro with your photography, a seasoned professional or even an amateur looking to get the best possible shots, the combination of high speed an quality will please you.

This camera features an APS-C sized 15.2 megapixel CMOS sensor so provides fantastic quality images. With the combination of a new DIGIC 4 Image Processor you get fine detail and very good color reproduction. Add in additional improvements to the ISO capabilities to up to 12800 means uncompromised shooting no matter what the lighting situation.

With this newly designed CMOS sensor, the 50D is able to record up to 4752 x 3168 pixels with full 14 bit A/D conversion. This means you get extremely fine tonal gradation. With a minimal warm up time, you are pretty much instantly ready to capture images. The sensor is also designed to work with Canon's EF and EF-S lenses with a conversion factor of 1.6 times. The enhanced ISO capabilities mean you can shoot in situations that were previously too noisy, i.e. low light or when the subject is in motion. Images that you would previously have had to use a strobe or a flash suddenly become very easy to record.

The DIGIC 4 Image Processor helps the Canon EOS 50D to operate with effortless speed. With virtually instant startup times, rapid autofocus and minimal shutter lag, the EOS 50D is without question one of the fastest cameras on the market at present. It is capable of shooting up to 6.3 frames per second in bursts of up to 90 consecutive JPEGS if you are using a UDMA CF card, 60 consecutive JPEGS if you are using a CF card or 16 RAW files. With this speed you won't find yourself missing a shot again.

The Canon EOS 50D features a 3 inch Clear View LCD monitor with 920,000 dots for perfectly clear viewing of your images. This large display allows you to easily view your images and share them with people as you take them.

The 50D camera also has Canon's most advanced Live View shooting with many focusing modes including Quick mode, Live mode and Face Detection Live mode. There are even two overly grid options which lets you line up vertical and horizontal lines nicely.

If you use your camera in a studio then it has remote control with Live View Function when you connect the camera to a computer through a USB cable. You can do this wirelessly with an optional Wireless File Transmitter (WFT-E3A).

Another very appealing feature is the 9 point wide area AF that uses cross type points at frame stops of f/5.6 or faster. This is incredibly useful features allows you to focus faster and more accurately even in difficult lighting situations. The AF sensitivity is an amazing EV 0.5 to EV 18. This camera also includes a diagonally mounted cross type sensor which is sensitive to both vertical and horizontal lines at f/2.8 which enhances operation in low light situations. It also has a number of different focus modes, which you will find very useful and time saving, including One Shot AF, AI Focus AF and AI Servo AF.

Another useful addition to the camera is the HDMA output. You can now view and show off your pictures directly on a HDTV and with the quality of this camera, they will look fantastic. All in all, the Canon EOS 50D is a superb camera to use and will take incredible quality pictures for you.

Read a complete Canon 50D review today and discover why this low price high quality camera is rapidly becoming one of the most popular and favorite cameras on the marketplace. Click here now for the Canon eos 50d best price with rapidly home delivery. It won't be long before you are enjoying the many features of this superb camera and taking high quality shots.

Are YOU Looking for 50D CANON? Here's 50D CANON information for you!
Want to learn about 50d canon?  Loads of 50d canon tips and tricks, all FREE here.

Jumat, 02 Mei 2014

LARAS |GADGET

Bergantung pada Mirrorless

Menurut laporan Camera nda Imaging Products Assosiation atau asosiasi produsen kamera dan imaging Jepang, CIPA, antara Januari hingga Juni 2013 lalu, para produsen kamera digital di Jepang hanya mampu mengapalkan sebanyak 30 juta unit kamera digital, atau turun 43% di banding tahun sebelumnya.

KAMERA ponsel gue udeh cukup kok buat foto-foto kegiatan sehari-hari. Buat apa bawa kamera yang besar? Repot, lagian agak gak pas aja kalau dibawa ke mall atau temapt lainnya kalau Cuma buat foto bareng.”

Begitulah ucapan yang terlontar dari mulut pemuda yang mulai malas membawa-bawa kamera DSLR ke mana-mana. Selain berat dan repot, membawa-bawa kamera DSLR sering dijadikan bahan ejekan misalnya mulai dari “kayak yang jago aja” atau “widih, fotografer tuh”. Celetukan itu yang mulai membuat pemuda ini mulai beralih ke kamera ponsel saja.

Inilah yang membuat penjualan kamera digital sedikit merosot karena ponsel menjadi andalan untuk kegiatan sehari-hari. Kini, kamera DSLR hanya bisa menggarap segmen yang benar-benar professional atau hobi. Namun, ditengah kelesuan itu masih ada harapan melalui produk kamera mirrorless.

Dengan ukuran lebih kecil dari DSLR, tetapi dengan kualitas gambar yang sama bagusnya dengan DSLR, kamera mirrorless menjadi pilihan yang tepat bagi mereka yang tidak ingin kerepotan dalam membawa kamera yang besar. Soal kualitas dengan kamera posel? Tentu lebih baik. Apalagi kemampuannya ybang bida digonta-ganti lensa sesuai kebutuhan menjadi faktor menarik pembeli.

Berdasarkan International Data Corporation (IDC), industry kamera mengalami penurunan pada 2013. Penjualan DSLR turun 11%, sedangkan compact camera turun 40%. Kamera mirrorless pun sebenarnya turun, tetapi tidak banyak, hanya 1,2%. Namun, di sinilah seharusnya kepintaran para produsen diuji coba. Mereka seharusnya lebih mampu memanfaatkan pasar compact camera dan DSLR untuk pindah ke mirrorless atau setidaknya tidak berpindah ke ponsel kamera.

Beberapa produsen pun sudah melakukan banyak cara, misalnya Sony. Tahun lalu, Sony menawarkan sensor full frame sebaik DSLR kelas ata. Olympus juga terus memperbaiki kualitas sensornya agar bisa menghasilkan gambar yang baik. Nikon pun tidak tinggal diam, sejumlah perbaikan dari bodi hingga memperbanyak jenis lensa juga dilakukan agar tetap bisa menarik pembeli.

Kamis, 24 April 2014

Kamera Tanpa Cermin yang Kian Memikat

By Hendrik

SELAIN penguasaan teknik memotret, peralatan fotografi memiliki peran sangat penting terhadap hasil akhir sebuah jepretan. Itulah sebabnya, banyak orang lebih memilih kamera jenis digital single-lens reflex (DSLR)-yang memiliki performa mumpuni dan segudang fitur canggih, disbanding kamera jenis lain.
Namun, apakah fenomena tersebut kini masih cukup relevan, mengingat pekembagnan teknologi fotografi yang  sangat pesat?

Memang kamera DSLR merupaka nkamera canggih yang dapat menghasilkan gambar tajam, dramatis, dan detail. Namun, hal ini pulalah yang membuat bodi kamera DLSR terbilang besar. Nah, dengan hadirnya kamera miroless atau mirrorless interchangeable-lens camera (MILC) atau disebut juga digital single lens mirorrless (DSLM) orang akan berpikir ulang sebelum membeli DSLR, terlebih digunakan untuk beravonturir.

Cara kerja kamera mirrrorless hampir sama dengan kamera DSLR. Perbedaannya, kamera ini tidak menggunakan cermin yang berfungsi memantulkan cahaya ke jendela bidik (viewfinder). Cahaya yang masuk melalui lensa langslung diterima sensor dan ditampilkan di viewvinder elektronik. Hal ini membaut kamera lebih kecil dan ringan sehingga mudah dibawa ke-mana-mana.

Lensa pada mamera mirrorless dapat digantikan, sama seperti kamera DSLR. Jenis da ntingkat ketajamannya pun berbeda-beda. Dengan demikian, tak heran jika hasil jepretan dari kamera ringkas ini tidak berbeda jauh dengan hasil foto kamera DSLR.

Bagi para teveler, yang notabene selalu mempertimbangkan kepraktisan dan kemudahan dalam membawa sesuatu, memilih kamera mirrorless adalah hal yang  tepat. Selain ringkas dan ringan, kamera  tersebut umumnya lebih murah ketimbang kamera DSLR-kecuali merek tertentu, seperti Leica, Ricoh, da nFujifilm X series, yang harganya setara, bahka nlebih tinggi disbanding DSLR kelas menengah. Harga tersebut tentu terbayar dengan hasil yang maksimal, yang mampu diadu dengan kamera DSLR.

Hadirnya kamera mirrorless tahan air dan guncangan, yang dibuat oleh Nikon, juga membuat kancah fotografi kian menarik. Dengan harga sekitar 10,5 jutaan, pengguna dapat menggunakan kamera tangguh bersensor 14,2 juta piksel. Menariknya lagi, kamera ini dilengkapi fitur outdoor seperti kompas elektronik, GPS dan pengukur kedalaman. Selain itu, saat hendak memotret di dalam air, dengan kedalaman maksimal 15 meter, kamera tersebut tidak perlu diberi casing tambahan yang berfungsi menahan masuknya air.

Ada juga kamera mirrorless mungil besutan Panasonic yang dapat dijadikan alternative para traveler. Sama seperti mirrorless lainnya, meski berukuran segnggam tangan orang dewasa, lensanya dapat diganti-ganti sesuai kebutuhan.

Pengaturan kamera dapat dilakukan melalui layar sentuh LCD maupun tombol yang cukup fungsional, yang terdapat di bagian atas maupun belakang bodi. Meski mungil, kamera ini memiliki shutter speed maksimum mencapai 1/1600 detik. Kamera ini juga dilengkapi teknologi WiFi sehingga urusan transfer foto tidak lagi jadi masalah.

Kamis, 17 April 2014

GALERIA

VINEOGRAPHER dari Indonesia


VINE merupakan aplikasi ponsel yang memudahkan seseorang berbagai video dalam sebuah twit. Aplikasi ini meraih debutny ketika hadir pada Januari 2013 di Apple App Store, jauh sebelum instagram menambahkan fitur video sharing.

Tidak seperti aplikasi video sharing sejenis Youtube atau Vimeo, durasi maskimal vieo yang mampu direkam Vine hanyalah 6 detik. Pengguna cukup menyentuh dan menahan layar ponsel untuk merekam. Kemudian, lepaskanlah jari untuk jeda dan mencari obyek lain jika dibutuhkan. Lalu, rekam lagi hingga durasi 6 detik terisi penuh.

Membuat video dalam hitungan detik ternyata tidak memupuskan kreativitas para pengguna. Tersimpan banyak video inspiratif dan kreatif dari seluruh penjuru dunia. Namun, ada hal yang lebih membanggakan. Sala hsatu pengguna Vine (Viner) asal Indonesia meraih penghargaan kategori Vinographer dalam The Shorty Awards. Dialah Wahyu Ichwandardi yan juga dikenal dengan nama Pinot.

Menurut Pinot dalam situs web Moblivious, vineography  pada dasarnya adalah videografi yang dilakukan dengan menggunakan pembatasan dari Vine. Durasi yang ditentukan adalah 6 detik, tidak boleh mengakses Camera Roll. Jadi, pengguna langsung merekam gambar dengan mengaktifkan Vine .dalam video pidato kemenangannya, Pintor berharap bahwa vineographer dapat dikenal sebagai sebuah profesi.

Kamis, 10 April 2014

KLINIK | FOTOGRAFI

Fotografi Tidak Cuma Masalah Optik Lagi

Tips & catatan Arbain Rambey (Kompas, Selasa, 8 April 2014). Disajikan kembali oleh HendrikTan


Saya selalu mendambakan peta yang hidup dan bernapas,” kata Manik Gupta, Group Product Mgr fr Google Maps di Siem Reap, kamboja, akhir pekan lalu. Google Maps adalah bagian dari Google yang khusus mengembangkan aneka peta dengan pendekatan-pendekatan baru.

Peta yang hidup? Peta yang bernapas?

Ya, saat ini peta sudah demikian maju, kalau anda membuka Google Street View (mulailah dengan membuka www.google.com), anda bisa mempelajari sebuah tempat dari foto tiga dimensi tentang tempat itu yang dibuat ribuan pemakai Google dengan sukarela. Anda bisa memutar-mutar  arah pandang sampai anda sungguh “menguasai” tempat tersebut.

Lebih jauh, kini anda sudah bisa mempelajari detail sebuah tempat dengan “bergerak” di layar monitor (atau telepon cerdas) dengan seakan anda sedang berjalan di tempat itu, dengan arah dan jarak sesuai dengan kemauan anda. Peta yang ada di Google Street View sungguh membawa anda seakan sudah berada di sana tanpa beranjak ari tempat duduk saat ini.

Kini tujuh benua (termasuk Antartika dan Alaska/Greenland), 50 negara dan sekitar 6 juta mil jalan sudah dijelajahi Google Street view dengan kamera khusus yang dikembangkan Google.
Optic plus perangkat lunak

Kamera khusus yang dikembangkan Google merekam dalam tiga dimensi dengan cara sangat khusus. Dulu, foto tiga dimensi dihasilkan dari dua kamera yang mewakili mata manusia.

Tiga dimensi yang “dianut” Google adalah tiga dimensi yang akan diolah perangkat lunak khusus sehingga menghasilkan rekaman total sebuah tempat dalam elbih dari tiga dimensi. Anda bisa bergerak ke arah mana pun, bisa pula melihat kea rah mana pun di titik mana pun.

Kamera dengan 10 sampai 12 arah pandangan yang dikembangkan Google dibawa orang berjalan di area dimana hanya bisa dijelajahi kaki, atau dengan mobil pada area yang memungkinkan dilewati mobil.
“Hasil pemotretan beruntun itu lalu kami olah dengan perangkat lunak yang kami kembangkan. Maka jadilah peta yang merekam sebuah tempat dalam segenap sisinya, segenap detailnya,” kata Wakil Presiden Google untuk komunikasi Asia Pasifik.

Bisa dikatakan, saat ini fotografi telah masuk ke babak yang lebih tinggi. Fotografi tidak semata masalah optic lagi, tetapi juga masalah bagaimana hasil pemotretan itu bisa meningkat ke tingkat yang lebih tinggi dengan bantuan perangkat lunak. Tanpa diolah, memang fotografi akan terbatas pada gambar mati dalam dua dimensi dan terbatas.

Menyangkut Budaya

Tak hanya itu, Google Street View sudah mengjankau hal lebih dalam lagi. Beberap temapt penting sudah terpetakan dengan detail. Museum Nasional Indonesia, misalnya. Anda bisa masuk Museum Nasional ari tempat duduk anda lewat komputer, lalu melihat dengan detail aneka koleksi yang ada di sana. Sangat detail bahkan serat kain sebuah ulos bisa terliaht jelas.

Potret detail sebuah benda bersejarah memang perlu ada untuk menghindari pemalsuan. Sjahrial Djalil, kolektor benda seni, mengatakan bahwa potret detail sebuah benda seni membuat benda itu tak bisa dipalskukan. “Retakan dan aneka detail jelas tak bisa ditiru. Selama ini pemalsuan benda seni terjadi karena orang tidak tahu deatilnya.” Kata pemilik Museum Dalam kebuh di Kemang Timur, Jakarta Selatan, ini.
Fotografi memang seubah temuan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Dan dengan digabungkan dengan aneka penemuan lain, fotografi jelas merupakan bagian kehidupan manusia sampai kapan pun.

Selasa, 08 November 2011

Taste Rangefinder DSLR
 

By Hendrik Tan

For those who are reluctant to carrying a large camera , M9 is the best alternative. The body is simple and designed like any other Leica products are allowed to classic era so it is not everlasting. German-made camera manufacturer has been producing since the 1920s this was simply handling priority. Including the preparation of function buttons (menu and control).

Though mini, M9 is the successor to a 35mm film camera legend is modified in a digital format. Thus making a compact digital camera M9 Rangefinder-based mining with full frame capability!

Rangefinder is not a SLR. But this type as a friend streets with natural objects, landscapes, interiors, to nature photography. Rangefinder users do not make trouble flipping the lens as it did in DSLR. He weighs just a pound to make the shoulders or neck is not fast stiff when carrying the M9 full day. Battery duration M9 is good enough, the average enough to perform about 600 frames (1000 frames when the LCD is not activated).

Setting menu is also not as complicated as a DSLR. Choose one of the menu and instantly ready to shoot. ISO and white balance settings are also quite through one button. This tiny camera is also very practical and does not take a great place to store them. No kalh important is that you can also pretend to be non-professional photographers than when carrying a DSLR that bongsor.

M9 uses a CCD sensor resolution of 18 mega pixel camera with 16-135 mm kit lens is equipped with image stabilizer. Balance mode setting of auto, manual 7 presets, or termprature color selection. Using a media store 2 GB SD card that can be adapted to 32 GB and ISO options starting 80-2500. Shutter response at 6 frames per second.



While in the back, a 4.3 inch size LCD helps correct the picture. Moreover, this camera has been equipped Phtotoshop Adobe Lightroom software for perfecting the activity. has been marketed since September 2011 and priced at U.S. $ 7,675.00 plus Leica International warranty with silver and black color options. Collection of interesting choices!