Senin, 06 Juni 2016

NELAYAN KECIL DI SAMUDERA BESAR

Cameracanon.blogspot.com –MENJADI nelayan dengan penghasilan tak pasti. Hari ini tak dapat hasil, besok pun belum tentu dapat hasil. Semuanya sangat bergantung kondisi alam dan fasilitas melaut yang memadai. Demikian yang dirasakan Fadli (32), nelayan kapal bagan di kawasan Krueng Raya, Gampong Meunasah Keudee, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar.

[Kompas, Minggu 24  Januari  2016 |Teks dan Foto Adrian Fajriansyah ]

Kamis, 05 Mei 2016

Tetabuhan Pungkasan Kyai Nggower

Cameracanon.blogspot.com – SUARA tetabuhan gamelan yang dimainkan belasan wiyaga menggema lembut di teras tengah bangunan lawas di Omah Lawang Ombo, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Rabu (6/4). Suara dari gamelan yang berusia ratusan tahun ini mengiringi seniman tari sekaligus sebagai sebuah pertunjukan pungkasan sebelum berpindah pemilik untuk dijual.
Keberadaan gemelan di Lasem memiliki sejarah panjang menjadi bagian tak terpisahkan dari pertautan budaya Tionghoa dan Jawa Islam. Salah satunya gamelan laras pelog milik keluarga Tjoo yang dinamai Kyai Nggower. Dalam akta gamelan, tercatat gamelan ini dijual oleh Tan Siah Mei dari Blora lalu diboyong ke Lasem setelah dibeli Lie Hwan Jiang melalui perantara Tjan Tok Sien pada 1919.
Bagi warga Tionghoa di pesisir utara Jawa seperti Lasem, gamelan selalu dimainkan saat upacara tradisional keagamaan ataupun penyelenggaraan acara keluarga. Sampai saat ini terdapat lima keluarga Tionghoa yang masih menyimpan perangkat gamelan di Lasem.
Sie Hwie Tan, yang sering disapa Gandor, mengaku terpaksa menjual gamelan Kyai Nggower karena sudah tidak mampu merawat. "Saya sudah tua dan sering sakit sepertinya tidak mungkin lagi merawat Kyai Nggower," katanya dengan berkaca-kaca. Pentas sore itu seolah menjadi perpisahan baginya dan tentu saja warga Lasem yang peduli dengan pelestarian budaya.

[Sumber : Kompas, Minggu, 8 Mei 2016 | Oleh : Radiyta Mahendra Yasa ]

Senin, 04 April 2016

BERBURU BARANG TUA DI WATERLOOPLEIN

Perkakas Rumah Tangga
Cameracanon.blogspot.com –DI TENGAH musim dingin Desember lalu, pasar loak di Waterlooplein, Amsterdam, mulai menggeliat sekitar pukul 10.00.
Arno pria bertubuh tinggi besar, sibuk mengeluarkan barang dagangan dari dalam mobil transporternya sambil sesekali meladeni sapaan teman-teman sesame pedagang.[Kompas, Minggu 17  Januari  2016 |Teks dan Foto Bahana Patria Gupta]

Kamis, 03 Maret 2016

MEMAHAMI FOTOGRAFI GUA

Cameracanon.blogspot.com – KEGIATAN menelusuri gua atau kegiatan speleologi makin populer di kalangan pencinta alam di Indonesia. Aneka keindahan gua di Indonesia satu per satu menyeruak lewat foto yang dibawa mereka yang memasukinya. Tetapi, tidak jarang juga terjadi kecelakaan-kecelakaan yang bahkan merenggut jiwa dalam kegiatan masuk ke perut bumi ini.

Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia/Federation of Indonesian Speleological Activities (Hikespi/Finspac), organisasi induk kegiatan ini di Indonesia, yang berdiri sejak 1983, baru saja mengadakan lomba foto kegiatan speleologi dan pemenangnya sudah diumumkan.
enurut Cahyo Alkantana, Presiden Hikespi, lomba foto ini diadakan untuk makin memasyarakatkan kegiatan speleologi yang benar dan aman di Indonesia. "Gua itu terbentuk ribuan sampai jutaan tahun. Jangan sampai jadi rusak karena eksplorasi yang salah," katanya.
Pencahayaan sulit

Dari sisi guna, fotografi gua punya dua macam fungsi, yaitu sebagai dokumentasi gua itu sendiri dan sebagai fotografi seni perjalanan.
Dari sisi dokumentasi, pemotretan gua meliputi detail, corak, dan kombinasi warna batuan yang ada sampai dengan aneka sisi dari gua tersebut. Pemotretan dengan pendekatan dokumentasi membutuhkan aneka akurasi yang tidak bisa ditawar, seperti akurasi warna, akurasi ukuran, dan akurasi bentuk (jangan terjadi distorsi akibat lensa yang salah).
Dari sisi fotografi seni perjalanan, fotografi gua selalu menekankan keindahannya yang dipadukan dengan manusia untuk perbandingan ukuran dan untuk memberi "rasa".
Secara tenis, fotografi gua membutuhkan pemahaman pencahayaan yang baik. Pada sisi gua di mana masih ada sinar matahari masuk, pengukuran pencahayaan sebaiknya memakai kompensasi minus agar bagian gelap tetap terekam hitam.

Sementara pada bagian gua yang gelap total, beberapa cara bisa dipakai.
1. Pergunakan tripod, lalu rana dipasang pada B (bulb). Lalu, dengan lampu kilat, cahayai berbagai permukaan dalam beberapa kali penyalaan lampu kilat.
2. Pencahayaan lampu kilat bisa digantikan lampu senter dengan durasi pencahayaan yang cukup lama. Harap diingat masalah WB (white balance) kalau memakai cahaya lampu senter.
3. Pencahayaan dengan menggabungkan cahaya flash dan lampu senter bisa juga dilakukan untuk mendapatkan efek aneka warna. Pasang WB pada mode tungsten sehingga cahaya flash akan terekam biru, sementara cahaya lampu senter terekam putih.[Sumber : Kompas, Rabu, 6 April 2016 | Oleh : ARBAIN RAMBEY ]

Selasa, 16 Februari 2016

Klinik Fotografi

Pentingnya Menjalani Proses Pemotretan

BERSAMA tulisan ini ada empat foto untuk bahan pemahaman. Perhatikan keempat foto dimulai dari kiri atas, searah jarum jam. Anda tentu melihat urutan kejadian, bukan?
Foto pertama jelas foto yang paling tidak menarik karena ada pantulan matahari di airnya dan terlalu menyamping sehingga wajah orang dalam eprahu nyaris tidak tampak. Sementara foto keempat adala hfoto yang paling sempurna karena sudut pemotretan ideal dan pencahayaan pun datang dari arah yang enak untuk dilihat secara umum.
Soal foto bagus
Dalam dunia fotografi, secara umum orang memotret untuk mengahsilkan foto bagus. Definisi “foto bagus” selalu menarik untuk diperdebatkan karena definisi ini sulut utnuk mendapatkan solusi tunggal. Bagus untuk di A belum tentu bagus untuk di B. bagus untuk tema A belum tentu bagus untuk tema B.
Satu yang pasti, untuk bisa memahami apa itu foto bagus, kita harus banyak meliaht dan membaca. Walau tetap tidak bisa diverbalkan, ada defnisi foto bagus yang menajdi kesukaan orang banyak. Ada foto-foto tipe tertentu yagn akan disukai mayoritas orang yang meliaht foto itu, misalnya foto matahari terbit dengan langit penuh warna foto wanita cantik dengan ekspresi dan pose yang menyenangkan, serta foto-foto kegiatan manusia yang tidak biasa-biasa.
Kembali foto ilustrasi tulisan ini, Anda tentu merasas bahwa orang mendayung dengan perahu penuh sayuran segar di ats sungai yang jernih adalah adegan menarik, bukan? Saya pun berpikir demikan saat meliaht adegan ini terjadi di dekat saya. Keyakinan bahwa ini adegan menarik tentu timbul dari berbagai foto yang pernah kita lihat dan kita apresiasi.
Tepat saat melihat perahu tersebut, saya langusng mengarahkan kamera dan memotret. Foto pertama adalah foto di pojok kiri atas. Pertanyaannya adalah adegan belum bagus dengan pantulan matahari yang mengganggu, kok, dipotret juga?
Di sinilah hal sangat penting dalam fotografi mengemuka yaitu proses memotret itu penting. Kalau saja anda berpikir,” …ah belum bagus, jangan motret dulu…belum bagus…belum bagus…” dan seterusnya, bisa-bisa Anda tidak akan pernah memotret apa pun.
Dalam pemotretan kejadian bergerak, kita sebaiknya mengikuti prosesnya dengan terus memotret sampai terjaid “adegan bagus”-nya. Jangan terlalu irit dalam memotret keigatan manusia karena kita tidak pernah tahu kapan adegan menariknya tiba dihadapan kita. Satu yang paling penting adalah kita tahu bahwa adegan di depan kita akan menuju ke suatu yang menarik.

Memotret degan mengikuti proses gerakan akan terasa sangat berguna dalam memotret kegiatan olahraga. Memotret seorang pemain bintang sedang menggiring bola, misalnya. Anda akan bisa mendapatkan adegan menarik kalau mengikuti proses pergerakan sang pemain bintang itu dengan terus memotret, bukan menunggu sebuah adegan saja.

Tips & Catatan |Arbain Rambey

Kamis, 14 Januari 2016

CONWY, KOTA BERDINDING KLASIK

Panorama dinding Kota Conwy dari menara jaga
Cameracanon.blogspot.com MATAHARI  hampir tenggelam ketika kami tiba di Conwy, Wales Utaa, 18 Maret lalu. Cahayanya menyisakan warna kuning keemasan di puncak menara kastil conwy. Bendera Wales bergambar Naga Merah berkibar mengikuti arah angin menambah dingin suhu yang mencapai 6 derajat Celsius.
Bangsal Inti dan luar
Memasuki jalan Kota conwy yang kebanyakan satu arah, kita harus melewati dinding kota dai batu yang memagarinya apabila menggunakan kendaraan. Setelah semalam menginap di Hotel Castle, perjalanan atas undangan  Visit Britain ini kembali dilanjutkan. Jalan kaki adalah pilihan terbaik untuk berkeliling kota sebelum masuk kastil. Ada tangga besi untuk naik ke dinding kota. Dari ketinggian menara yang berjumlah 22 unit, gambaran penuh pemandangan kota, laut, dan pegunungan menyatu sempurna dengan kastil conwy
Kemegahan Menara Kastil conwy
Dibangun untuk raja Edward I, oleh arsitek Masater James of St George, kastil di pantai utara Wales ini adalah benteng yang terbaik pada abad pertengahan yang hingga kini masih berdiri megah di Inggris Raya. Terdapat delapan menara utama yang mengelilinginya. Diperkirakan 15.000 poundsterling dihabiskan untuk membangun kastil ini antara tahun 1283 dan 1287. Pada tahun 1285 lebih dari 1.500 perajin dan buruh ditarik dari seluruh Inggris untuk dipekerjakan di Conwy.

Memasuki Dinding Kota Menuju Kastil
Kastil dan dinding Kota Conwy bersamaan dengna Beaumaris, Caernafon, dan Harlech ditetapkan menjadi situs Warisn Dunia oleh UNESCO sejak tahun 1986.
Patung penjaga pintu utama
[Kompas, Minggu  3 April  2016 |Teks  Agus Sutanto, foto taken from google ]
DESCRIPTION:
KEYWORDS: memasuki,musim,conwy,kastil,wales,

TAGS : kastil conwy,conwy castle,.
Jembatan pertama tahun 1826 menuju kastil, jembatan kereta api tahun 1848, jembatan baru tahun 1958 ditambah menghubungkan kota

Selasa, 03 Maret 2015

KLINIK | FOTOGRAFI

Memahami Indahnya Mata Amatir

By Hendrik Tan disadur dari Kompas, Selasa, 22 Juli 2014,  Tips&Catatan : Arbain Rambey

AMATIR dan professional hebat mana dalam konteks fotografi? Pertanyaan diatas selalu terlontar dalam acara fotografi. Dan, untuk menjawabnya, kita tentu harus berpedoman dengan kenyataan: amatir yang mana dan professional yang mana. Segala hal di dunia tak pernah bisa dibuat rumus umumnya karena memang isi duni ini tidaklah homogeny.

Amatir sesungguhnya berasal dari kata yang kira-kira berarti ‘pencinta’. Yangdisebut fotografer amatir adalah orang yang memotret semata demi kesenangan dan kecintaan. Sementara professional mengadung makna ‘profesi’ alias pekerjaan. Yang disebut fotografer professional adalah orang yang penghasilannya dari fotografi. Kata professional tidak berhubungan langsung dengan tingkat keahlian.

Dalam sejumlah lombo foto yang saya amati selama lima tahun terakhir ini, kategori amatir hampir selalu diisi foto-foto yang jauh lebih bagus daripada kategori professional, dalam hal ini wartawan. Bisa dimaklumi karena amatir punya jangkauan pemotretan tidak terbatas, sementara kaum fotografer jurnalistik umumnya memotret di lingkungan di ditugaskan. Untuk kategori fotografer professional lain seperti para fotografer iklan, mereka jarang yang tertarik untuk ikut lomba foto.

“Mata Indonesia”

Baiklah, berbagai alinea di atas adalah deretan pembuka untung menggiring kita pada sebuah buku fotografi yagn dibuat komunitas fotografi amarti Candra Naya (Jakarta). Sebagai salah satu klub tertua di Indonesia, mulai berkegiatan pada 1948, klub ini adalah klub yang sangat aktif. Sejumlah lomba fotografi internasional digagas klub ini dalalm beberapa tahun terakhir.

Menerbitkan buku fotografi memang membutuhkan dana besar. Namun, yang lebih sulit adalah kemauan untuk menerbitkannya. Buku setebal 164 halaman yang berisi lebih dari 150 foto ini mengisi kekosongan buku foto tentang Indonesia yang dibuat fotografer Indonesia. Denagn editor Agatha Bunanta, buku ini diberi judul Mata Indonesia.

Mata para amatir di buku tersebut sungguh indah. Aneka hal yang ada di Indonesia dipotret dengan “lebih dari biasa” karena mereka melakukannya karena kesukaan. “Saya yakin dalam beberapa tahun lagi, buku ini akan menjadi barang koleksi yang diburu. Banyak hal yang sulit diulangi, ada dalam buku ini.” Kata Edwin Djuanda, Ketua Candra Naya, Sabtu (19/7).