Camera Canon , situs pemberi info dan tips serta "guidance" seputar Camera Canon , Camera Canon Selalu menyenangkan!
Rabu, 25 Oktober 2017
Selasa, 10 Oktober 2017
Memahami Estetika Foto Jurnalistik
Pekan lalu, rubrik KLIK telah
membahas soal etika dalam foto jurnalistik. Kali ini yang akan kita bahas
adalah estetika, atau masalah keindahan visual sebuah foto. Almarhum Kartono
Ryadi, redaktur fotografi harian Kompas 1980-1996 dan 2000-2003, mengatakan
bahwa foto jurnalistik berhak dan wajib tampil indah.
Kartono Ryadi yang biasa disapa KR
ini menegaskan bahwa foto yang biasa-biasa saja tidaklah menarik orang untuk
menyerap informasinya. “Koran tidak cuma jualan informasi. Kalau penampilan
sebuah koran tidak menarik, orang tidak akan tertarik membaca atau membelinya”
kata KR kalau memberikan pembekalan kepada fotografer baru Kompas.
Lebih jauh, KR pernah mengatakan
ini, “Kalau memotret usahakan menjauhi kamerawan televisi. Jangan sampai fotomu
cuma versi diam dari adegan yang sudah disaksikan orang di televisi.”
Berpikir Beda
Pedoman yang diberikan almarhum KR
sebenarnya masalah estetika. Seorang jurnalis foto harus selalu berpikir untuk
menghasilkan foto menarik, berbeda dengan karya fotografer lain yang memotret
acara yang sama. Bayangkan kalau semua koran memasang foto yang mirip. Sangat
membosankan.
Foto Candi Borobudur yang dipotret
dari Punthuk Setumbu bisa dikatakan dipopulerkan harian Kompas setelah dimuat
sebagai headline pada 2 Januari 2004. Sebelumnya, Candi Borobudur umumnya hanya
dipotret dari tempat terdekat. Setelah pemuatan itu, sangat banyak telepon
datang ke redaksi menanyakan tempat pemotretan yang kini makin populer setelah
muncul di film Ada Apa dengan Cinta 2.
Demikian pula suasana bongkar muat
di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 2003 pasca penyerangan Amerika
Serikat ke Timur Tengah pada Perang Teluk 2. Pemotretan dengan sudut rendah
dengan latar belakang matahari, menghasilkan foto yang tidak sekadar tampak itu
suasana bongkar muat.
Akan halnya foto pertandingan voli
yang dipotret dari atas Istora, Senayan, Jakarta, sesungguhnya tidak selalu
bisa dilakukan karena tergantung adanya tangga yang tersedia. Tangga hanya
tersedia biasanya setelah terjadi proses perawatan, dan hanya fotografer yang
jeli yang memanfaatkannya. Almarhum Julian Sihombing telah memakai tangga itu
sejak awal 1990-an, terutama untuk memotret pertandingan bulu tangkis.
Tak bisa dilupakan suasana demo
mahasiswa pada peristiwa Mei 1998 karya Eddy Hasby yang memakai teknik
backlight. Demo yang biasanya tampil “menyeramkan”, justru tampil indah. Foto
ini juga menjadi sampul sebuah buku tentang peristiwa 1998 itu.
Sabtu, 09 September 2017
Memotret dan Memandang Foto: Tiga Lapisan Visual
# Tampak subyektif Subyek-yangmemandang
Subyekyang-memotret
Dalam buku Kisah Mata, Fotografi antara Dua Subjek:
Perbincangan tentang Ada (2005), berdasarkan pengakuan para juru foto dalam
Photography Speaks (Brooks, 1989) maupun analisis para pengamat fotografi
(Barthes, Berger, Messaris, Soerjoatmodjo, Sontag, Strassler), saya telah
mempertegas padan-paralel keber-Ada-an (1) juru foto dengan obyek fotonya di
satu pihak; (2) pengamat foto dengan foto yang menjadi obyek pengamatannya di
pihak lain; dan dalam peleburan abstraksinya masih mendapatkan kebergandaan
Ada. Dalam Kisah Mata Edisi 2 (2016), saya menepis perlunya peleburan abstraksi
atas paralelitas padan Juru Foto–Obyek Foto dan padan Pemandang Foto–Karya Foto
untuk menemukan Ada. Namun, saya menambahkannya dengan perbincangan tentang
lapisan-lapisan visual yang berkemungkinan ditembus seorang juru foto, dalam
proses menuju momentum klik! Baru saya sadari kemudian, saya belum
memperbincangkan padanannya: Apa yang berlangsung pada pemandang foto ketika
memandang foto? Di sini catatan itu saya teruskan, sekaligus mengujikannya
kepada diri sendiri, dengan menjadikan foto-foto Senjakala Kalijodo karya RA
Vadin sebagai obyek pengamatan. Betapapun, saya hanya mungkin sampai kepada
perbincangan itu jika mengulanginya dengan lebih tertata, seperti berikut.
Tampak Dunia bagi
Juru Foto
Terdapat tiga lapisan konseptual di depan mata manusia yang
menentukan makna ketertampakan di hadapannya. Lapisan pertama adalah Tampak
Optis bagi mata tak buta Pada Tampak Optis, hanya terdapat makna obyektif—jika
masih bisa disebut makna—bahwa apa pun yang terjangkau oleh daya tangkap mata
akan terlihat. Disebut obyektif, karena ketertampakan hadir oleh fungsi mata
sebagai instrumen, yakni alat untuk melihat. Dalam hal ini, manusia non-subyek,
karena pikirannya tidak bekerja sebagai subyek, tetap dapat melihat karena
matanya memang berfungsi, tetapi yang dilihatnya tak dapat hadir sebagai makna.
Ibarat kata mobil datang ke arahnya, tak akan disadari sebagai bahaya, meski
dapat dilihatnya—karena ketertampakan hadir sebatas Tampak Optis. Lapisan kedua
adalah Tampak Kultural Pada Tampak Kultural, pencerapan menghadirkan
ketertampakan ke dalam dua kategori, yakni (a) Tampak Visual Dikenal, jika
ketertampakannya bermakna, seperti daun yang dikenalinya sebagai daun, dan daun
ini akan bermakna baginya sejauh pengenalannya atas eksistensi daun; dan (b)
Tampak Visual Tak Dikenal, jika ketertampakannya tidak menjadi makna, seperti
pemulung melihat buku-buku sebagai tumpukan kertas yang bisa dijual kiloan, dan
bukan karena isinya. Buku bermakna terutama karena isinya, tetapi bagi pemulung
makna buku tergantung seberapa berat kertasnya. Suatu obyek dikenal atau tak
dikenal tertentukan oleh konstruksi budaya Subyek-yang-Memandang, yang jika
kemudian memotret akan disebut Subyek-yang-Memotret, karena akan sampai pada
lapisan selanjutnya. Lapisan ketiga adalah Tampak Fotografis Pada Tampak
Fotografis, ketertampakan menjadi khusus, yakni hadir dalam seleksi keinginan
dan kebutuhan seorang juru visual, dalam hal ini juru foto, apakah ia seorang
pewarta, dokumentalis, peneliti, pengiklan, atau seniman foto. Faktor keinginan
akan mencerap (a) Tampak Personal, dan faktor kebutuhan akan mencerap (b)
Tampak Fungsional. Dalam kategorisasi makna seperti ini, ketertampakan visual
dapat dipilih dari yang dipilah, tapi dapat pula terleburkan, jika suatu obyek
memenuhi keinginan dan kebutuhan sekaligus—sehingga Tampak Personal sekaligus
hadir sebagai Tampak Fungsional. Seorang pewarta foto yang tidak berselera
memotret pipa-pipa baja akan tetap memotretnya jika tugas menuntutnya, dan
dengan suka hati memotret aktris favoritnya, ada maupun tidak ada penugasan
untuk itu; sama seperti seorang ilmuwan dengan lensa mikro memotret, misalnya,
unsur-unsur pembentuk spesies cacing pita baru.
Tampak Foto bagi
Pemandang
Kesahihan Subyek-yang-Memandang berlangsung dalam proses
yang sepintas lalu merupakan kebalikannya, yakni mulai dari fotonya, tetapi
bukan untuk menjejaki proses yang sudah dilalui juru foto, melainkan untuk
membongkarnya dalam pembermaknaan Subyek-yang-Memandang. Saya kira proses
menuju foto pun melalui lapisan visual pertama, yakni Tampak Optis, tempat saya
sebagai pemandang foto proyek Senjakala Kalijodo karya RA Vadin, menyelusuri
setiap bingkai foto dalam ketertampakannya yang hitam-putih, dengan hanya satu
foto berwarna sebagai foto yang terakhir. Memasuki lapisan kedua, saya kenali
puing-puing penggusuran, yang memperlihatkan sejumlah penanda seperti botol-botol
minuman keras, poster perempuan seksi, bekas bar, gambar perempuan yang
diperlihatkan payudaranya, konstruksi ”tempat tidur” semen bertuliskan FOR SEX
yang semestinya terdapat kasur di atasnya—foto-foto ini saya kira berhasil
menunjukkan bahwa tempat yang digusur itu adalah wilayah kehidupan malam,
bahkan lebih spesifik lagi daerah hitam atau lampu merah. Meskipun begitu, saya
kenali pula penanda-penanda yang terdudukkan untuk bermakna sebaliknya, bahwa
terdapat ”orang-orang biasa” yang sebagaimana warga khalayak mana pun berangkat
kerja pada pagi hari, anak-anak mereka bersekolah dan mendapat ijazah,
beribadah, tetapi ikut tergusur—foto-foto ini bagaikan artefak masa lalu bagi
lokasi Kalijodo masa kini, yang telah menjadi pusat rekreasi serba positif dan
modern, seperti ditunjukkan foto terakhir yang berwarna, bagaikan antitesa
peradaban tubuh nan naluriah dalam istilah ”profesi tertua”. Secara keseluruhan
foto-foto ini meruapkan kondisi kumuh, yang tampak ironis dalam kecemerlangan
digitalnya. Keterpukauan atas pencapaian teknologi itu tak tersingkirkan oleh
fakta muram yang merupakan informasi foto-fotonya, karena secara visual memang
tak dapat diingkari. Foto-fotonya terlalu bersih untuk tempat kumuh.
Hitam-putihnya masih dramatik, seperti karakter spesifik hitam-putih, tetapi
hitam-putih metalik. Itulah Tampak Visual Dikenal bagi saya, selebihnya bukan
tak terlihat, melainkan masuk kategori Tampak Visual Tak Dikenal, yang sangat
mungkin merupakan gejala kekebalan, alias ”sudah immune”, akibat terlalu seringnya
melihat foto penggusuran. Memasuki lapisan ketiga, Tampak Fotografis bagi
Subyek-yang-Memotret, saya kira dapat menjadi Tampak Subyektif bagi
Subyek-yang-Memandang, karena kategori Tampak Personal maupun Tampak Fungsional
tergantung dan tertentukan oleh kedudukan atau sudut pandang
Subyek-yang-Memandang itu. Dalam hal saya, Tampak Personal maupun Tampak
Fungsional terleburkan dan mengarah kepada hanya satu foto. Dalam seluruh ruang
bingkai foto itu hanya terdapat satu lukisan.
”Jaka Tarub”: Lukisan,
Repro, Foto
Adapun lukisan itu sendiri cukup terkenal, jika tidak sangat
dikenal, dan sangat saya kenali, sehingga tentunya dengan seketika berada di
lapisan kedua, bahkan satu-satunya yang masih tampak pada Tampak Subyektif
sebagai lapisan ketiga. Lukisan itu berjudul ”Jaka Tarub” (cat minyak di atas
kanvas, 170 cm x 255 cm), karya Basuki Abdullah, yang paling sering mengalami
reproduksi, baik dalam cetakan maupun dilukis ulang, sampai menjadi klise atas
tema tersebut. Dalam foto Vadin, gambar itu mengalami cropping, dan tersematkan
pada dinding berlapis tegel. Bagaimana gambar ini mendapatkan maknanya dalam
konteks penggusuran daerah lampu merah Kalijodo? (Lukisan ”Jaka Tarub” dan foto
atas reproduksinya di Kalijodo sebelum digusur dapat dilihat di https://duniasukab.com/?p=1100
atau http://wp.me/p44nD-hK). Pertama, jika legenda lahirnya nama Kalijodo
memang tentang jodoh, atau pencarian jodoh, maka Jaka Tarub yang mengintip
tujuh bidadari mandi itu mendapatkan jodoh bidadari dengan mencuri busana salah
satunya, karena membuat bidadari bernama Nawangwulan itu tak bisa terbang
pulang. Kedua, terhadap para pekerja seks komersial, yang menjadi obyek
pemerasan sindikat prostitusi, identifikasi diri sebagai bidadari yang
kehilangan busana itu mungkin. Keterbukaan tubuh-tubuh bidadari itu juga sangat
mungkin membuat reproduksi lukisan Jaka Tarub terpasang di sana. Betapapun,
cerita dari lukisan itu terbandingkan dengan kondisi mereka. Ketiga, bahwa
Nawangwulan menemukan busana di lumbung yang kosong padi, sehingga bisa terbang
pulang ke asalnya, menjadi impian yang bisa diharapkan terjadi kepada mereka,
sehingga lukisan itu mendapatkan maknanya. Keterhubungan antara kisah bidadari
dalam lukisan itu, dan nasib perempuan pekerja seks komersial, sahih sebagai
produk bongkar-pasang berbagai pertimbangan dalam wacana penggusuran di
Kalijodo, obyek foto-foto RA Vadin. Dalam wacana seperti itulah, foto yang satu
ini hadir sebagai Tampak Subyektif, bagi saya sebagai Subyek-yang-Memandang.
Bagi saya, inilah jalan bagi Subyek-yang-Memandang, untuk memberlangsungkan
pembermaknaannya sendiri, tanpa harus mengacu—apa lagi tergantung
sepenuhnya—kepada Subyek-yang-Memotret sebagai sumber makna, yang memang tidak
perlu dianggap tersahih. Jadi bukan hanya pengarang yang mati ketika tulisannya
dibaca, tetapi juga juru foto ketika hasil pemotretannya dipandang, yang juga
berarti dihidupkan.[Kompas15 Jul 2017SENO GUMIRA AJIDARMA Wartawan]
Selasa, 08 Agustus 2017
Assalammualaikum, Salar
AVONTUR | FOTO PEKAN INI
SALAR merupakan
salah satu etnis minoritas yang beragam Islam di Tiongkok. Etnis Salar mendiami
wilayah Kabupaten otonomi Etnis Salar Xunhua yangterletak di timur laut Xining,
ibu kota Provinsi Qinghai. Dibutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan
menggunakan bus menuju Salar dengna melintasi jalan berkelok menyusuri tebing,
berpadu dengan keindahan alam berupa gugusan pegunungan. Nama Salar diyakini
berasal dari nama suku Turkmenistan yang dipanggil dengan “Salor”.
Sebagian besar warga yang bermukim
di pinggiran Sungai Kuning ini bermatapencaharian sebagai petani dan pedagang.
Masjid Gaizi merupakan masjid bear
yang menyimpan sejarah panjang etnis Salar. Di dalam museum di kompleks masjid
itu tersimpan Al Quran bertulis tanagn yang jadi identitas mereka.
Unta putih menjadi lambang dari
etnis Salar. Patung unta putih di Camel Spring diyakini sebagai awal mula etnis
Salar di wilayah itu. Banyak versi cerita tentang sejarah etnis Salar. Namun,
menurut cerita masyarakat setempat, adalah dua saudara laki-laki yang berkelana
mencari daerah baru dengan seekor unta putih yangmembawa sebuah tas berisi
tanah, sebotol air, dan kita suci Al Quran dari tanah air mereka. Hingga suatu
malam unta putih itu menghilang dan ditemukan telah menjadi patung. Namun, tas
berisi tanah, air, dan Al Quran itu tetap utuh di punuknya. Air dan tanah yang
dibawa sama dengan air dan tanah di lokasi tesebut sehingga mereka memutuskan
untuk menetap di wilayah itu.[*/CANONKAMERABLOGSPOT.COM - Sumber : Kompas, Minggu, 9 Oktober 2016 | Teks
dan Foto Oleh : Raditya Priyombodo]
KEYWORDS: memori
kelam,terus terulang.
TAGS: keputusasaan,ketakuan,cerita
memilukan,Kamp 21,Museum Tuol Sleng.
DESCRIPTION :
Excerpt : Alat-alat penyiksaan, bercak darah,
dan coretan tembok yangmengisahkan ketakutan dan keputusasaan menjadi cerita
memilukan saat pengunjung melangkah menyusuri sudut museum Tuol Sleng.
# Refleksi menara Masjid Gaizi di sumber air
Camel Spring
#Sejarah Etnis Salar di tembok pagar Camel Spring
#Remaja muslim Salar
#Muslim Salar menuju
masjid untuk menunaikan shalat Ashar berjemaah.
#Wanita Salar menikmati
keindahan di pinggiran Sungai Kuning.
Jumat, 07 Juli 2017
Memori Kelam yang Terus Terulang
AVONTUR | FOTO PEKAN INI
PADA masanya,
bangunan bertingkat yang bercat putih kusam itu adalah sebuah sekolah menengah
pertam Tyol Svay Prey di kota Phnom Penh, Kamboja. Hingga pada April 1975 ata
perintah Pol Pot yang memimpin rezim Khmer Merah, sekolah dibuah menjadi sebuah
penjara manusia.
Penjara yang dinamai S21 (security office) Tuol Sleng menjadi
ruang-ruang penyekapan dan penyiksaan bagi ribuan orang. Mereka terdiri dari
politikus, dokter, akademisi, pengacara, biksu hingga pelajar. Alat-alat
penyiksaan, bercak darah, dan coretan tembok yang mengisahkan ketakutan dan
keputusasaan menjadi cerita memilukan saat pengunjung melangkah menyusuri sudut
museum Tuol Sleng.
Pengunjung yang masuk akan dibekali
sebuah alat bantu untuk mendengarkan narasi bagaimana para tahanan diperlakukan
seara tidak manusiawi oleh tentara Khmer Merah di dalam kamp penyiksaan.
Pembantaian kelas menengah yang dilakukan oleh rezim Pol Pot kala itu di kamp
S21 untuk menghapus pengaru hdari pengikut rezim Lon Nol.
Anna (37), turis dari Inggris, yang
duduk di tengah ruangan denga peanti dengarnya menatap tajam foot puluhan wajah
perempuan dan anak yang turut menjadi korban. Menurut dia korban kekejaman
pembunuhan yang jauh dari nilai kemanusiaan akiabat dari perbedaan pandangan
politik , agama, dan suku masih berlangsung di sejumlah belahan dunia sampai
detik ini.
Seperti tujuan museum Tuol Sleng ini
diepertahankan utnuk mengingatkan dan mengisahkan bagaimana nilai-nilai
kemanusiaan tidak ada saat itu. “Bentuk kekejaman yang tidak manusiawi seolah
tidak bisa berhenti sampai sekarang hanya berubah wujud, cara, dan
berpindah-pindah tempat. “ katanya. [*/CANONKAMERABLOGSPOT.COM - Sumber : Kompas, Minggu, 21 Agustus 2016 | Teks
dan Foto Oleh : Raditya Mahendra Yasa]
KEYWORDS: memori
kelam,terus terulang.
TAGS: keputusasaan,ketakuan,cerita
memilukan,Kamp 21,Museum Tuol Sleng.
Excerpt : Alat-alat penyiksaan, bercak darah,
dan coretan tembok yangmengisahkan ketakutan dan keputusasaan menjadi cerita
memilukan saat pengunjung melangkah menyusuri sudut museum Tuol Sleng.
# Wajah-wajah beku korban
#Memori kelam kamboja
#Bayangan Kekejaman
#Ruang-ruang penjara
#Lorong Kematian
Selasa, 06 Juni 2017
Senandung Sunyi Kematian Pabrik Mori
AVONTUR |FOTO
PEKAN INI
#Terbunuh
#Terkunci
#Terdiamkan
# Tertutupi
#Terbisu
Cameracanon.blogspot.com – BANGUNAN
megah itu berdiri gagah menghadap
utara. Ornament semi-art deco berbaur
dengan gaya arsitektur era 1970-an menghias di sana-sini. Namun, kegagahan dan
keelokan gaya bangunan itu hanya menjadi sisa sedikit yagn tampak. Kini, aura
bangunan itu jauh lebih buruk dari yang seharusnya tergambarkan. Lusuh dan tak
terawat.
Itulah gambaran kondisi bangunan pabrik
kain cambric (kain mori) PC Rukun
Batik, Ciamis, Jawa Barat, yang mati dan sempat berganti menjadi pabrik busa
hingga tahun 1997. Kain mori menjadi salah satu bahan baku batik Ciamis. Di saat yang sama, kondisi batik itu pun terseok
di antara geliat liat usaha batik di Priangan, sperti Tasikmalaya dan Garut.
Ilalang hampri memenuhi setiap sudut lubang jendelanya. Barisan semut yang
bersemai di antara rerimbunan, kelepar sayap kelelawar, dan sesekali burugn
wallet yang singgah menjadi kegaduhan dari denyut kehidupan yang kini ada.
Tulisan “PC Rukun Batik” di atas
bangunan masih menancap, namun berkarat. Mesin-mesin besar tak lagi bergerak
berirama memproduksi ribuan meter kain. Kaca-kaca pecah di sana-sini.
Matinya pabrik mori itu turut
menjadi penanda era surutnya kehidupan perbatikan di Ciamis. Gempurang kain
printing motif batik dari China yang gelombangnya mulai besar masuk ke
Indonesia sejak 1980-an membuat batik Ciamis nyaris tinggal cerita. Meski masi
hmenyisakan segelintir tenaga yang berusaha menyelamatkan warisan keeokan motif
batik mereka, tetapi kini tak sesemarak lampau. Pabrik kain mori yang mati itu
menjadi penandanya. [Kompas, Minggu 7 Agustus 2016 |Teks dan Foto Rony Ariyanto Nugroho ]
Jumat, 05 Mei 2017
Sejarah Perang di Balik Gubuk Muhlis Eso
AVONTUR |FOTO
PEKAN INI
#Muhlis Eso dan barang peninggaln Perang Dunia II di gubuk museum
niliknya di Kecamatan Morotai Selatan, Kepulauan Morotai, Maluku utara, Senin
(18/7)
#Rumah gubuk dan gubuk museum Muhlis Eso
#Proyektil dan serpihan bom serta benda peninggalan tentara Amerika
Serikat
#Botol bekas minuman lemon dan soda
tentara Amerika Serikat
# Muhlis Eso menyusuri tempat persembunyian prajurit Jepang, Teruo
Nakamura, di Air Terjun Nakamura di Desa Dehegila, Morotai, Maluku Utara,
Minggu (17/7). Tempat ini dinamakan Air Terjun Nakamura sesuai nama prajurit
Jepang yang besembunyi dari tentara Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II.
Cameracanon.blogspot.com – CERITA
Dunia Ke Dua yang dituturkan sang
kakek membekas dalam ingatan Muhli Eso. Muhlis yagn kala itu masi hberusia
sepuluh tahun tergerak utnuk mencari jejak peperangan tentara Ameriak Serikata
dan Jepang di bumi Moro. Kini, 26 tahun sudah Muhlis mengelilingi Pulau
Morotai, masuk dan kelaura hutan mencari barang peninggalan perang untuk
membuktikan cerita sang kakek.
Satu persatu barang yagn dia temukan
dikumpulna dalam museum yang dia bangun di samping rumah gubuknya. Benda-benda
bersejrah bernilai tinggi itu semetinya bisa membuatnya kaya. Tapi, Muhlis
memilih hidup penuh keterbatasan demi menyelamatakan sejarah penging dunia di
Morotai. Semangatnya berapi-api ketika bertutur tentang Morotai dalam peta
Perang Dunia II. Hampir semua jenis senapan ia hafal, lengka pdengn tahun
pembuatan dan penggunanya.
Untuk mencari barang peninggalan
perang yagn tertimbun tanah. Muhlis hanay menggunakan besi lot yang ia
tusuk-tusukkan ke dalam tanah. Dari setiap benturan dan bekas goresan di besi,
ia segera tahu benda yang terkubur di dalamnya.
Raut murung tergores di wajah Muhlis
tatkala ia menceritakan benda-benda peninggalan perang di Pulau Morotai
tiba-tiba diambil dan dihancurkan untuk dilebur. Pesawat tempur, tank ampifi,
dan mobil perang yagn masi hbisa ia lihat saat kecil kini hanya tersisa dua
unit amfibi.
Aksi Muhlis ialah upaya kecil
membuka Morotai sebagai gerbang pasifik. Posisi Morotai yang strategis dalam
Perang Dunia II menjadikannya sebagai bagian dari strategi lompat katak
panglima perang Jenderal Douglas MacArthur untuk merebut kembali Filipina dari
Jepang. [Kompas, Minggu 31 juli 2016
|Teks dan Foto Lucky Pransiska ]
Langganan:
Postingan (Atom)


