Selasa, 08 Agustus 2017

Assalammualaikum, Salar

AVONTUR | FOTO PEKAN INI
SALAR merupakan salah satu etnis minoritas yang beragam Islam di Tiongkok. Etnis Salar mendiami wilayah Kabupaten otonomi Etnis Salar Xunhua yangterletak di timur laut Xining, ibu kota Provinsi Qinghai. Dibutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan menggunakan bus menuju Salar dengna melintasi jalan berkelok menyusuri tebing, berpadu dengan keindahan alam berupa gugusan pegunungan. Nama Salar diyakini berasal dari nama suku Turkmenistan yang dipanggil dengan “Salor”.
Sebagian besar warga yang bermukim di pinggiran Sungai Kuning ini bermatapencaharian sebagai petani dan pedagang.
Masjid Gaizi merupakan masjid bear yang menyimpan sejarah panjang etnis Salar. Di dalam museum di kompleks masjid itu tersimpan Al Quran bertulis tanagn yang jadi identitas mereka.
Unta putih menjadi lambang dari etnis Salar. Patung unta putih di Camel Spring diyakini sebagai awal mula etnis Salar di wilayah itu. Banyak versi cerita tentang sejarah etnis Salar. Namun, menurut cerita masyarakat setempat, adalah dua saudara laki-laki yang berkelana mencari daerah baru dengan seekor unta putih yangmembawa sebuah tas berisi tanah, sebotol air, dan kita suci Al Quran dari tanah air mereka. Hingga suatu malam unta putih itu menghilang dan ditemukan telah menjadi patung. Namun, tas berisi tanah, air, dan Al Quran itu tetap utuh di punuknya. Air dan tanah yang dibawa sama dengan air dan tanah di lokasi tesebut sehingga mereka memutuskan untuk menetap di wilayah itu.[*/CANONKAMERABLOGSPOT.COM -  Sumber : Kompas, Minggu, 9 Oktober 2016 | Teks dan Foto Oleh : Raditya Priyombodo]
KEYWORDS:   memori kelam,terus terulang.
TAGS: keputusasaan,ketakuan,cerita memilukan,Kamp 21,Museum Tuol Sleng.
DESCRIPTION :  
Excerpt : Alat-alat penyiksaan, bercak darah, dan coretan tembok yangmengisahkan ketakutan dan keputusasaan menjadi cerita memilukan saat pengunjung melangkah menyusuri sudut museum Tuol Sleng.

# Refleksi menara Masjid Gaizi di sumber air Camel Spring
#Sejarah Etnis Salar di tembok pagar Camel Spring
#Remaja muslim Salar
#Muslim Salar menuju masjid untuk menunaikan shalat Ashar berjemaah.
#Wanita Salar menikmati keindahan di pinggiran Sungai Kuning.



Jumat, 07 Juli 2017

Memori Kelam yang Terus Terulang

AVONTUR | FOTO PEKAN INI
PADA masanya, bangunan bertingkat yang bercat putih kusam itu adalah sebuah sekolah menengah pertam Tyol Svay Prey di kota Phnom Penh, Kamboja. Hingga pada April 1975 ata perintah Pol Pot yang memimpin rezim Khmer Merah, sekolah dibuah menjadi sebuah penjara manusia.
Penjara yang dinamai S21 (security office) Tuol Sleng menjadi ruang-ruang penyekapan dan penyiksaan bagi ribuan orang. Mereka terdiri dari politikus, dokter, akademisi, pengacara, biksu hingga pelajar. Alat-alat penyiksaan, bercak darah, dan coretan tembok yang mengisahkan ketakutan dan keputusasaan menjadi cerita memilukan saat pengunjung melangkah menyusuri sudut museum Tuol Sleng.
Pengunjung yang masuk akan dibekali sebuah alat bantu untuk mendengarkan narasi bagaimana para tahanan diperlakukan seara tidak manusiawi oleh tentara Khmer Merah di dalam kamp penyiksaan. Pembantaian kelas menengah yang dilakukan oleh rezim Pol Pot kala itu di kamp S21 untuk menghapus pengaru hdari pengikut rezim Lon Nol.
Anna (37), turis dari Inggris, yang duduk di tengah ruangan denga peanti dengarnya menatap tajam foot puluhan wajah perempuan dan anak yang turut menjadi korban. Menurut dia korban kekejaman pembunuhan yang jauh dari nilai kemanusiaan akiabat dari perbedaan pandangan politik , agama, dan suku masih berlangsung di sejumlah belahan dunia sampai detik ini.
Seperti tujuan museum Tuol Sleng ini diepertahankan utnuk mengingatkan dan mengisahkan bagaimana nilai-nilai kemanusiaan tidak ada saat itu. “Bentuk kekejaman yang tidak manusiawi seolah tidak bisa berhenti sampai sekarang hanya berubah wujud, cara, dan berpindah-pindah tempat. “ katanya. [*/CANONKAMERABLOGSPOT.COM -  Sumber : Kompas, Minggu, 21 Agustus 2016 | Teks dan Foto Oleh : Raditya Mahendra Yasa]

KEYWORDS:   memori kelam,terus terulang.
TAGS: keputusasaan,ketakuan,cerita memilukan,Kamp 21,Museum Tuol Sleng.
Excerpt : Alat-alat penyiksaan, bercak darah, dan coretan tembok yangmengisahkan ketakutan dan keputusasaan menjadi cerita memilukan saat pengunjung melangkah menyusuri sudut museum Tuol Sleng.

# Wajah-wajah beku korban
#Memori kelam kamboja
#Bayangan Kekejaman
#Ruang-ruang penjara
#Lorong Kematian



Selasa, 06 Juni 2017

Senandung Sunyi Kematian Pabrik Mori

AVONTUR |FOTO PEKAN INI
#Terbunuh

#Terkunci
#Terdiamkan
# Tertutupi
#Terbisu
Cameracanon.blogspot.com BANGUNAN  megah itu berdiri gagah menghadap utara. Ornament semi-art deco berbaur dengan gaya arsitektur era 1970-an menghias di sana-sini. Namun, kegagahan dan keelokan gaya bangunan itu hanya menjadi sisa sedikit yagn tampak. Kini, aura bangunan itu jauh lebih buruk dari yang seharusnya tergambarkan. Lusuh dan tak terawat.
Itulah gambaran kondisi bangunan pabrik kain cambric (kain mori) PC Rukun Batik, Ciamis, Jawa Barat, yang mati dan sempat berganti menjadi pabrik busa hingga tahun 1997. Kain mori menjadi salah satu bahan baku batik Ciamis.  Di saat yang sama, kondisi batik itu pun terseok di antara geliat liat usaha batik di Priangan, sperti Tasikmalaya dan Garut. Ilalang hampri memenuhi setiap sudut lubang jendelanya. Barisan semut yang bersemai di antara rerimbunan, kelepar sayap kelelawar, dan sesekali burugn wallet yang singgah menjadi kegaduhan dari denyut kehidupan yang kini ada.
Tulisan “PC Rukun Batik” di atas bangunan masih menancap, namun berkarat. Mesin-mesin besar tak lagi bergerak berirama memproduksi ribuan meter kain. Kaca-kaca pecah di sana-sini.

Matinya pabrik mori itu turut menjadi penanda era surutnya kehidupan perbatikan di Ciamis. Gempurang kain printing motif batik dari China yang gelombangnya mulai besar masuk ke Indonesia sejak 1980-an membuat batik Ciamis nyaris tinggal cerita. Meski masi hmenyisakan segelintir tenaga yang berusaha menyelamatkan warisan keeokan motif batik mereka, tetapi kini tak sesemarak lampau. Pabrik kain mori yang mati itu menjadi penandanya. [Kompas, Minggu 7 Agustus  2016 |Teks dan Foto Rony Ariyanto Nugroho ]

Jumat, 05 Mei 2017

Sejarah Perang di Balik Gubuk Muhlis Eso

AVONTUR |FOTO PEKAN INI
#Muhlis Eso dan barang peninggaln Perang Dunia II di gubuk museum niliknya di Kecamatan Morotai Selatan, Kepulauan Morotai, Maluku utara, Senin (18/7)

#Rumah gubuk dan gubuk museum Muhlis Eso
#Proyektil dan serpihan bom serta benda peninggalan tentara Amerika Serikat
#Botol bekas minuman lemon dan soda  tentara Amerika Serikat
# Muhlis Eso menyusuri tempat persembunyian prajurit Jepang, Teruo Nakamura, di Air Terjun Nakamura di Desa Dehegila, Morotai, Maluku Utara, Minggu (17/7). Tempat ini dinamakan Air Terjun Nakamura sesuai nama prajurit Jepang yang besembunyi dari tentara Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II.
Cameracanon.blogspot.com CERITA  Dunia Ke Dua yang dituturkan sang kakek membekas dalam ingatan Muhli Eso. Muhlis yagn kala itu masi hberusia sepuluh tahun tergerak utnuk mencari jejak peperangan tentara Ameriak Serikata dan Jepang di bumi Moro. Kini, 26 tahun sudah Muhlis mengelilingi Pulau Morotai, masuk dan kelaura hutan mencari barang peninggalan perang untuk membuktikan cerita sang kakek.
Satu persatu barang yagn dia temukan dikumpulna dalam museum yang dia bangun di samping rumah gubuknya. Benda-benda bersejrah bernilai tinggi itu semetinya bisa membuatnya kaya. Tapi, Muhlis memilih hidup penuh keterbatasan demi menyelamatakan sejarah penging dunia di Morotai. Semangatnya berapi-api ketika bertutur tentang Morotai dalam peta Perang Dunia II. Hampir semua jenis senapan ia hafal, lengka pdengn tahun pembuatan dan penggunanya.
Untuk mencari barang peninggalan perang yagn tertimbun tanah. Muhlis hanay menggunakan besi lot yang ia tusuk-tusukkan ke dalam tanah. Dari setiap benturan dan bekas goresan di besi, ia segera tahu benda yang terkubur di dalamnya.
Raut murung tergores di wajah Muhlis tatkala ia menceritakan benda-benda peninggalan perang di Pulau Morotai tiba-tiba diambil dan dihancurkan untuk dilebur. Pesawat tempur, tank ampifi, dan mobil perang yagn masi hbisa ia lihat saat kecil kini hanya tersisa dua unit amfibi.

Aksi Muhlis ialah upaya kecil membuka Morotai sebagai gerbang pasifik. Posisi Morotai yang strategis dalam Perang Dunia II menjadikannya sebagai bagian dari strategi lompat katak panglima perang Jenderal Douglas MacArthur untuk merebut kembali Filipina dari Jepang. [Kompas, Minggu 31 juli  2016 |Teks dan Foto Lucky Pransiska ]

Selasa, 04 April 2017

POTRET MURAM PESISIR UTARA

FOTO PEKAN INI
#Imajinasi Keindahan Semesta
#Mengirim Doa
#Perjalana Ziarah
#Sisa Terjangan Ombak
# Tanah Terakhir

Cameracanon.blogspot.com – ABRASI  yang terus menggerus pantai utara Jawa selama puluhan tahun menghilangkan daratan. Air laut menggenang hingga beranda rumah warga akmpung. Garis pantai yang terus menghilang menggiring ombak yang menerobos tanpa batas.
Lahan pertanian, pekarangan dan rumah yang mereka tinggali lambat  laun tenggelam. Hidup mereka berdampingan dengan genagan rawa berair payau.
Lukisan alam besama satwa di sepanjang tembok kampugn menjadi sebuh imajinasi dan sebatas mimpi. Jejak leluhur yang mereka tandai dengan batu dan kayu nisan turut pelan-pelan tenggelam di bawan permukaan air.
Tradisi berziarah makam yang setiap waktu dilakukan membuat warga Kampung Tambakmulyo, Kampung Tambakrejo, Kmapung Banadarharjo hingga Desa Bedono, Kabupaten Demak, harus bersusah payah menjaga setiap jengkal tanah agar tidak tenggelam.
Warga terus-menerus meninggikan gundukan tanah makam. Begitu juga mereka harus menyelamatkan rumah dengan meninggikan lantai agar tidak tergenang.
Sebuah ironi pesisir pantai utara ketika sebagian daratan menghilang dan mereka tengeglam, sebagian lain menciptakan daratan baru yang menawarkan masa depan….[Kompas, Minggu 10 Januari  2016 |Teks dan Foto P Raditya Mahendra Yasa ]

Jumat, 03 Maret 2017

Memasuki Musim Kebakaran Hutan

FOTO PEKAN INI

#Sebaran asap kebakaran

#Terbang di Antara Batang Arang

#Bersih bersih

#Sisa Api

#Membuat Tampungan

Cameracanon.blogspot.com – SEEKOR  gagak terbang di antara batang arang. Beberapa kali ia berputar-putar sambil berkicau lantang. Ia mungkin sedang mencari rumah, sahabat, dan keluarganya yang hilang. Hilang terbakar api…[Kompas, Selasa 20 Maret  2016 |Teks dan Foto Wawan H Prabowo ]

Kamis, 02 Februari 2017

Catatan Fotografis Gerhana Lalu

FOTO PEKAN INI
#Saat puncak gerhana (Ternate), yang kontras rendah dan beberapa belas detik setelah puncak gerhana yang kontrasnya leibh baik pulus bonus “cincin berlian” (Palu).
Cameracanon.blogspot.com – GERHANA matahari total yang melalui beberapa wilayah Indonesia pada 9 Maret lalu adalah gerhana matahari yang paling banyak dipotret dibandingkan gerhana-gerhana sebelumnya. Selain ini merupakan GMT pertama di Indonesia pada era fotografi digital ketika fotografi telah menjadi hal yang sangat membumi, euphoria akan kejadian ini juga dipacu aneka media yang ada.
Sebelum 2016 ini, harian kompas mengabadikan gerhana matahari total (GMT) pada 1995 di Sangir oleh fotografer Julian Sihombing (almarhum), memakai film. Saya yang juga memotret gerhana memakai film pada 1998 (gerhana matahari cincin) merasakan bahwa pemotretan memakai sarana digital jauh lebih mudah dan pasti.  Pada 1995 dan 1998 itu, baik saya maupun Julian cukup boros melakukan bracketing karena hasil pemotretan sungguh-sungguh baru diketahui setelah film diproses.
Pemilihan tempat
Pemotretan GMT akan gagal total manakala langit di tempat pemotretan tidak bersih, baik oleh mendung mauun polusi udara. Kalau dulu, pada era film, bracketing dilakukan untuk pemotretannya, pada tahun ini bracketing dilakukan dalam memilih tempat pemotretannya.
Harian kompas memutuskan memotret GMT 2016 dari banyak tempat, yaitu Pelembang (2 fotografer), Belitung, Ternate, dan Palu. Akhirnya, hanay Ternate dan Palu yang menghasilkan foto terbaik. Walau begitu, foto dari Ternate masih diwarnai langit yang tidak terlalu cerah.
Catatan terpenting dari pemotretan GMT kali ini adalah, saat terjadi puncak gerhana, kontras yang ada sangatlah rendah. Selain ISO tinggi harus dipakai (ISO 800 ke atas) untuk mendapatkan kecepatan rana yang memadai (minimal 1/60 agar fotonya tajam karena baik bulan maupun matahari bergerak uckup cepat), pemofokusan sebaiknay memakai mode manual. Dari pengalaman lalu, otofokus sulit didapat saat puncak GMT terjadi.
Sementara momen beberapa belas detik setelah puncak GMT, yaitu saat Bulan sudah tidak menutup Matahari secara total lagi, itu adala hsaat memotret terbaik. Selain kontras lebih baik, otofokus bisa berfungsi lagi, pemunculan titik sinar yang sering disebut “cincin berlian” juga menjadi hal khas sebuah GMT.
Fotografer Yuniadhi Agung yang memotret cincin berlian di halama ini memakai lensa 300 mm /f2,8 yang memakai telekonverter 2X. dari EXIF terliaht bahwa diafragma yang terjadi adalah f/36. Ini adalah angka akibat perpanjangan converter karena sesungguhnya Yuniadhi memasang f/18 di lensa 300 mm-nya. Maka, efek f/36 ini membuat titik berlian menjadi berbintang alias berpendar.
Sementara menyangkut white balance (WB), Heru Sri Kumoro di Ternate memotret puncak gerhana memakai WB daylight. Akibatnya, fotonya menjadi kebiruan. Sesungguhnya puncak gerhana adalah blue hour karena cahaya yang sampai ke bumi adalah cahaya yang melewati langit biru, bukan dari Matahari langsung. Yuniadhi memakai WB auto  yang berkerja baik sehingga fotonya “normal”.
Film rontgen dan kaca las
Hal lain yang mencuat adalah kenyataan bahwa banyak barang bisa dipakai sebagai filter untuk memotret gerhana ini, terutama gerhana parsial. Raditya Helabumi dan Raditya Darian Suryahutama memotret memakai film rontgen di Tugu Tani, Jakarta, dan di Tangerang. Sementera Ferganata Indra Riatmoko memotret memakai kaca las di Candi Borobudur.[Kompas, Selasa 15 Maret  2016 |Teks dan Foto Arbain RAmbey ]