Rabu, 23 Januari 2019

Memilih Lensa Bekas


ORANG bilang fotografi adalah hobi yang mahal. Maksudnya modal untuk membeli kamera dan lensanya cukup besar. Namun, ternyata banyak fotografer, utamanya yang memotret untuk hobi bukan profesi, membeli lensa seken sebagai pasangan kameranya.
Bila harus membeli lensa bekas, periksa terlebih dahulu keadaan seluruhnya. Kemudian goyangkan lensa perlahan, tetapi cukup untuk mengetahui atau mendengar bila ada elemen gelas di dalam lensa yang tak terpasang dengan baik atau terlepas.
Kemudian, periksa bagia ndepan dan belakang lensa. Jangan membeli lensa dengan bagian depan atau belakang yang sudah tergores, retak, atau pecah kecil.

Lalu, arahkan bagian dalam lensa ke sumber cahaya, untuk mempelajari kondisinya. Bila terdapat sedikit debu masih 0ke-oke saja, atau bila terlihagt adasedikit jamur masih bisa dibersihkan atau diservis. Namun, jangan membeli lensa yang bagian dalamnya sudah berjamur tebal atau terpapar partikel asing.
Cobakan lensa itu pada kamera anda dan pastikan semau fungsi kamera dan lensanya berjalan normal. Periksa juga aperture dalam lensa menutup sesuai pengesetan saat memotret. Adna bisa membuka bagian belakang kamera, setel ke dalam mode Bulb, dan tekan tombol shutter. Lakukan tes ini pada seluruh rentang aperture lensa.
Kemudia periksa fungsi autofocus pada lensa dan harus bekerja dengan normal dan akurat. Periksa pula manual focus ring pada lensa. Pastikan komponen ini berfungsi dengan baik, tanpa suara atau sendatan pada mode manual focus.
Bila memilih lensa tipe zoom, yakinkan juga mekanisme zoom berjalan dengan halus dan lancer. Jangan membeli lensa dengan mekanisme zoom yang tersendat, terlalu keras, atu terlalu kendor.
Terakhir, teliti filter thread pada bagianru depan lensa. Bagian ini seharusnya tidak terdapat kerusakan atau kemacetan. Lakukan saja pengujian dengan memasang sebuah filter pada lensa tersebut.

Senin, 21 Januari 2019

Fotografi Digital adalah Jepang!


SIAPA berani membantah bahwa saat ini kalau membicarakan fotografi adalah membicarakan buatan Jepang? Kameran non-Jepang yang masih banyak terdapat di pasaran tinggal Leica (yang harganya sangat tinggi untuk kelasa yang sama dengan sebuah kamera Jepang) dan Kodak.
Namun Leica pun seperti tipe M9, memakai bagian dalam Kodak, yaitu sensor Kodak KAF-18500 CCD, sementara perusahaan Kodak belum lama berselang telah menyatakan diri bangkrut. Akan halnya PhaseOne (Denmark), itu adalah kamera untuk kelas sangat khusus dan jelas bukan kamera yang akan terlihat di jalan-jalan atau di rumah-rumah penduduk.
Fotografi saat ini adalah digital dan teknologi ini dipegang habis-habisan  oleh Jepang. Sadarkan Anda bahwa Cina pun tak bisa membuat barang-barang “KW” untuk jenis kamera DSLR? Bahkan, Jerman yang dulu begitu tangguh dalam perfotografian kini sulit mengejar Jepang karena, bagaimanapun, membuat kamera digital tidak cukup hanya memiliki teknologi lensa yang canggih seperti yang selama ini menjadi kekuatan Jerman.
Canon versus Nikon
Membicarakan kamera Jepang, tentu dua yang menonjol adalah Canon dan Nikon. Sampai saat ini pun saya selalu mendapat pertanyaan: bagus mana Nikon atau Canon?
Jawaban saya selalu sama: kalau memang ada yang lebih bagus, masak, sih, sampai sekarang belum ketahun juga? Namun, kalau membicarakan jumlah penjualan, canon melalui salah satu petingginya. Masaya Maeda, pada awal bulan ini mengatakan bahwa mereka menguasai 45 persen padar DSLR dunia. Beelum sampai setengah. Akan tetapi, mengingat masih beigtu banyak merek lain (Nikon, Olympus, sony, Casio, Pentax, Samsung, BenQ dan lainnya), boleh dikatakan Canon saat ini menguasai pasar dunia.
Karena data dari Canon itu tak ada yang membantah, juga dengan realitas yang ada, yaitu hamper di semua acara besar-mulai dari olimpiade hingga perang di Timur Tengah-lensa putih (khas Canon) tampak di mana-mana, Canon memang paling banyak digunakan saat ini. Namun, mengatikan jumlah penjualan dengan mutu memang tak selalu benar, seperti juga Toyota kijang yagn penjualannya sangat tinggi, tetapi tak begitu saja bisa disebut yang terbaik. Buktinya, anggot DPR tentu tak mau mobil dinasnya Kijang bukan?
Dari ajang pameran fotografi CP+ di Yokohama, Jepang, awal bulan ini, memang terlihat bahwa Canon sangat “Kuat” Stand pamerannya terbesar, disusul Canon yang membuka stand persis di sebelahnya. Di akhon meraih medali mas, disusul Nikon yang meraih medali perak. Siapa yang meraih perunggu? Olimpus!
Baiklah semua yakin bahwa dua besar dunia memang masih Canon dan Nikon. Membicarakan siapa nomor tiga sungguh sulit. Sampai beberapa tahun lalu, penjualan kamera saku tertinggi masih dipegang Sony. Pada pameran CP+ lalu, Olympus menyita perhatian karena menghadirkan kamera OMD atau OM Digital.
Pada tahun 2009, Olympus menelurkan kamera jenis baru yang disebut mirrorless. Pelan, tapi pasti, kamera jenis ini menarik minat para fotografer dan produser. Penjualan kamera mirorrless di seluruh duni sangat tinggi, termasuk di Jepang. Satu persatu perusahaan kamera Jepang memproduksi jenis ini dan hanya Canon yang belum melakukannya.
Dalam pameran CP+ lalu harus diakui bahwa primadona pameran memang EOS 1SX (Canon), Dr serta D800 (Nikon), dan OMD (Olympus). Kamera OMD memagn menarik perhatian karena bentuknya sangat “retro”, mengangkat kembali pamor kamera jenis OM yang Berjaya di era film. Kalau Anda penggemar film-film James Bond, salah satu kamera yang peranh dipakai agen rahasia Inggris itu adalah Olympus OM.
Sampai lima tahun mendatang, saya berani memastikan bahwa Jepang (terutama Canon) masih merajai perkameraan digital. Bagi Anda, mungkin pertanyaanya nanti sudah bukan Cuma: Canon atau Nikon? Mungkin banyak lagi pilihan.[Sumber: Kompas, Selasa, 28 Feberuari 2012\Oleh Arbain Rambey]

Selasa, 01 Januari 2019

Photokina 2018 dan Evolusi Fotografi/Videografi

Realitas saat ini, kebutuhan kadang ditentukan dengan kemunculan barang baru. Perusahaan elektronik dari Jepang, Panasonic, pada Photokina 2018 (pameran fotografi dua tahunan dunia) di Cologne, Jerman, akhir bulan lalu, mengumumkan sedang menyiapkan kamera untuk rekaman video 8K pada Olimpade Tokyo 2020 mendatang.
PERTANYAAN yang lalu mengemuka adalah apakah kita perlu 8K? Untuk menjawab itu, kita bisa melihat ke belakang. Dulu saat VCD dibuat pada awal tahun 1990-an menggantikan video VHS, orang mera puas menyaksikan video dari VCD. Kemudian kemunculan DVD pada akhir tahun 1990-an membuat orang lalu melupakan VCD. Demikian pla sat Bllue Ray muncul, orang lalu melupakan DVD. Kebutuhan orang meningkat sejalan dengna kemajuan teknologi, bukan sebaliknya.
Sistem “mirorless”
Panasonic bisa dikatakan membuat evolusi fotografi pada 2008 bersama Olympus menciptakan system kamera mirrorless. Saat ini, bisa dikatakan semua perusahaan fotografi sudah mulai meninggalkan system DSLR dan memakai system baru yagn dimotori Panasonic dan Olympus ini.
Pada 2008 it uPanasonic memilih sensor Micor Foruth Third (MFT) untuk system mirrorless-nya dan ini bertahan sampai sekarang. Selam ini sensor MFT secara umum bisa memenuhi kebutuhan umum fotografi.
Sementra itu, perusahana-perusahaan lain memilih sensor APSC, seperti Sony yang memulai system mirrorless sejak 2009, juga Fuji dan Cannon. Mirrorless yang memakai sensor Fullframe (36cm x 24cm) pertama adalah Sony lewat seri A7 pada 2013.
Namun di Photokina 2018 ini pula, Panasonic secara mengejutkan mengumumkan akan memperoduksi ssestem mirrorless dengan sensor fullframe. Ada yang menyebut bahwa Panasonic “mengikuti” Sonny, juga Canon dan Nikon, yang memulainya sejak beberapa bulan lalu.
Pertanyaan yang lalu mengemuka adalah, apakah Panasonic menyerah denga nkemajuan MFT yagn dirasa kurang cepat?
Menurut Toshiyuki Tsumura, Kepala Perencanaan Produk Panasonic, Panasonic sedagn berusaha melompat secara teknologi. “Sistem MFT kam ibagus sekali, bukan? Nah, kami sekarang merencanakan kamera baru dengan sensor yang ukurannya dua kali MFT, jadi pasti hasilnya leibh bagus lagi,” katanya kepada Kompas dan dua praktisi videografi dari Indonesia, Goen Rock dan Beny Kadar, dalam wawancara khusus di Cologne.
Sesungguhnya, kamera mirrorless dengan sensor fullframe buatan Panasonic yang akan beredara tahun ini tersebut bukanlah terbaru “baru” bagi konsorsium penciptanya (Panasonic, Leica, dan
Sigma) dan bukan sangat baru karena system ini ternyata sudah ada, yaitu Mounting L dari Leica.


Sistem fullframe sesungguhnya adapatasi dari system film yang merekam dalam rekaman 36 cm x 24 cm. Dan system ini pertama kali dipakai Leica  pada 1927 lewat Leica 1. Sistem fullframe adala hsistem dasr yang diawali oleh Leica dan kin populer lagi dalam era digital.

Kamera baru rancangan tiga perusahaan ini cukup siap karena sudah mempunya 11 lensa yang bisa dipakai, yaitu 8 dari Leica dan 3 dari Panasonic sendiri. Sementra perusahaan Sigma akan menghasilkan lensa-lensa lapis keduanya.
Sampai kapan perekembangan kamera akan berlangsung?


Jawabannya adalah, tidak akan pernah berhenti. Selama inovasi bisa dilakukan, kebutuhan manusia akan menyesuaikannya.  [Sumber : Kompas, Selasa. 2 Oktober 2018|Oleh : Arbain Rambey]

Rabu, 12 Desember 2018

“Biodiversity” dan Pemaknaannya dalam Fotografi

KLINIK FOTOGRAFI  |  Tips & Catatan |ARBAIN RAMBEY

DALAM bahasa Inggris, definisi biodiversity adalah the variety of life in the world or in a particular habitat or ecosystem. Kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, makna itu kira-kira adalah keanekaragaman kehidupan di dunia atau di sebuah ekosistem. Selama ini, biodiversity diterjemahkan sebagai keanekaragaman hayati.
Bagaimana menerjemahkan keanekaragaman hayati itu dalam fotografi?
Antara terasa dan “tampak”
SEAMEO Biotrop Indonesia (Southeast Asian Ministers of Education Organization, Bagian Biologi Tropis) yang berpusat di Bogor, Jabar, sudah empat kali mengadakan lomba foto dengan tema yang cukup sulit ini. Lomba foto yang lingkunpnya ASEAN ini pada 2016 diikuti pencinta foto dari tujuh negara di Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Myanmar, Vietnam, Thailand, dan Brunei, dengan total 863 foto yang disampaikan secara online melalui website lomba foto ini. Sebagai catatan, SEAMEO didirikan sebagai kerjasama antarnegara ASEAN pada tahun 1965.
Walaupun foto-foto pemenangnya secara fotografi bermutu tinggi, cukup menarik mengkaji bagaimana para peserta menerjemahkan tema ini. Sesuhngguhnya keanekaragaman hayati itu sering tampak dan terasda di hadapan kita, tetapi hal itu tentu tidak begitu saja bisa direkam dalam selembar foto.
Akhirnya, banyak peserta yang memainkan judul untuk menarik sebuah foto ke dalam tema seperti pada foto pemenang pertama kategori umum berjudul “This is what we inherited?” karya fotografer Abd Aziz Mohd Yaras dari Malaysia. Dengan penampakan dasar laut yang hanay bebatuan, Mohd Yaras memainkan judul fotonya soal warisan kepada anak cucu. Intinya, tidak ada keanekaragaman hayati lagi di masa depan kalau kita tidak merawat alam.
Sementara pemenang kedua kategori umum yaitu “Between fishermen and birds,” karya Ari Hidayat dari Indonesia, sesungguhnya juga memanikan judul yang membuat pembaca berasumsi bahwa di dalam foto itu setidaknya ada dua “macam” makhluk, yaitu burung dan manusia.
Di Indonesia, lomba foto dengan tema sulit seperti ini masih jarang diadakan. Dalam lomba yagn diadakan SEAMEO Biotrop ini pun, keagresifan peserta dari negara tetangga lebih terasa. Kalau saja lembaga-lembaga keilmuan lain di Indonesia juga akan membuat lomba-lomba foto dengan tema keilmuan, rasanya dunia fotografi Indonesia akan makin bermutu, tidak berkuta di tema-tema ringan seperti selama ini terjadi.
[*/CCblogspot.com  dari Sumber : Kompas, Selasa, 22 November 2016 ]

DESCRIPTION: Fotografi memang selalu membuka peluang visual. Kemampuan seorang fotografer untuk “mengolah” apa yang dilihatnya sebelum memotret akan sangat memengaruhi hasil pemotretannya
KEYWORDS: foto jurnalistik,memahami foto, foto yang menarik,efek fotografi.
Excerpt : Fotografi buat saya bukan melulu mengenai merekam gambar yang mengharuskan tercapainya focus agar mendapatkan gambar yang tajam. Fotografi adalah sebuah perjalanan yang tak akan selesai, jika kaidahnya hanya diukur dari pencapaian teknis, maka berarti kita telah mematikan jalan panjang fotografi.
TAGS :

# Juara I Kategori Umum, Judul: “This is what we inherited?”, Fotografer: Abd Aziz Mohd Yaras (Malaysia)


#Juara 2 Kategori Umum, Judul: “Between fishermen and birds”, Fotografer: Ari Hidayat (Indonesia).


#Pemenang pertama kategori pelajar, Judul: “Field”, Fotografer: Muhamad Rahvi Hazwandy (Indonesia).



#Juara 3 Kategori Umum, Judul: “Drinking water “, Fotografer: Kyaw Kyaw Winn (Myannmar).

Minggu, 11 November 2018

Memahami Foto yang Menarik

KLINIK FOTOGRAFI  |  Tips & Catatan |ARBAIN RAMBEY

DALAM foto jurnalistik yang memberi info akan sesuatu, selala ada foto yang menarik dan ada foto yagn cenderung tidak dilihat orang. Foto menarik memancing orang untuk melihatnya sehingga infromasinya seperti “disuntikan” kepada pembaca secara otomatis.
Mengapa sebuah foto bisa lebih menarik dibandingkan foto yang lain?

belum pernah dilakukan penelitian besar tentang hal ini, tetapi berdasar sedkit “pengalaman lapangan” atas reaksi orang terhdap foto-foto berikut, barangkali ada beberapa hal bisa disimpulkan.

Hal pertama adalah foto lama tentang orang penting. Maka, manakala ada sebuah kegiatan orang penting, abadikanlah. Foto itu akan menjadi menarik, minimal di masa depan.
Hal kedua adalah efek fotografi. Foto detasemen 88 melakukan simulasi penanggulangan terror menjadi menarik karena efek geraknya dibuat ekstrem. Dalam pameran foto yagn pernah dibuat kompas, foto tersebut sangat mengundang orang untuk berhenti, sedangkan pada foto lain orang cenderung melihat sambil lalu.
Hal ketiga adalah sesuatu yang luar biasa. Dalam sebuah seminar tentang fotografi jalanan (street photography), foto wanita Bali membawa botol di atas kepalanya sambil naik sepeda motor adalah foto yang mengundang orang tertawa keras dan memintanya untuk melihat ulang.
Hal keempat adalah tentang realitas yang berbeda dengan apa yang teliaht. Foto dnenga judul “Bukan Arnold Schwarzenegger” tentu memancing orang melihat fotonya dan membaca teksnya. Lyndall Grant yang menjadi pemeran pengganti Arnold memang sangat mirip dengna bintang The Terminator tersebut. Foto itu menjadi menarik karena orang melihat Arnold, tetapi judul fotonya “Bukan Arnold”.
Dan, hal kelima adalah “pembatasan informasi”. Foto Pemimpin Palestina Yasser Arafat buatan tahun 2003 ini banyak mengundang komentar pembaca karena tidak menampilkan bagian bawah wajah Yasser Arafat, tetapi jelas bahwa foto itu foto Yasser Arafat. Pembuatan foto dengna penghilangan bagian yang sudah di mengerti pemcaca” hanay bisa dilakukan pada sedikit hal: orangnya sangat terkenal dengan ciri yang sangat khas.
Fotografi memang selalu membuka peluang visual. Kemampuan seorang fotografer untuk “mengolah” apa yang dilihatnya sebelum memotret akan sangat memengaruhi hasil pemotretannya.
[*/CCblogspot.com  dari Sumber : Kompas, Selasa, 18 Oktober 2016 ]

DESCRIPTION: Fotografi memang selalu membuka peluang visual. Kemampuan seorang fotografer untuk “mengolah” apa yang dilihatnya sebelum memotret akan sangat memengaruhi hasil pemotretannya
KEYWORDS: foto jurnalistik,memahami foto, foto yang menarik,efek fotografi.
Excerpt : Fotografi buat saya bukan melulu mengenai merekam gambar yang mengharuskan tercapainya focus agar mendapatkan gambar yang tajam. Fotografi adalah sebuah perjalanan yang tak akan selesai, jika kaidahnya hanya diukur dari pencapaian teknis, maka berarti kita telah mematikan jalan panjang fotografi.
TAGS : Lyndall Grant,Detasemen 88,Wanita di Bali,Pemimpin Palestina.  


# Lyndall Grant, seorang perancang taman berusia 49 tahun, akhirnya berprofesi sebagai tiruan Arnold Schwarsenegger yang merupakan Gubernur California karena kemirpan wajahnya. Gajinya sebagai pemeran pengganti Arnold pada kegiatan-kegiatan yang tidak dihadiri Arnold asli adalah 400 dollar AS per jam. Foto dibuat pada 29 Oktober 2003



#Detasemen 88 Anti Teror Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya melakukan simulasi pengamanan dari ancaman teroris di Gereja St Yohanes Penginjil, Jakarta, Jumat (22/12/2006). Simulasi tersebut merupakan bagian dari persiapan pengamanan Natal dan Tahun Baru 2007.



#Wanita di Bali senang membawa apa pun dengna kepala mereka, bahkan saat naik sepeda motor sekalipun.




#Pemimpin Palestina Yasser Arafat difoto pada 15 September 2003

Kamis, 25 Oktober 2018

Kiat Memanfaatkan “Flare”

YANG disebut flare pada lingkup fotografi adalah cahaya “liar” yang ikut memengaruhi hasil foto kita, tampak di foto sebagai bekas berkas putih baik dalam bentuk garis maupun bidang. Flare muncul akibat cahaya kuat yagn datangnya nyaris menghadap kamera.
Flare bisa dianggap gangguan sehingga ada banyak upaya menanggulanginya, misalnya dengan pemasangan lens hood atau sejenis kerudung di depan lenasa. Namun, pada suatu keadaan tertentu, flare sama sekali tidak bisa dilawan manakala kita memakai lensa superlebar, misalnya 10 mm sampai dengan 20 mm.
Foto-foto di halaman ini semuanay menadnung flare yang jsutru menjadi elemn penting dair foto-foto tersebut. Flare adalah pembeda antara imaji nyata dan imaji fotografis. Banyak film-film bioskop juga memanfaatkan flare untuk efek-efek artistic.
Mata manusia sebenarnya sama dengan kamera, artinya kita juga akan menangkap flare kalau kondisinya sama. Namun, saat flare terjadi di mata kita, manusia normal akan menutup mata karena cahaya kuat selalu menyakitkan. Akibatnya, mata normal hampir tak pernah menyaksikan flare.

Atur penempatan flare sedemikian rupa sehingga menjadi elemen foto yang menguatkan. Pilih posisi flare agar harmonis dengan komposisi fotonya.

Sabtu, 20 Oktober 2018

Memahami Fotografi dengan FPS Tinggi

SAAT perusahaan Olympus mengeluarkan kamera EM1 Mark 2 tipe mirrorless (tanpa cermin) pada awal November lalu, banyak orang bertanya-tanya untuk apa kemampuan rekam dengan kecepatan bingkai yang begitu tinggi. Seperti diberitakan, kamera itu mampu merekam dengan kecepatan bingkai sampai 60 bingkai per detik alias 60 FPS (frames per seconds).
Saat ini, kamera DSLR (digital single lens reflex) hanya mampu merekam gambar sampai 14 FPS. Adanya cermin yang berayun pada DSLR menyulitkan kamera tipe ini untuk bisa merekam dengan FPS lebih tinggi lagi. Sementara itu, rata-rata kamera mirrorless sudah bisa merekam foto dengan kecepatan sampai sekitar 2-fps. Tetapi, sampai 60 fps, sungguh orang lalu bertanya: untuk apa?
Merekam proses
Sesungguhnya, kebutuhan akan merekam dengan fps sangat tinggi sudah dibutuhkan orang sejak dahulu. Kebutuhan ini umumnya menyangkut proses penelitian akan sesuatu yang bergerak. Dalam bidang olahraga, analisis dengan proses stroboskopik, yaitu pemotretran dengan pencahayaan khusus, sering dilakukan untuk mengamati kesalahan-kesalahan gerak atlet.
Di halaman ini terpasang sebuah foto stroboskopik tentang gerakan seorang pemain golf dalam memukul bolanya. Foto jenis inilah yang disebut foto stroboskopik yang merekam aneka gerakan dalam atu bingkai melalui pencahayaan yang berkali-kali dalam waktu singkat.
Sesungguhnya, kemampuan rekam Olympus EM1 Mark 2 itu sangat berguna untuk mengamati gerak seperti yang saya coba saat memotret kejuaraan berkuda ekuisterian cinta Indonesia Terbuka di kompleks berkuda Adria Pratama Mulya, Cikupa, Banten, akhir pekan lalu.
Gerakan kuda melompat dari mulai meninggalkan tanah sampai menjejak tanah lagi terekam dalam 80 bingkai foto. Dari rangkaian foto-foto itu terlihat bagian kaki kuda mana yang menyentuh palang lompatnya.
Dulu orang memakai video untuk merekam gerak, tetapi video yang dibekukan umumnya merupaka nfoto yang tidak bermutu tinggi. Dalam kasus pemotretan fps tinggi ini, tiap bingkai fotonya merupakan foto resolusi tinggi alias berukuran 5.184 x 3.888 piksel alias sekitar 20 megapiksel.
Keunggulan pemotretan dengan fps tinggi seperti ini adalah tiap gerakannya ada dalam bingkai tersendiri, tidak menumpuk seperti pada foto stroboskopik. Selain itu, pemotretan fps tinggi juga tidak memerlukan pencahayaan khusus, bahkan bisa berlangsung di tempat terbuka dan terang.
[*/CCblogspot.com  dari Sumber : Kompas, Selasa, 15 November 2016 ]

DESCRIPTION: Fotografi memang selalu membuka peluang visual. Kemampuan seorang fotografer untuk “mengolah” apa yang dilihatnya sebelum memotret akan sangat memengaruhi hasil pemotretannya
KEYWORDS: FPS,frame per second.
Excerpt : Fotografi buat saya bukan melulu mengenai merekam gambar yang mengharuskan tercapainya focus agar mendapatkan gambar yang tajam. Fotografi adalah sebuah perjalanan yang tak akan selesai, jika kaidahnya hanya diukur dari pencapaian teknis, maka berarti kita telah mematikan jalan panjang fotografi.
TAGS : Olympus EM1 Mark 2,foto stroboskopik,

# Sebanyak 80 foto berurutan sejak kuda mulai melompat sampai mendarat lagi di tanah, termasuk jatuhnya palang halangan, terekam dalam foto-foto yang masing-masing 20 MP.
#Foto terakhir dari rangkaian pemotretan kuda melompat berukuran 20 Mp.

#Sebuah foto stroboskopik merekam gerakan seorang pemain golf dalam satu bingkai foto. Guna foto jenis ini adalah untuk menganalisis gerakan pemain golf tersbut.