Selasa, 04 April 2017

POTRET MURAM PESISIR UTARA

FOTO PEKAN INI
#Imajinasi Keindahan Semesta
#Mengirim Doa
#Perjalana Ziarah
#Sisa Terjangan Ombak
# Tanah Terakhir

Cameracanon.blogspot.com – ABRASI  yang terus menggerus pantai utara Jawa selama puluhan tahun menghilangkan daratan. Air laut menggenang hingga beranda rumah warga akmpung. Garis pantai yang terus menghilang menggiring ombak yang menerobos tanpa batas.
Lahan pertanian, pekarangan dan rumah yang mereka tinggali lambat  laun tenggelam. Hidup mereka berdampingan dengan genagan rawa berair payau.
Lukisan alam besama satwa di sepanjang tembok kampugn menjadi sebuh imajinasi dan sebatas mimpi. Jejak leluhur yang mereka tandai dengan batu dan kayu nisan turut pelan-pelan tenggelam di bawan permukaan air.
Tradisi berziarah makam yang setiap waktu dilakukan membuat warga Kampung Tambakmulyo, Kampung Tambakrejo, Kmapung Banadarharjo hingga Desa Bedono, Kabupaten Demak, harus bersusah payah menjaga setiap jengkal tanah agar tidak tenggelam.
Warga terus-menerus meninggikan gundukan tanah makam. Begitu juga mereka harus menyelamatkan rumah dengan meninggikan lantai agar tidak tergenang.
Sebuah ironi pesisir pantai utara ketika sebagian daratan menghilang dan mereka tengeglam, sebagian lain menciptakan daratan baru yang menawarkan masa depan….[Kompas, Minggu 10 Januari  2016 |Teks dan Foto P Raditya Mahendra Yasa ]

Jumat, 03 Maret 2017

Memasuki Musim Kebakaran Hutan

FOTO PEKAN INI

#Sebaran asap kebakaran

#Terbang di Antara Batang Arang

#Bersih bersih

#Sisa Api

#Membuat Tampungan

Cameracanon.blogspot.com – SEEKOR  gagak terbang di antara batang arang. Beberapa kali ia berputar-putar sambil berkicau lantang. Ia mungkin sedang mencari rumah, sahabat, dan keluarganya yang hilang. Hilang terbakar api…[Kompas, Selasa 20 Maret  2016 |Teks dan Foto Wawan H Prabowo ]

Kamis, 02 Februari 2017

Catatan Fotografis Gerhana Lalu

FOTO PEKAN INI
#Saat puncak gerhana (Ternate), yang kontras rendah dan beberapa belas detik setelah puncak gerhana yang kontrasnya leibh baik pulus bonus “cincin berlian” (Palu).
Cameracanon.blogspot.com – GERHANA matahari total yang melalui beberapa wilayah Indonesia pada 9 Maret lalu adalah gerhana matahari yang paling banyak dipotret dibandingkan gerhana-gerhana sebelumnya. Selain ini merupakan GMT pertama di Indonesia pada era fotografi digital ketika fotografi telah menjadi hal yang sangat membumi, euphoria akan kejadian ini juga dipacu aneka media yang ada.
Sebelum 2016 ini, harian kompas mengabadikan gerhana matahari total (GMT) pada 1995 di Sangir oleh fotografer Julian Sihombing (almarhum), memakai film. Saya yang juga memotret gerhana memakai film pada 1998 (gerhana matahari cincin) merasakan bahwa pemotretan memakai sarana digital jauh lebih mudah dan pasti.  Pada 1995 dan 1998 itu, baik saya maupun Julian cukup boros melakukan bracketing karena hasil pemotretan sungguh-sungguh baru diketahui setelah film diproses.
Pemilihan tempat
Pemotretan GMT akan gagal total manakala langit di tempat pemotretan tidak bersih, baik oleh mendung mauun polusi udara. Kalau dulu, pada era film, bracketing dilakukan untuk pemotretannya, pada tahun ini bracketing dilakukan dalam memilih tempat pemotretannya.
Harian kompas memutuskan memotret GMT 2016 dari banyak tempat, yaitu Pelembang (2 fotografer), Belitung, Ternate, dan Palu. Akhirnya, hanay Ternate dan Palu yang menghasilkan foto terbaik. Walau begitu, foto dari Ternate masih diwarnai langit yang tidak terlalu cerah.
Catatan terpenting dari pemotretan GMT kali ini adalah, saat terjadi puncak gerhana, kontras yang ada sangatlah rendah. Selain ISO tinggi harus dipakai (ISO 800 ke atas) untuk mendapatkan kecepatan rana yang memadai (minimal 1/60 agar fotonya tajam karena baik bulan maupun matahari bergerak uckup cepat), pemofokusan sebaiknay memakai mode manual. Dari pengalaman lalu, otofokus sulit didapat saat puncak GMT terjadi.
Sementara momen beberapa belas detik setelah puncak GMT, yaitu saat Bulan sudah tidak menutup Matahari secara total lagi, itu adala hsaat memotret terbaik. Selain kontras lebih baik, otofokus bisa berfungsi lagi, pemunculan titik sinar yang sering disebut “cincin berlian” juga menjadi hal khas sebuah GMT.
Fotografer Yuniadhi Agung yang memotret cincin berlian di halama ini memakai lensa 300 mm /f2,8 yang memakai telekonverter 2X. dari EXIF terliaht bahwa diafragma yang terjadi adalah f/36. Ini adalah angka akibat perpanjangan converter karena sesungguhnya Yuniadhi memasang f/18 di lensa 300 mm-nya. Maka, efek f/36 ini membuat titik berlian menjadi berbintang alias berpendar.
Sementara menyangkut white balance (WB), Heru Sri Kumoro di Ternate memotret puncak gerhana memakai WB daylight. Akibatnya, fotonya menjadi kebiruan. Sesungguhnya puncak gerhana adalah blue hour karena cahaya yang sampai ke bumi adalah cahaya yang melewati langit biru, bukan dari Matahari langsung. Yuniadhi memakai WB auto  yang berkerja baik sehingga fotonya “normal”.
Film rontgen dan kaca las
Hal lain yang mencuat adalah kenyataan bahwa banyak barang bisa dipakai sebagai filter untuk memotret gerhana ini, terutama gerhana parsial. Raditya Helabumi dan Raditya Darian Suryahutama memotret memakai film rontgen di Tugu Tani, Jakarta, dan di Tangerang. Sementera Ferganata Indra Riatmoko memotret memakai kaca las di Candi Borobudur.[Kompas, Selasa 15 Maret  2016 |Teks dan Foto Arbain RAmbey ]

Minggu, 01 Januari 2017

SULITNYA MENGOLAH DAN MEMURNIKAN EMAS

Cameracanon.blogspot.com –DI INDONESIA , penambangan emas dilakukan oleh perusahaan Negara, swata, dan masyarakat umum. Namun untuk pembuatan dan pemurnian emas, satu-satunya pabrik pengolahan dan pemurnian logam mulia di Indonesia hanyalah unit pengolahan dan pemurniaan  logam mulia PT Aneka Tambang (Antam). Pabrik yang berlokasi di kawasan Pulogadung, Jakarta Timru, itu berdiri sejak 1930-an.
Produk utama pabrik ini adala hemas murni dalam bentuk batangan emas satandar berkadar 99,99 persen. Selain itu, produk lain juga dibuat, seperti medali, liontin, serta emas industry untuk kebutuhan  perhiasan dan kebutuhan dokter gigi.
Secara garis besar, pemurnian logam mulia meliputi proses peleburan, electrorefining perak, pelarutan, electrorefining emas, dan percetakan. Produk akhirnya adalah emas murni, yang dicetak menjadi berbagai ukuran, dan Kristal perak murni.
Setelah proses peleburan, di lakukan proses produksi emas yang meliputi perancangan desain, percetakan, pemberian tanda dan logo, pemberian nomor seri, dan pengecekan berat agar sesuai standar.
Kualitas produk yang dihasilkan diawasi dengan ketat agar memenuhi standar emas dunia yagn ditentukan oleh lembaga bernama London Bullion Market Association (LBMA). Sejak akhri Desember 1998, pabrik ini terpilih sebagai produsen emas yang dinilai mampu mencetak dan memurnikan emas dengan berat dan kadar yang sangat teliti dan benar (99,99 persen).

Mulai 1 januari 1999, emas yang diproduksi pabrik ini berhak memperoleh sertifikat LBMA dan tercatat dalam London Good Delivery List For Gold. Dengan kadar seperti itu, emas produksi pabrik ini sudah diterima di pasar Singapura, Hongkong, dan beberapa Negara lain.

Senin, 12 Desember 2016

Merekam Data, Fakta, dan Rasa

Tips & Catatan |Arbain Rambey
SUNGGUH sulit mendefinisikan apa itu fotografi documenter. Wlaupun dokumentasi selalu berarti “merekam sesuatu”, merekam sebuah negeri secara visual dengan kamera adalah keputusan yang akan berdasarkan selera dan jalan pikiran sang perekam.
Misalkan ada tiga orang, masing-masing pengajar tari, pengajar tata boga, dan pengajara selam, ditugaskan membuat  dokumentasi fotografi tentang Indonesia, bisa dipastikan ketiganya akan memotret hal-hal berbeda, bukan? Pengajar selam bisa dipastikan banyak mengunjungi Indonesia bagian timur dan foto-foto karyanya sangat jarang dibaut pada malam hari. Pengajar tari pasti member porsi besar kepada Jawa dan Bali. Sementar pengajar tat boga banyak berkutat di Indonesia bagian barat.
Bagaimana jika ada Sembilan fotografer jurnalistik memotret Indonesia?
Inilah yang terjadi saat Yuniadhi Agung, Edy Purnomo, Prsetyo Utomo, Mast Irham, Peksi Cahyo, Ahmad Zamroni, Dita Alangkara, Beawiharta, da nSumaryanto Bronto yang tergabung dalam kelompok 1000 kata membuat buku fotografi tentang Indonesia dengan judul #Ini Negriku. Kesembilannya merupakan fotofrafer jurnalistik yang bekerja di berbagai media dan kesembilannya bisa dikatakan fotografer-fotografer senior di Indonesia.
Dalam peluncuran buku ini, pekan lalu di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, mereka menyebutkan bahwa pemilihan lokasi pemotretan, yiatu Sabang, Sibolga, Banyuwangi, Putussibau, Berau, Bima, Labuan Bajo, Ende, Sumba, Ternate, Tidore, langur, Saparua, Soronga dan Raja Ampat, berdasarkan kenyataan bahwa lokasi-lokasi itu belum terlalu banyak direkam untuk “mewakili” Indonesia secara umum saat ini. Sementara kurtor buku ini yang juga ikut memotret, Edy Purnomo, mengatakan bahwa pemilihan foto berdasarkan pada jargon anti-mainstream alias pendekatan yang tidak biasa.
Secara umum memang buku ini merekam Indonesia dengan pendekatan jurnalistik secara menarik. Beberapa foto yang ditampilkan bersama tulisan ini sungguh menampilkan rasa Indonesia dengan kental dan indah: keberagaman agama, adat yang masih dipertahankan, kehidupan yang damai, dan wjaha khas yang berbeda antara satu tempat dan temapt lain.
Buku ini secara umum luar biasa karena merekam Indonesia dengan epndekatan menarik. Bahkan foto kuda meringkik di sampul (karya Marst irham) sungguh menarik untuk symbol “ini Indonesia”. Selama ini, kuda sangat jarang idpkai untuk mewakili Indonesia, padahal kuda sumba sungguh terkenal.
Dan kalau harus menyebut kekurangan buku ini, mungkin itu ada di pemilihan beberapa foto saja. Mereka mdengan foto untuk dimuat di Koran beberapa hari setelah pemotretan dan mereka mdengan foto untuk dkomunetasi jangka panjang tentu berbeda. Beberapa foto di buku ini sebenarnya hanay cocok untuk pemuatan temporer. Foto tangan di jendela kapal pada halaman 10 dan foto profil pencari madu di halaman 40 adalah dua contohnya. Kedu foto itu hanyalah rekaman jangka pendek alias tidak berarti apa-apa di masa mendatang.
Akhirnya, acungan jempol layak diberikan untuk buku ini. Kita semua cinta Indonesia…kfk.kompas.com
DESCRIPTION:  BUKU FOTO INI NEGERIKU!
KEYWORDS: DOKUMENTER,FOTOGRAFER

TAGS :  MEREKAM DATA.

Jumat, 11 November 2016

Rentang Dinamis pada Kamera Papan Atas

KAMERA yang dibahas dalam tulisan ini bisa dikatakan sesungguhnya tidak perlu beriklan. Dengan harga ratusan juta rupiah, kamera ini memang punya konsumen sangat khusus. Para pembeli umumnya sudah tahu info lengkapnya dalam jaringan kecil yang terus saling berhubungan.
phaseOne  SF dengan sensor 100 megapiksel memang dibutuhkan untuk berbagai keperluan khusus. Dan, tulisan ini akan membahas masalah teknis yang berguna untuk memahami kamera lain di kelas tengah dan bawah.

Banyak orang bertanya, apa gunanya 100 MP, sementara ada kamera  dengan 50 MP dan harga jauh di bawahnya?
Jawaban hal itu adalah sensor besar lebih punya peluang untuk lebih baik terhadap sensor kecil manakala kedua sensor buatan tahun yang sama. Memang tidak tertutup kemungkinan kemampuan XF 100 MP ini akan disamai kamera kelas di bawahnya beberapa tahun lagi. Tetapi, pada saat itu tentu sudah ada XF lain yang kemampuannya juga meningkat.
Bagaimanapun, pada masalah sensor, atau alat perekam utama sebuh kamera digital, ukuran menentukan kemampuan karena ini menyangkut ukuran pikselnya juga. Rekaman 16 megapiksel dari sensor 24 mm x 36 mm tentu kala dalam segalanya dengan rekaman 16 megapiksel dari sensor 60 mm X 45 mm.
Rentang Dinamis

Hal paling menonjol dalam sensor besar adalah rentangdinamis. Kalau Anda sering mengolah foto Anda dengna perangkat lunak seperti Photoshop, Anda tentu bisa merasakan betapa foto dari sensor full frame (24 mm x 36 mm) jauh leibh mudah “diapa-apain” daripada foto dari kamera saku walau kedua foto megapikselnya sama bukan? Inilah hal yang terasa langsung dalam soal rentang dinamis foto (dynamic range).

Rentang dinamis XF 100 MP sebesar 15 stop tentu jauh di atas kemampuan kamera-kamera DSLR “normal” yang sekitar 10 stop saja. Pada XF 100, bagian tergelap rekaman foto berada 15 stop di bawah rekaman paling terangnya.
Agar mudah dipahami, perhatikan foto contoh-contoh di halaman ini yang saya buat dengan XF 100 MP. Pada foto model itu, pipi kirinya adalah area bayangan (shadow). Kalau pemotretan dilakukan dengan kamera biasa, bayangan akan tinggal bayangan, alias kalau “diangkat” dengan Photoshop hanay menyisakan area penuh noise dan grain tanpa detail yang memadai.
Dengan kemampuan rentan dinamis yang tinggi, area yang sangat gelap sebenarnya masih menyisakan detail yang baik, demikan pula area yang sangat putih masih juga menyisakan detail.

Bentuk kamera medium format umumnya sederhana dan jarang mengubah penampilannya pada versi yang lebih baru. Tanda 100 megapiksel hanya tertera pada sebuah tulisan kecil.
External links : kfk.kompas.com

Senin, 10 Oktober 2016

Pameran Foto Wonderful Indonesia di Turki dan Thailand

PEKAN LALAU klik bertemu dengan Agatha Bunanta, wanita fotografer Indonesia yang banyak memenangi lomba international dan juga sering diminta jadi juri di banyak Negara. Agatha dengan gembira berkisah bahwa dirinya baru saja dari Izmir, Turki, menggelar pameran foto tentang Indonesia di sana.
“Ini pameran kedua di Turki, lho. Tanggal 6 Februari di Istanbul, sedangkan 4 April pembukaan pameran foto di Paragon Mall, Bangkok,” kata Agatha bangga.
Agatha yang memotori Yayasan Art Photography of Indonesia yang melaksanakan pameran foto itu menuturkan bahwa pameran bertajuk “Wonderful Indonesia” itu dalam waktu dekat juga akan digelar di Oman dan Belgia.
Klub setempat
Dalam pameran di Turki dan Thailand itu, Yayasan Art Photography of Indonesia bekerjasama dengan fotografer dan klub foto stempat yang pernah berburu foto di Indonesia. Jadi, foto-foto yang dipamerkan tidak semata karya fotografer Indonesia.
Di Turki, pameran dibuka Duta Besar Indonesia untuk Turki dan Walikota Istanbul. Adapun tanggal 4 April pada pameran dibuka KU Kedutaan Indonesia untuk Thailand.
Para fotografer Indonesia yang berpartisipasi di pameran Turki adalah Agatha Anne Bunanta, Edwin Djuanda, Sigit Pramono, John Hantoro, David Somali, Medi Wiharyono, Indra Prameswara, Qwadru Putro Wijaksono, Vincent Kohar, dan Evi Arbay.
Sementara yang berpameran di Thailand ialah Agatha Anne Bunanta, Edwin Djuanda, John Hantoro, I Made Arya Dedok,  Qwadru Putro Wijaksono, Vincent Kohar, Elyana Dasuki, Rudy Sunandar dan Edwin Benyamin.[Sumber : Kompas, Selasa 24 Mei 2016 ]
#Kebun Bawang Majalengka – Elyana Dasuki
#Pulau Komodo – Indra Prameswara
#Batu Payung – Qwadru Putro Wicaksono